Langit berkabung, ada selaput mendung yang membuat perih terasa digulung-gulung. Orang-orang berkeliaran seperti anak burung pulang ke sarang masing-masing, penuh penat dan letih tak terbilang, meski perut mereka kenyang. Anak-anak adam itu tidak lapar, haus pun jauh dari tenggorokan, mereka mengobral obrolan di meja-meja makan, di emper angkringan, di depan gerobak penjual bakso, juga di kafe-kafe temaram. Sebagian duduk di sudut-sudut bangku taman pusat kota. Saling gurau, dan gandeng kenangan, senasib dengan Darel.
Waktu telah jemput pekat malam, senja pamit satu jam lalu, matahari bersinar di negara lain, sementara dirinya masih enggan memulai pergerakan. Sejak pulang dari pemakaman, ia mampir di taman, menatap permukaan kolam yang memantulkan tubuh bulan. Dingin memeluk kelopak-kelopak teratai sementara daunnya sebagai tempat singgahan seekor katak. Darel mengulum kengerian hidup di masa mundur. Ia menggerutu dan melempar kedengkian ke dasar kolam.
Wajah Maila beserta kedua orangtuanya mengapung di permukaan kolam, terlihat jelas sebab pendar cahaya taman yang tersusun rapi di pinggir jalan bekerjasama menerangi area taman. Ia juga tidak melupakan biji-biji bunga matahari, bahkan ia juga ingat kejadian tempo lalu saat Maila menolongnya secara tidak langsung dengan memanggilkan tukang bengkel. Diam-diam ia mengakui kebaikan Maila, meski ketus dan terkesan menyebalkan, namun Maila sosok yang dianggapnya profesional. Dirinya iri dengan keutuhan kehidupan keluarga Maila.
"Kafe ramai, Rel! Kemana saja hari ini?" Sebuah pesan dari Rizam masuk. Ia membaca tanpa memberi jawaban. Malam ini pikirannya sedang tidak ingin berhubungan dengan suasana kafe.
"Iya, Bu. Sebentar lagi aku pulang," sebuah suara dari belakang terdengar mendekat.
"Berani dong! Kan sudah biasa pergi, Bu." Kalimatnya mengusik ketenangan permukaan danau, katak yang semula bermalas-malasan di daun teratai kini lompat, masuk ke dasar kolam. Seorang perempuan, tanpa ungkap permisi tetiba duduk di bangku sebelah Darel. Jari-jari kirinya mengangkat tas selempangan, diletakkan di pangkuan saat lututnya berhimpitan, sementara tangan kanannya memasukkan airphone ke telinganya. Hening. Tapi dagu perempuan di sampingnya mengangguk-angguk sejenak, lantas beberapa menit selanjutnya pandangan mata perempuan itu lurus, mengamati lekuk tubuh teratai dibilas cahaya rembulan. Ia angkat ponsel, mengabadikan dengan kamera, menyimpan ke galeri, kemudian melihatnya ulang dengan seikat senyum.
"Dunia ini begitu indah," bisiknya pada angin malam yang dijadikan sebagai rekan.
"Hei!" Darel gemas, ia merasa terusik, "Pergi dari sini!"
Perempuan itu menoleh, lagi-lagi takdir tidak mengijinkan malam itu hanya dinikmati kesendirian Darel.
Perempuan itu tidak mendengar, telinganya sibuk mengantarkan ketajaman malam dengan lagu-lagu lokal. Bibirnya bersenandung mengikuti setiap bait melodi yang terdengar. Ia tidak memperhatikan kegeraman Darel, laki-laki yang sebenarnya sudah sangat dirinya kenal.
"Maila! Pergi dari sini!" umpat Darel dengan nada suara tinggi. Giginya bergemeletuk setelah ucap kalimat penuh amarah.
Kali ini gendang telinga Maila seperti diketuk tanpa hormat, airphone dilepas, ia setengah mendelik menyadari Darel sudah berada di sisinya, di bangku yang sama.
"Astaga! Takdir macam apa yang sedang digariskan Tuhan padaku? Tidak esok tidak malam, selalu saja dirimu mengganggu!" seloroh Maila.
"Terserah! Pergi!"
"Taman ini milik walikota bukan milikmu!"
Ada sebersit ingatan yang melintas dalam pikiran Maila. Membuat bibirnya reflek bersuara lantang. "Di mana flashdiskku? Kembalikan!"
