Salah Sangka

1788 Kata

Hujan sungguh membawakan kerinduan musim basah bulan ini. Warna-warni jas penghalau air bergerilya menghiasi jalanan. Dengung kendaraan tak mau kalah dengan rintik hujan yang membentuk bunga-bunga cair tumbuh di permukaan aspal. Trotoar pun tak mau kalah mengembangkan payung-payung bagi penuntun langkah kaki. Mereka yang membiarkan helai rambut terguyur hujan terpaksa lari pontang-panting sambil memayungi kepala mereka menggunakan jari-jari tangan yang dikatupkan di atas ubun. Air mengalir dari pusat tumbuhnya rambut hingga menjalar lancar menuju muara dagu anak adam. Siang belum purna, namun terang direngut kabut. Jarum detik mengerem langkah pada angka empat belas, waktu perbatasan siang dengan sore, pada saat itulah Maila berdiri di hadapan kafe Darel. Bangunan telah roboh. Dinding di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN