Akhir pekan menyapa lekuk-lekuk pagi di rerimbunan bunga matahari. Jendela kamar dikuak lebar-lebar, mempersilakan udara segar masuk ke kamar Maila. Ia bersih-bersih ruangan. Seperti biasa selimut dilipat, bantal guling ditumpuk rapi. Sementara debu-debu yang berjatuhan di lantai ia sapu. Libur ini ia tak punya rencana selain menimbun kejenuhan di perpustakaan. Maila nyaris menghabiskan waktu hidupnya di antara jutaan halaman buku-buku.
Ibu sedang merumput di luar, ia cabuti gulma-gulma liar, tak rela bunga-bunga mataharinya dikeroyok tentara hama. Ketika ia sedang menyapu rumput-rumput hasil cabutannya, sepeda motor matic memberi klakson isyarat perintah membukakan pintu gerbang. Ibu meletakkan sapu lidi beserta sekopnya sembarang, ia buru-buru menggeser gerbang.
Maila yang mengetahui dari balik jendela bergegas keluar. "Ayah! Kau tidak bilang akan pulang sepagi ini!"
"Kalau memberi kabar, persentasi bahagiamu bisa berkurang," kilah Ilhan— ayah Maila sembari mengurai senyum.
Ayah Maila merupakan mandor pabrik tahu.
"Hahaha, ada-ada saja, Yah! Sehat?" Maila bersimpati. Ia mengekor ayahnya yang memasukkan sepeda motor.
"Tentu, keluarga kita sehat selalu." Kata Ilhan mantap. Pria berkumis tipis dengan pandangan meneduhkan itu merupakan sosok malaikat berhati suci yang selama ini menumbuhkan kasih sayang juga cinta di bawah atap rumah tangga Puput.
Ilhan membelikan Maila dua buku novel karya penulis Jepang. Ia memberikannya sebagai oleh-oleh khusus untuk putri tersayang. Maila merupakan anak pertama dan terakhir. Dulu Puput pernah hamil anak kedua, sayang karena sebuah kecelakaan ia keguguran. Semenjak itu, tak ada lagi janin yang bernaung di rahim Puput. Mereka menerima kenyataan takdir.
Sepeda motor diparkir di halaman rumah, tepat di samping tubuh bunga matahari kesayangan Puput. Kelopak kuningnya mencerminkan keceriaan pagi ini; di mana embun bertengger di permukaan daun-daun, lantas tetangganya melati, ikut mekar memeriahkan euforia esok. Ketika sinar matahari jatuh ke wajah kelopak mawar, bunga-bunga keningkir tidak mau ketinggalan, ia ikut serta menyambut hari dengan memekarkan tubuhnya pula. Beberapa kupu-kupu yang hinggap menggiring langkah-langkah keluarga Maila masuk rumah.
"Apa yang kau bawa, Yah?" tanya Maila tidak sabar melihat jari-jari Ilhan mengapit kantong keresek hitam dan sebuah tas jinjing serupa tanah liat berbahan kardus tipis.
"Buku dan tahu."
"Wah, kayaknya hari ini perpustakaan yang datang ke rumahku. Kalau begitu aku tidak jadi pergi ke perpus daerah,"
"Pergilah, tidak ada yang merugikan dari membaca buku," Ilhan duduk di sofa ruang tamu. Ia letakkan oleh-olehnya di atas meja. Puput bergegas ke dapur, meracik kopi pahit kesukaan suaminya.
Tangan Maila buru-buru membuka tas jinjing dengan cepat, ia keluarkan dua buku fiksi yang baru saja dipinangkan untuknya. Jari-jemari bergerak lincah menyobek bungkus plastik buku. Halaman demi halaman ia bolak-balik, mengamati sekilas gaya cerita sang penulis. Sebuah senyum terbit seindah bulan purnama.
"Kau paling tahu apa mau kepalaku, Yah! Ini keren sekali." Ungkap Maila seraya menggerakkan buku ke kanan dan ke kiri.
Ilhan tersenyum dengan tatapan kosong. Ada pahit yang ditinggalkan. Tetangganya hari itu sedang menyalakan musik barat dengan nyaring. Suara kendaraan di depan rumah juga mengusik gendang telinga. Kokok ayam tetangga beserta gongong anjing peliharaan ikut meramaikan detik waktu. Namun— dari binar mata Ilhan ia ciptakan keheningan paling senyap di penjuru dunia. Pagi yang penuh dengan kegaduhan aktifitas anak adam, mendadak mengheningkan jiwa.
Jika bukan karena hasil pemeriksaan dua puluh tahun mundur itu, Ilhan tidak mungkin mencarikan hobi membaca bagi Maila. Ia ingin anaknya tumbuh bahagia tanpa merasa terbebani dengan sakit yang diderita dari kecil. Bagi Ilhan, membaca merupakan obat jenuh paling ampuh, serta penghibur hati-hati yang dirundung sepi. Ia bermaksud memenuhi ruang pikiran Maila dengan bacaan supaya anak semata wayangnya tersebut tidak sempat memikirkan rasa sakit. Ia juga menyuruh Puput untuk mengajari anak terkasihnya mandiri serta mengelola perasaan sebaik mungkin, supaya di kemudian hari jika ia mendapatkan masalah tidak langsung terpuruk.
Ilhan tidak ingin menyaksikan putrinya terkulai lemas di bangsal rumah sakit dengan alasan tidak sanggup mengontrol emosi.
"Kau belum ke rumah Nina?" Ilhan mengalihkan pikiran pedih.
"Ah aku sangat merindukan gadis cantik itu, tapi aku tidak punya alasan kuat untuk ke rumahnya jika—"
Lalu Ilhan tersenyum.
"Sungguh? Dia sudah di rumah?" Maila menerka-nerka pikiran Ilhan. Ia puas ketika ayah mengangguk yakin. Maila mengambil piring di dapur, menata beberapa tahu asin kemudian keluar rumah. Ia bermaksud membagikan oleh-oleh ayah kepada Nina, sahabat kecilnya. Rumah mereka dekat, sebenarnya bersebelahan hanya disekat sebuah ruko miliknya Pak Mandar.
"Kenapa tidak memberi kabar? Kau sudah melupakanku?" cetus Maila sambil meletakkan sepiring tahu di meja tamu. Ia melihat Nina sedang duduk bersebelahan dengan temannya yang entah siapa, saat itu tak begitu dipedulikan. Maila masuk tanpa ketuk pintu apalagi ungkap permisi. Rumah Nina pagi itu terbuka lebar-lebar, ada aura kegembiraan tak tanggung-tanggung yang diangkut dari tanah orang.
"Oh Maila— how are you, sayangku?"
Nina berdiri, ia bagi hangat rindunya pada pelukan di tubuh Maila. Aroma parfume beradu dengan keringat kecut Maila yang belum diguyur sabun pagi itu.
"Aku baik-baik saja. Kau tambah cantik, Na," seru Maila sambil mengobral kekehan. Wajahnya menuntut cerita-cerita unik dari seberang.
"Kau tambah kurus!"
"Hahahaha!" lalu mereka berdua tertawa.
Ibu Nina turun dari lantai dua, suara hentakan kakinya memantul pada permukaan lantai. Ia menyambut Maila dengan sapaan meriah paling bahagia. Beberapa tahun terakhir Maila jarang melihat Ibu Nina tersenyum seringan tanpa beban hari itu. Rambutnya yang disanggul membuatnya terlihat anggun. Ibu Nina asli keturunan orang Jawa, sementara ayahnya dari suku Sunda. Ayah Nina hari itu sedang dalam perjalanan pulang dari Malaysia. Keluarganya merupakan perantau. Di hari-hari kerja, Ibu Nina bahkan jarang di rumah, ia menghabiskan waktu sebagai dokter di rumah sakit kota sebelah. Rumah berlantai dua dengan gaya minimalis modern itu sering tak berpenghuni, sekalinya dihuni, kebahagiaan dan kegaduhan musik-musik barat beradu menjadi satu.
"Maila! Lama sekali ibu tidak melihatmu, sehat?"
"Seperti yang Ibu lihat, selalu baik-baik saja," tutur Maila.
"Ada banyak cerita menarik yang kubawakan olehmu, tentang guru-guru Finlandia, di sana tidak ada sistem Ujian Nasional, Maila, tapi gila! Nilai mereka tinggi-tinggi!"
"Sungguh?"
Nina mengangguk serius, membuat poninya bergerak maju menutup sebagian kening mulus.
"Wah mantab! Kapan-kapan sharinglah padaku, aku siap menampung seluruh pengalamanmu, bahkan begadang demi suaramu pun aku rela!"
"Ceile, bahasa anak kutu buku!"
