Darel pulang tanpa sepengetahuan Maila. Setiba di kafe ia dikejutkan oleh sosok yang tidak biasanya datang ke kafenya. Papan bertuliskan Indocafe menjadi suram dan buram karena tatapannya. Ia menghadap ke roling door yang tertutup. Kedatangan mobil Darel membuatnya membalik punggung. Seseorang wanita begitu karismatik, senyum menawan penuh godaan—mungkin! Sepatu hak tinggi, rok sebawah lutut dengan baju dan kardigan cokelat s**u, tidak lupa kaca mata. Rambut cokelat bergelombangnya diayun oleh angin. Ia melepas kaca mata, demi menyambut kehadiran Darel yang dinanti. "Maaf, kafe buka empat jam lagi," kata Darel sinis. Ia mengambil langkah menuju pintu biasanya. "Apakah kamu masih menganggap Mama orang lain, Rel?" "Mama saya sudah berbatu nisan, Anda bukan mayat hidup kan?" Darel mem