Darel mengurut emosinya, ia tarik napas pelan-pelan. Ribut dengan Maila akan membuat suntuk hari ini bertambah. Mengenai Maila yang mengembalikan topik masa lalunya ia tanggapi dengan kepala dingin.
"Ada di kafe–" ungkapnya agak lirih. Kolam yang kembali tenang dipandangi.
"Aku ambil saat ada kegiatan di dinas pendidikan." Maila menjawab lembut, suaranya kali ini tidak terdengar ngotot. Ia membaca rona wajah Darel yang tidak seperti hari-hari kemarin, sangat jelas bahwa laki-laki itu sedang malas diganggu. "Ada hal berat?" meski tidak suka sikap Darel selama ini, tapi malam itu ia tidak tega, Darel seperti bocah cilik yang tersesat dari pelukan ibunya. Apalagi, ia ingat ayah Darel yang dulu menampar di depan kafe. Pemuda tampan itu ditebak sedang dirundung masalah.
"Bukan urusanmu! Urus saja semua tanggung jawab yang kau elu-alukan!"
"Ayahmu akan sangat kecewa jika dirimu selalu keras kepala seperti ini." Maila membuka pintu kehidupan Darel. Ia berusaha menyelam.
"Tahu apa kau dengan kehidupan papaku?"
"Aku hanya tahu dia pernah menjadi tulang punggung, dan tanpanya kau tidak bisa lahir ke dunia ini!"
"Kau tahu, Maila?" Darel memajukan wajah, ia mendekatkan tubuhnya kepada Maila supaya gadis itu mampu mendengar suaranya jelas. "Aku menyesal karena lahir dari darah daging pria yang kau kata menjadi darah dagingku!"
"Jangan terlalu dominan dalam menilai keburukan, Rel! Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi sejelasnya aku yakin, ayahmu ... maksudku papamu pasti pernah menyayangimu!" Maila coba meluruskan.
"Apa hubunganmu dengan keluargaku? Kau tidak perlu ikut campur pada kehidupan pribadiku!" gertak Darel. Jari-jarinya meremas pinggiran bangku taman. Otot-otot tangan dan leher tetiba tegang. Napasnya memburu cepat, seperti yang sudah-sudah ia mudah marah.
"Orang akan menjauh jika tahu karaktermu seperti ini, Rel!"
Ia merasa tersindir, karena benar sahabat dekatnya hanya Rizam, selain itu karyawan lebih takut dari pada menaruh hormat.
"Aku tidak butuh penilaianmu, Maila! Yang kubutuhkan sekarang adalah kepergianmu!" Usir Darel sambil menunjuk wajah Maila dengan ujung jari telunjuk. "Angkat kakimu dari tempat ini!" paksa Darel.
Maila menelan getir, Napas mendadak terasa sesak. Ia tersentak dan heran dengan sikap Darel yang begitu keras. Rasa simpati dengan wajah Darel sangat ia sesali. Harusnya ia tidak peduli, membiarkan lelaki itu dirundung pedih sendirian. Simpatinya sebagai manusia sosial justru membuatnya rugi. Tubuhnya mendadak lemas. Andaikan seusai dari perpustakaan ia langsung pulang, pasti tidak akan begitu jadinya. Pertemuan dengan Darel tidak akan terekam sejarah. Ia kelu karena membiarkan pantatnya duduk di bangku depan kolam. Sungguh tepat jika tadi pilihannya pulang, bareng dengan Gilang!
Ada sakit yang menjalar di d**a kiri. Ia berkali-kali mengatur napas dengan menarik kuat-kuat, dan mengembuskan pelan. Ponsel dimasukkan ke tas selempangnya, kali ini tangan kanannya memukul-mukul d**a kiri lebih lembut.
"Jangan selalu membuat orang lain merasa kasihan saat melihatmu!" cibir Darel. Tidak ada empati yang diberikan kepada Maila. Ia beranjak dari bangku, meninggalkan katak yang berenang entah ke mana, mengabaikan tatapan sangsi kelopak-kelopak teratai, dan keceriaan neon di pinggiran jalan mendadak terlihat redup.
Kalimat Darel sangat memukul Maila.
"Aku akan segera mengembalikan flashdiskmu supaya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bertemu." Darel mengakhiri obrolan. Ia berjalan tegas menuju parkiran.
Maila merasa kepalanya pening. Asupan oksigen ke otak mulai berkurang. Ia berusaha menetralisir perasaan tapi tetap gagal, tubuhnya justru bertambah lemas. Ingatan kesewenangan-wenangan Darel berkelebat di depan layar malam. Ia kembali benci. Gegara Darel pekerjaannya berantakan.
