Egois

1680 Kata
Rizam masuk ke ruang pribadi Darel dan menarik tangannya paksa. Menggoyangkan tubuh supaya dirinya bangkit dan bertanggungjawab. "Semuanya salahmu, kau terlalu emosi, Rel!" Darel mengibaskan tarikan Rizam, ia justru memberi punggung. "Biarkan aku sendiri!" "Kau tega membiarkan gadis menangis seperti itu? Dia kan yang jantungnya lemah?" "Jangan merasa selalu benar, Rel! Adakalanya dirimu memang bersalah. Akuilah! Jangan jadi pengecut!" "Keluaaarrr!" Darel muntab. Ia tidak mau diganggu, termasuk oleh sahabat dekatnya. Rizam menarik napas berat lantas mengembuskan pelan. Kepalanya menggeleng kecewa. Ia keluar, mengambil laptop yang pecah beserta Flashdisk Maila. Kalau saja ia kenal dan tahu alamat Maila, benda itu akan dikembalikan kepada pemiliknya. Rizam tak punya pilihan selain mendiamkan majikannya tersebut. Rizam mengambil kontak mobil pada sebuah loker di bawah meja kasir. Ia bermaksud membelanjakan kebutuhan kafe yang habis. "Pinjam mobil Rel, aku mau belanja!" teriaknya tanpa peduli Darel mengijinkan atau tidak. Setelah meletakkan laptop di bar kasir, ia pergi. Atmosfer Indocafe terasa engap. Darel menyalakan AC di ruangannya lalu kembali merebahkan tubuh, kali ini pandangannya tertuju pada plafon ruangan. Neon menggantung di pusar, cahaya yang setia menjadi teman bagi amarah-amarah Darel. Seperti yang sudah-sudah Darel akan mengasingkan diri dari keramaian jika ia tidak tahan dengan perlakuan orang lain. Ruang pribadinya menjadi saksi. Ia pernah menangis kesakitan di tempat itu atas perlakuan tidak adil kepada mamanya. Ia pun pernah mengamuk, saat Savina memutuskan pergi ke luar negeri. Meninggalkannya yang saat itu butuh dukungan dan perhatian lebih dari gadis yang dicintainya. Takdir tidak memihak perasaan Darel, orang-orang terkasih pergi dalam waktu bersamaan. Darel menyambar layar ponsel. Ia membaca notifikasi pesan yang masuk satu-persatu. Pikirannya berusaha keras menghapus jejak tangisan Maila. Ia tidak mau dirundung perasaan bersalah, meski diakui ia salah. 'Bagaimana jika dia kehilangan kendali saat menyetir?' tanya lubuk hatinya kepada Darel. "Aku tidak peduli! Dia bukan urusanku!" 'Rel, aku pulang! Sudah di rumah.' Nama Savina tertera di layar. Mata Darel terkesiap, ia reflek bangkit. Memencet tombol panggil. Jantungnya berdebar-debar. Ada rindu yang berkembang liar. Ada suara lembut yang terngiang dalam pendengaran. Ada senyum manis penghangat gigil malamnya. Pada akhir detik, ada cinta yang pernah dibekukan jarak. Ketika mendekat, ia kembali merasa terikat, meski pernah disekat rentang waktu. 'Ada gadis yang menangis karenamu, Rel! Ia mengalami masalah pada pekerjaannya karenamu, Rel!' suara hati kecilnya membuat ragu. Panggilan diurungkan. Ia keluar, mengambil laptop di meja bar. Layar retak tak bernyawa. Semula laptopnya hidup, karena mendapat benturan keras, laptopnya tewas. Jantungnya kembali berdebar, bukan dialiri rindu, namun tersiram perasaan khawatir akut jika data salinan flashdisk Maila pun tak bisa diselamatkan. Ia memukul tengkuknya. 