September. Hujan menyapa pagi sebelum anak adam membuka mata mereka. Daun-daun bumi dibasuh embun penuh gigil. Kabut-kabut bergerilya memayungi asbes-asbes pertokoan. Membuat orang enggan gulung selimut, memalsukan keriangan pekerjaan, mewarnai kemalasan menjadi sebuah alasan terselubung. Aroma tanah menguarkan kerinduan pada masa kanak-kanak— orang berlarian menyatu dengan hujan, pamer jeritan tawa, tangan menengadah ke langit, wajah dibiarkan tersiram pasukan air hujan. Maila memandang kesibukan jalan yang alfa dari permukaan jendela, tirai disibak supaya dunia luar bisa leluasa disaksikan mata. Jaket tebal masih memeluk tubuh. Tangannya bergerak merapikan rambut, ia gelung lantas diikat. Udara pagi membuatnya malas berangkat sekolah. Keadaan sudah membaik, detak jantung telah kembali