Ibu Nina mengambilkan tiga es jeruk dan sebuah kue serabi dari dapur.
Perasaan kesal bercampur aduk dengan sungkan. Kalau saja sedang tidak berada di rumah Nina— orang yang paling berharga dalam hidupnya. Ia tak mungkin menunduk seperti padi gemuk. Suaranya dijahit rapat-rapat. Ia justru berharap Maila cepat keluar. Pergi jauh-jauh kemana pun tidak masalah, yang penting tidak berada di hadapannya, bahkan rela jika bumi mengusir sosok Maila tanpa hormat.
"Kenalkan Maila, dia sahabat SMA-ku,"
Maila baru memperhatikan wajah pemuda yang sedang menenggak es jeruk. Pemuda itu tersedak usai mendengar kalimat Nina.
"Darel?" kata Maila sedikit kelu. Bibirnya sukar menyebut suku kata pria beraroma kopi itu. Ia mengambil napas perlahan sebelum kembali memastikan. Matanya menyipit, sementara kepalanya dimajukan. "Darel?" cetusnya sekali lagi.
"Wah rupanya benar kata pepatah, dunia selebar daun kelor," sambung Nina tiba-tiba. Dua tangannya dikatupkan hingga membuahkan bunyi teratur.
"Ya, ada apa? Jangan melihatku seperti dirimu melihat anjing marah,"
"Bukankah kau memang anjing yang selalu marah?"
Mulailah keduanya adu mulut.
"Gara-gara kamu laptopku rusak!" gerutu Darel. Ia tidak sadar bahwa kerusakan laptopnya dibuat sendiri. Andaikan saja waktu itu Darel tidak membanting benda elektronik tidak bersalah itu, tentu perselisihan mereka sudah pupus sejak kemarin.
"Buanglah sampah pada tempatnya! Jangan sembarang menempatkan kesalahan pada orang lain!" Maila beranalogi.
Nina bingung, "Hei, stop! Ada apa dengan kalian berdua?"
"Nina, dia orang yang menghancurkan data-dataku! Gara-gara dia pekerjaanku terbengkelai!" cerita Maila dengan emosi yang tidak disadarinya.
"Savina! Gadis ini, mengganggu hidupku! Aku tidak pernah tenang semenjak dia numpang di halaman kafeku!"
"Oke, masalah ringan jangan diperlebar! Kalian sudah dewasa," Savina coba menengahi.
"Bisakah aku membiarkannya begitu saja? Sementara data-dataku dia curi?"
"Aku tidak mencurinya, Maila! Aku memindahkannya!" bantah Darel.
"Kalau dipindah, sekarang di mana salinannya?" protes Maila. Ia butuh bukti bukan omong kosong.
"Di—" Darel kehabisan kata-kata. Ia meremas kepalan tangannya sendiri. Malunya pada Savina luntur. Rindunya terburai kacau atas kehadiran Maila. Waktu yang diharapkan mampu menggugurkan kejenuhannya minggu-minggu lalu, mendadak pupus, tak ubah kelopak-kelopak melati di pekarangan rumah yang layu, hilang identitas indahnya, meski wangi masih membekas dalam ingatan.
"Apa? Di mana?" Maila semakin memojokkan.
"Akan kukembalikan jika sudah ada!"
"Omong kosong!"
"Cukup!" Nina geram. "Ayolah jangan nodai pagi indahku di Indonesia!"
Akhirnya mereka sepakat tutup mulut.
"Maafkan aku, Nina. Aku tidak tahan dengan sikapnya!" Maila coba memberi penjelasan.
"Apa kau bilang? Sikapku? Kau yang mulai ribut duluan!" Darel tidak terima.
"Sudahlah, Na. Aku pamit dulu! Kalau senggang kapan-kapan aku main, asalkan laki-laki ini sudah pergi."
Maila pamit, melambaikan tangan kemudian keluar begitu saja. Ia bawa pergi rasa kesalnya yang tak berujung. Entah apa sebabnya, setiap bertemu dengan Darel emosinya meletup-letup tanpa kompromi. Ia bahkan lupa mengontrolnya, membiarkan napas terengah-engah begitu saja. Dalam perjalanan pulang kedua tangannya sibuk memukul pelan d**a kirinya, sementara embusan oksigen distabilkan supaya keluar teratur.
Harusnya kemarin aku tidak membiarkannya mendorong sepeda motor sampai kafe! Bodoh sekali! gumam Maila sambil memukul keningnya pelan.