"Kondisiku tidak boleh terpengaruh oleh pria beraroma kopi itu! Dia bukan orang penting bagiku! Aku akan sangat rugi jika sampai sakit gara-gara dirinya!" ucap Maila pada kelopak-kelopak teratai yang setia menemani. Malam bertambah gelap, keceriaan taman lenyap, hening merambat membuat pengunjung ucap perpisahan tanpa salam.
***
Rizam mengusap keringat yang membutir jagung di kening sampai leher. Keadaan kafe riuh dan ramai oleh obrolan-obrolan panjang anak muda membuatnya lelah. Berkali-kali mulutnya bersungut-sungut karena Darel tak kunjung datang. Rizam mengomando para barista dan waiter agar bisa bekerjasama lebih kompak tentunya lebih cepat. Nyaris tidak ada kursi kosong. Gelas-gelas kotor, piring-piring ternoda. Cemilan ludes. Moccacino, Coffe late, Kopi s**u, dan Kopi hitam, menjadi menu favorit malam itu. Pukul sepuluh malam, pengunjung bertambah bising. Kafe Darel seumpama remah roti yang sedang dikerubungi semut.
Anak-anak muda saling bincang, tukar-menukar senyuman, dan silang kisah-kasih asmara. Banyak yang ungkap kepiluan cinta monyet mereka. Kesemuanya menjadi racikan kopi pelipur lara. Darel seolah membiak rerimbunan tawa pengunjung ketika langkahnya bergerak kaku penuh hentakan di lantai. Melodi penghias hening mendadak terdengar aneh, kedatangan Darel membingkiskan aura seram bagi mata-mata pemuda yang sedang membuang kasmaran.
"Kenapa kalian lelet sekali? Cepat! Jangan sampai ada pengunjung antri panjang!" Gertak Darel tiba-tiba. Sungguh ironi sikapnya, mereka sedikit melambankan tubuh karena lelah berjam-jam lalu terus bergerak seumpama mesin penggiling kopi. Keringat-keringat yang menetes menjadi saksi keseriusan dan pengabdian mereka di kafe itu. Sayang, Darel buta, tidak mampu membaca ekspresi fisik para karyawan.
Seperti biasa, Rizam menengahi, ia khawatir waiter maupun barista akan angkat kaki diam-diam jika emosi Darel tidak disurutkan.
"Masuk ke basecamp!" Rizam menyebut ruang pribadi Darel dengan sebutan basecamp. "Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," lanjut Rizam antusias.
Semua karyawan kembali pada tanggung jawab masing-masing. Ada yang bertugas sepenuh hati, ada pun yang berkasak-kusuk atas sikap Darel yang pulang mengoleh-olehi komentar.
"Dari mana saja kamu, Rel? Tega kamu sama anak buahmu sendiri? Mereka dari tadi kerja keras! Kamu menghilang seolah lari dari tanggung jawab! Pulang nyerocos begitu saja tanpa peduli perasaan mereka!" oceh Rizam sambil berkacak pinggang. Ia berdiri di mulut pintu, memandang fokus pada setiap gerakan fisik Darel. Pemuda yang di hadapannya itu melemparkan tubuh beserta penatnya ke kasur, ia mengambil ponsel, mengusap layar. Benda bercahaya itu diangkat di depan wajah.
"Apa salahnya aku menegur? Toh mereka makan dari hasil kafeku juga!" timpal Darel tanpa emban dosa.
"Terserah kau mau ngomong apa. Yang jelas dari mana saja kamu seharian ini?"
Darel tidak peduli setiap helai kata yang diurai oleh Rizam. Ia merogoh kantong celana, mengambil beberapa biji bunga matahari yang masih tersisa. Ponselnya diletakkan di atas kasur, sementara tubuhnya bangkit mendekat pada Rizam.
"Tunjukkan tanganmu!" perintah Darel sewenang-wenang.
"Mau apa? Mau pukul aku?"
"Aku bilang tunjukkan tanganmu! Jangan banyak bicara!" Darel mulai menaikkan oktaf suaranya. "Aku pergi memburu nyawa!" seloroh Darel begitu saja. Telapak tangan Rizam ditarik, ia meletakkan biji-biji bunga matahari di atas permukaan tangan Rizam, satu biji melesat jatuh ke lantai.
"Kau suruh aku makan kuaci?"
"Taburkan biji ini ke dalam pot! Aku ingin dia tetap hidup apa pun caramu!" paksa Darel. Kening Rizam berkerut-kerut tidak paham.