Bab 23 - Menjalankan Hukuman

1518 Kata
Krystal menopang dagu bosan. Jaehan di sampingnya sibuk membolak-balikkan buku. Gadis itu menatap Giiz yang juga melakukan hal yang sama, yaitu asik membaca buku. Dia duduk di samping Kaezn, sesekali tampak tertawa sambil memukul bahu Kaezn, ciri khas Giiz jika sedang tertawa. Krystal mengembuskan napas panjang. Dia pun membaca novel yang dia pinjam barusan. Mengenai kotak silver yang dititipkan Lais sudah diterima Jaehan. Laki-laki itu hanya menaruhnya dan tak berniat membukanya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Jaehan dengan pandangan fokus di bukunya. Krystal mengangkat kepalanya, dia menatap Jaehan, lalu mengedikkan bahu meski laki-laki itu tak akan melihatnya. "Baik." Krystal menjawab seadanya.  Jaehan mengangguk mengerti. "Krys ...." "Ya?" "Kapan kau mengembalikan jaketku?" Sontak Kaezn dan Giiz langsung menatap mereka berdua. Krystal spontan menendang kaki Jaehan di bawa meja.  Berselang beberapa detik, Kaezn dan Giiz kembali berkutat dengan bukunya, seolah-olah tidak mendengar pertanyaan Jaehan. Krystal dapat melihat jika Giiz tengah menahan senyum. ********* Krystal menatap Lais dengan raut datar saat menemukan gadis itu tengah makan apel di meja makan. Di depannya ada Ibu yang tengah mengupas kulit buah-buahan. "Duduk Krys," kata Ibu. Mau tidak mau Krystal menurutinya. Pasalnya dia masih kesal dengan Lais yang seenaknya menitipkan barang padanya dan menyuruhnya melakukan yang tidak dia sukai. Salah satunya memberikan kota tadi ke Jaehan.  "Bagaimana liburan kalian?" tanya Ibu. Lais langsung menoleh ke arah Krystal yang enggan menjawab. "Buruk," jawab Lais dengan nada lesu. Ibu langsung mendongak dan menatap Lais dengan raut penasaran. "Buruk? Kenapa bisa begitu?" tanya Ibu. "Lais sakit saat tiba di villa." Krystal menjawab cepat sebelum Lais sempat membuka suara.  Lais langsung membelalakkan mata tak terima.  "Krys, jangan bohong ya!" kesal Lais. Krystal mengedikkan bahu santai. "Bahkan salah satu temanku harus menggendong Lais ke kamar saat turun dari mobil." Senyum puas terulas di bibir Krystal saat Lais melotot ke arahnya. "Jadi waktu itu kesehatanmu memang buruk, ya, La." Ibu menghela napas prihatin. "Jika tau begitu, aku tidak akan mengizinkan kalian pergi ke villa." "Sudah terlanjur Bu," kata Krystal sambil memasukkan sepotong mangga ke mulutnya. Tidak peduli dengan Lais yang tengah menahan kesal. "Tapi cuman sebentar kok. Aku kembali segar setelah tidur. Lain halnya dengan Krystal ...." Lais sengaja menggantung ucapannya sambil tersenyum miring. "Krystal?" Ibu menatap Krystal, lalu beralih ke Lais. "Kenapa dengan Krystal?" "Moodnya sangat jelek. Kami tidak tau dia kenapa, tiba-tiba saja dia memaksa kita agar segera pulang," kata Lais dengan nada menggebu-gebu. Krystal tak menanggapinya. Buah yang dikupas ibu jauh lebih menarik dari pada kebohongan Lais. "Kamu ada masalah, Nak?" tanya Ibu. Krystal mengerjap, lalu menggeleng. "Sesuatu terjadi di villa itu—" "Apa yang terjadi?" potong Ibu penasaran sekaligus khawatir. Krystal menggeleng, seolah berkata semuanya baik-baik saja. "Bukan apa-apa, Bu. Lagi pula kami baik-baik saja kan?" Ibu langsung melemaskan bahunya yang sempat menegang. "Lain kali jika kau ingin pergi berlibur, cobalah untuk mencari tau terlebih dahulu seluk-beluk tempatnya. Jangan asal memilih tempat, apa lagi secara mendadak," kata Ibu penuh penekanan. Krystal mengangguk patuh. Lagi pula yang dikatakan ibu sangat benar. Bagaimana pun juga kejadian di villa beberapa waktu lalu itu meninggalkan bekas berarti diingatan Krystal. Hingga detik ini dia masih penasaran dengan orang-orang itu.  "Sekarang kau puas?" sungut Lais saat Ibu ke ruang tamu untuk mengangkat telepon. Krystal menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk mantap. Semakin menyulut kekesalan Lais.  "Cih ... bagaimana dengan titipanku? Kau sudah memberikannya pada Jaehan, kan?" "Sesuai dengan harapanmu." Lais langsung menghela napas lega. "Lalu, Jaehan bilang apa?" tanyanya penuh harap. Krystal langsung berhenti mengunyah sambil menatap Lais. Laki-laki itu tak mengatakan apa pun.  "Dia tak mengatakan apa pun." Krystal menjawab seadanya. Suara sendok dan piring beradu keras membuat Krystal memejamkan matanya sejenak. Inilah salah satu yang tidak dia sukai dari Giiz, gadis itu terlalu cepat tersulut emosi dan mudah bertindak gegabah. "Argh. Aku sudah tidak tau cara mendekatinya. Kau tau sendirilah kan Krys? Aku sudah terbiasa didekati dibanding mendekati," ucap Lais dengan nada frustasi. "Saranku kau fokus saja dengan sekolahmu," kata Krystal dan dibalas raut malas oleh Lais. ******** Lagi dan lagi, Ibu menelpon Krystal dengan tujuan yang sama, yaitu meminta Krystal agar mengantar barangnya yang tertinggal. Tanpa membuang waktu lebih lama, Krystal langsung memesan taksi online menuju kafe tempat ibunya bertemu dengan teman-temannya. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.  Ibu langsung menghampiri Krystal saat mendapat pesan dari putrinya itu. "Tidak mau bertemu dengan teman-teman ibu lagi?" tanya Ibu memastikan kembali saat Krystal lagi-lagi menggeleng. Akhirnya ibu mengangguk mengerti. Krystal melirik arlojinya. Jarum jam baru menunjukkan angka delapan, sepertinya tidak ada salahnya jika dia duduk sebentar di dalam sana sambil menikmati bubble drink. "Bu, aku boleh masuk? Maksudku ... aku sendirian, tidak bergabung dengan ibu." Ibu menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk mengerti. "Ibu paham, kamu butuh waktu untuk dirimu sendiri. Have fun baby." Setelahnya Ibu masuk lebih dulu. Tinggal Krystal yang tengah menunggu kedatangan Giiz. Tadi dia mengirim pesan ke gadis itu memintanya untuk datang. Krystal mengetuk-ngetuk ujung sepatunya sebagai peralihan dari rasa bosa. Dia pun memesan bubble drink sembari menunggu kedatangan Giiz. "Aduh maaf ya. Sepertinya kau sudah menunggu lama ya?" ucap Giiz sambil duduk di hadapan Krystal. Meja bundar sebagai sekat. "Setengah jam," ucap Krystal. "Ah hanya sebentar," kekeh Giiz. Tidak lama kemudian, ke duanya larut dengan makanan yang dipesan.  Sambil menikmati makanannya, Giiz bermaksud merekam momen mereka hari ini. Dia lantas mengarahkan kamera ponselnya pada Krystal, akan tetap sesuatu di belakang gadis itu membuatnya langsung mengangkat kepala dan menatap objek itu. "Ada apa?" tanya Krystal. Giiz menempelkan telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan agar menjaga volume suara.  "Ada apa?" tanya Krystal lagi sambil berbisik. Lais menunjuk ke arah belakang. Krystal langsung menoleh dan mendapati kehadiran seseorang yang dia kenal tengah bersama seorang wanita. "Kukira apa," ucap Krystal santai sambil menyesap minumannya. Giiz mencondongkan tubuhnya sambil mencuri-curi pandang ke arah meja dua orang itu. "Kira-kira siapa wanita itu?" Krystal mengangkat bahu. "Mungkin pacarnya." Giiz berdecak. "Ck. Jangan membuatku patah hati secepat ini." Krystal tercenung. Sebenarnya bukan hal biasa lagi baginya saat melihat Jaehan tengah bersama wanita. Karena dia beberapa pernah memergoki laki-laki itu tengah bersama seorang guru di MSS. "Mereka terlihat seperti sepasang kekasih." Krystal menoleh sekilas. Benar saja, Jaehan tengah membersihkan sudut bibir wanita itu. Jaehan tampak tersenyum manis, sedangkan wanita yang bersamanya itu tersenyum malu-malu dengan pipi memerah. Krystal mengernyitkan geli. Begitu pun dengan Giiz. "Nafsu makanku mendadak hilang." Giiz menyandarkan tubuhnya dengan raut lesu. "Ngomong-ngomong, Jaehan terlihat lebih dewasa ya malam ini? Dia tak terlihat seperti anak sekolahan."  "Menyesuaikan dengan pasangannya mungkin." Krystal menjawab seadanya.  ******** Usai dari kafe, Krystal pulang sendirian saat jarum jam menunjukkan angka sebelas malam. Sedangkan Ibunya masih ada kegiatan bersama teman-temannya. Saat turun dari mobil, Krystal merasakan ada mata yang mengamatinya dari kejauhan. Namun kala mengedarkan pandangan, Krystal tak melihat sesuatu yang mencurigakan. Akhirnya Krystal membuka pintu rumah terburu-buru lalu masuk dan menguncinya. Krystal menyandarkan tubuhnya di belakang pintu sambil menarik napas panjang dan mengembuskanya secara perlahan. Kejadian di villa tempo lalu membuatnya parno dan masih dibayangi ketakutan. Keadaan rumah gelap gulita, kebiasaan yang selalu diterapkan ibunya jika sedang keluar. Biasanya lampu yang dinyalakan hanya bagian teras dan belakang. Selebihnya mati. Setelah menyalakannya kembali, Krystal melangkah menuju kamarnya. Akan tetapi sesuatu yang janggal terasa di belakangnya. Krystal langsung menghentikan langkah dengan jantung bertalu. Ke dua tangan Krystal mengepal erat. Gadis itu langsung memutar tubuhnya dan menggenggam tangan yang tiba-tiba menyentuh lehernya. "Aaakhhhh! Apa-apaan sih!" Krystal membuka matanya dan menatap tangan yang dia pelintir. Sadar jika itu tangan Lais, dia pun langsung melepasnya. "Kau mau mematahkan tanganku ya?" kesal Lais dengan mata berkaca-kaca. Dia memijit tangannya yang ngilu karena Krystal. Krystal menggaruk tengkuknya.  "Sakit tau!" sungut Lais. Tanpa berkata-kata, Krystal menarik Lais agar duduk di kursi meja makan, lalu mengambil es batu dan memasukkannya ke kain bersih, kemudian mengompres pergelangan gadis itu. "Kau dari mana saja sih? Aku lelah menunggu!" Lais mencebik sebal. "Aku pun merasa takut, seperti ada yang memperhatikanku," lanjut Lais sambil menekan-nekan lengannya. Gerakan Krystal mengompres pergelangan Lais pun terjeda. Jadi bukan perasaannya saja jika di sekitar rumah mereka ada yang aneh? Seperti ada yang mengamati Krystal dari kejauhan. Persis seperti yang dia rasakan saat di sekolah. Beralih di tempat lain, ada Jaehan yang usai menjalankan hukumannya dengan cara memberikan hukuman pada manusia yang tak memiliki hati nurani. Cukup mudah, dia hanya perlu mendekati kaki tangan buruannya, lalu menangkap mereka dan memberikannya pembelajaran. Seperti wanita tadi. Dia cukup mudah ditaklukkan dan melakukan perannya dengan baik sebagai alat Jaehan. Tentu tanpa wanita itu ketahui. Setelah semuanya selesai, barulah Jaehan memperkenalkan diri sebagai dirinya sendiri tanpa samaran, kemudian menghapus ingatan gadis itu yang menyangkut tentangnya dan mengalihkannya sebagai mimpi buruk. "Melelahkan," ucap Jaehan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya.  Di sampingnya ada Kaezn, sedangkan di belakang ada Edgar. Laki-laki gondrong itu tengah tertidur pulas karena menunggu Jaehan selesai dengan buruannya. "Gadis itu kembali datang." Kaezn membuka suara. "Lais?" Kaezn mengangguk. "Edgar menanganinya." Laki-laki itu diam sejenak, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Haruskah kami melakukan sesuatu? Dia tipe gadis yang semena-mena. Cepat atau lambat, dia bisa mencurigaimu." Jaehan menggeleng. "Dia umpanku yang selanjutnya. Terus awasi dia." "Musuhmu yang sebenarnya tengah mengincar mereka setiap waktu," gumam Edgar sambil menguap lebar. "Orlan." "Orlan?" ulang Kaezn. Jaehan mengangguk sambil tersenyum miring. Orlan. Gumiho yang terobsesi mencari Fox orbnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN