Makan Malam

1646 Kata

Rizam kembali ketika detik dinding berhenti pada titik tujuh malam. Kehadirannya disambut omelan dari Darel. Lama sekali ia menunggu, kaki dan pikiran sudah tidak sabar ingin lompat dari kos-kosan. Menghirup udara segar, melihat kondisi di luar kompleks penampungan orang-orang hidup di kampung rantau. Sudah dipastikan penghuni kos-kosan mayoritas berasal dari luar daerah, mereka tidak akan menetap, namun berusaha tetap selama apa yang di ingini belum terpenuhi. Darel menyambar kontak mobil, ia bergegas menuruni anak tangga. "Mau ke mana?" "Apa aku harus diet dengan makan sehari sekali, hah?" kalimat Darel yang sinis menunjukkan lokasi yang akan dituju. "Oh," desis Rizam sambil membanting tubuh ke atas kasur. "Pergilah! Aku titip nasi lamongan, ya?" Darel tidak menggubris. Malam t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN