Malam itu Darel mengunjungi markas pendulang rupiah. Tempat yang sedang dilahirkan ulang. Ia memanggil Rizam untuk diajak diskusi. Suasana begitu dingin dan lengang. Semenjak kafe merobohkan bangunan, parkir mereka senyap, padahal sebelumnya selalu ramai. Alunan melodi klasik maupun modern sedang ambil cuti, digantikan dering jangkrik pada semak-semak. Pohon trembesi dijadikan sarang persembunyian embun yang senja tadi mengistirahatkan hujan. "Zam! Aku baru saja dilecehkan oleh Maila!" "Hahaha. Mana berani, kupikir dirimu yang melecehkannya," Rizam kurang yakin dengan berita yang dibawa Darel. Mereka mendorong pintu asbes, menginjak ubin yang lantainya retak. Material tertumpuk rapi, pasir masih menggunung, pondasi mulai berdiri, sementara hujan datang tanpa salam, membuat para peker