'Bodoh! Coba kamu tidak marah!' Darel berusaha menghidupkan laptopnya, ia tekan tombol power. Sia-sia, tidak ada cahaya yang dipancarkan benda kotak itu. Ia pesimis. Mengambil jaket lalu mencari kontak mobil. Sial! Rizam membawanya. Terpaksa ia naik motor butut Rizam. Laptopnya dibawa ke tempat service. Bagaimana pun juga ia harus bertanggungjawab atas data-data penting yang dimiliki Maila. Tempat service yang dikunjungi Darel, berhadapan dengan perpustakaan daerah. Banyak orang keluar masuk menenteng ransel dan buku bacaan. Orang-orang berseragam sekolah, orang-orang dengan wajah dipenuhi beban tugas-tugas kuliah, dan orang-orang pengusir penat. Ia mengamati suasana luar ruangan dari balik dinding kaca tempat service. Di antara puluhan orang, ia bisa melihat sesosok gadis dengan langkah layu masuk ke gedung perpustakaan. "Jadi kapan?" "Paling cepat satu minggu, Mas!" "Bisa dipercepat lagi? Berapapun biayanya," Darel ngotot. Sayang, tukang servicenya tidak bisa memberi kepastian. Darel meninggalkan nomor hp lalu berjalan maju, menyebrang jalan raya. Ia abai dengan motor Rizam yang diparkir sembarang di tengah-tengah. Pikirannya terpusat pada sosok gadis berambut panjang yang masuk ke perpustakaan. Sayang Darel ditahan penjaga perpustakaan. "Maaf, Mas. Sudah punya kartu anggota perpus atau belum?" "E... belum." Darel tergagap. "Saya akan buat, tapi hari ini saya mau masuk! Ada buku penting yang mau saya jadikan referensi tugas skripsi!" "Baiklah, saya buatkan kartu sementara terlebih dahulu ya?" Darel mengangguk. "Nama... alamat... tempat tanggal lahir... nama instansi atau sekolah... " Harusnya tadi dia tidak bilang mau mengerjakan skripsi. Ia asal sebut nama kampus di kotanya lalu penjaga perpus memberinya kartu berwarna putih juga lembar formulir pendaftaran menjadi anggota. Darel bergegas masuk. Matanya jeli mengamati setiap pengunjung yang ada. Ia pura-pura memilah buku rak demi rak. Jari-jarinya menyibak judul buku. Ia tidak berniat meminjam hari itu, ia hanya ingin melihat Maila. Gadis itu telah duduk di sudut menghadap jendela. Matanya terlihat sembab, sisa air pedih masih jelas. Ia mengikat rambut, kemudian membuka sebuah buku novel. Darel berdiri di antara rak-rak buku, memandang lurus ke arah Maila. Ia membiarkan pengunjung menabrak tubuhnya. Mata Darel tiba-tiba terbelalak saat menyadari seorang laki-laki yang tempo lalu bertabrakan dengan Maila menghampiri gadis itu. Ia duduk di hadapan Maila, meletakkan sebuah buku entah berjudul apa, ia tidak peduli, yang jelas, laki-laki itu menyapa penuh senyuman. Baju kemeja dengan motif kotak-kotak yang tidak dikancingkan memperlihatkan kaos birunya, ia lebih rapi dan terlihat layaknya orang pintar. "Kau habis menangis?" "Eh—" Maila menatap Gilang. Ia tidak mengira jika akan bertemu dengannya. Pekan minggu itu belum berakhir. "Ada apa?" suara lembut mengalir penuh perhatian. Maila membiarkan halaman buku disapu angin yang masuk melalui ventilasi jendela. "Tidak apa-apa. Aku sedang lelah, Lang!" Maila mengembuskan napas berat. Suaranya terdengar lirih. "Fisikmu mengatakan kau sedang tidak baik-baik saja." Gilang membaca gerak tubuh Maila yang tampak lemas. "Biasa aku sedang jenuh," paparnya. "Kau sudah bertemu dengan lelaki pemilik kafe itu?" Gilang mengalihkan topik, ia tidak ingin terjebak dalam kebisuan. Napas Maila kembali berat, ada hal janggal yang memukul detak