Malam bertamu secepat gelombang ombak pecah di pantai. Kesibukan hari tak terhitung bagaikan hamparan pasir. Mustahil diketahui muaranya. Begitulah Maila, pekerjaan hari ini kelar, esok nanti akan ada agenda baru yang menantikan otak juga jari-jemarinya berpikir. Ia mentransfer jejak-jejak napas dalam setiap lembar kalender yang telah dijadwalkan. Meski hanya menjabat sebagai Operator Sekolah tingkat nol, tapi tugas mengejarnya secepat gerak gerbong-gerbong kereta. Manik mata cokelatnya menatap langit-langit kamar, noda hitam karena debu berkarak dijadikan bintang-bintang, seekor cahaya bulan anyaman anak manusia menggantung di pusar ruang. Ia bertanya-tanya pada embus angin yang menggoda gorden-gorden jendela, ventilasi kamar membuat udara lancang masuk. "Kalau di sekolahan hanya ada d

