Pukul dua pagi, Darel masih juga belum bisa pejamkan mata. Kepala bergerak liar pada wajah Maila yang tadi menahan sakit. Hati kecilnya merasa bersalah karena telah memberi bentakan kasar pada perempuan itu. Pertanyaan-pertanyaan asing terungkap pada dinding tembok yang mulai menyepi. Suara bising di luar ruangan berangsur hilang. Karyawan sedang siap-siap menutup kafe, sebagian menyapu lantai, mengangkat kursi untuk diletakkan dengan posisi terbalik ke atas meja, ada pun yang mencuci peralatan-peralatan kotor, sementara Rizam menyusun laporan pendapatan hari itu. Ketika semua orang sibuk dengan pekerjaannya, Darel berjalan keluar dengan pandangan kusut. Ia meracik kopi hitam tanpa gula. Kursi yang sudah dibalik diturunkan, ia duduk di meja paling depan. Matanya bergerak menjadi pengawas