jantung. Sebuah kerikil kecewa membuatnya mengelus d**a kiri berkali-kali. Ia tahan perih ketika kejadian beberapa menit lalu tergelar di depan matanya. Laptop tak berdosa yang jatuh, flashdisk yang bahkan belum sempat diisi data-data terpental jauh. Ia bukannya mendapat data-data kembali, justru ludes karena emosi Darel. "Kau tidak pa-pa, Maila?" Darel panik, tanpa sengaja ia menjatuhkan buku dari rak. Beruntung tak ada yang peduli dengan kesalahannya, termasuk Gilang dan Maila, mereka berdua tidak sempat melirik deretan buku-buku. Ekspresi Maila detik itu membuat Gilang khawatir. "Aku tidak suka laki-laki beraroma kopi itu!" celetuk Maila tiba-tiba. "Gara-gara dia pekerjaanku tidak berjalan semestinya! Dia lelaki bodoh yang tidak pernah menyadari kesalahannya sendiri!" "Oke, tenanglah lebih dulu! Ada masalah lagi?" "Dan perkataanmu tempo dulu—" tatapan Maila tajam, seolah menyimpan tuntutan karena yang diucapkan Gilang tidak terbukti. "Salah! Bagi laki-laki b******k seperti Darel! Tidak ada kata berpikir sebelum bertindak! Dia tipikal orang egois, tidak mau peduli dengan perasaan orang lain! Apalagi berniat mengembalikan barang hasil curiannya!" Darel tak bermaksud mencuri data Maila. Ia hanya memindahkan tanpa menghapus sedikit pun karena kesal dengan sikap gadis itu. Permasalahannya semakin pelik. Ia merasa sial karena ditakdirkan tertabrak oleh Maila. Baginya Maila pun sama, tidak peduli dengan pikiran orang lain. Dia bahkan mencari alamatnya sampai ke dinas pendidikan demi mengetahui keberadaan Maila, barang kecil itu hendak dikembalikan, sayang karena sikap keacuhan Maila, ingatannya melupa. Kalau saja satu jam yang lalu Maila tidak marah, berpikir lapang, membiarkan Darel urai penjelasan dan memberi kesempatan kata maaf keluar, pasti data-data Maila pulang, dan— laptop Darel tidak perlu masuk rumah sakit elektronik. Pernahkah Darel berpikir kalimat yang disusunnya sempat melukai jiwa Maila? Darel tak mau tahu, ia hanya ingin laptopnya segera hidup, mengembalikan data-data Maila supaya bisa mengakhiri masalah, juga mengakhiri pertemuan! Ia pulang menggiring sepeda motor butut Rizam. Lajunya kalah dari keong. u*****n-u*****n didengar debu jalan. Rambut yang berantakan bertambah awut-awutan. Keringat menyatu dengan bau kecut pagi tadi alfa mandi. Alis tajamnya semakin mencekung masuk karena muram. Ia akhirnya membiarkan motor supra keluaran tahun 1999 itu di trotoar. Motor tua itu tak ubah perasaan Maila yang sedang marah kepada Darel, mogok malas berinteraksi padanya. Entah apa sebabnya, motor Rizam mendadak mati. 'Savina! Bisakah kita bertemu? Aku di jalan pahlawan, dekat alun-alun kota.' Darel mengirim pesan. Ia menanam harap supaya Savina bisa mengurangi emosinya hari ini. 'Kalau kau mau ketemu, mainlah ke rumah, Rel! Tubuhku enggan diajak diskusi, perjalanan dari Finlandia ke Indonesia masih membuatku lelah.' Ya gadis dengan rambut bergelombang bercat serupa tanah liat, dengan bibir selengkung bulan sabit, dan kelopak mata serimbun tubuh lotus dengan aroma mawar itu baru saja menuntaskan S2-nya dari Finlandia. Negara dengan tingkat pendidikan yang kuat. Ia menghela napas. Matanya melirik motor Rizam. Sahabatnya pasti akan marah besar jika warisan nenek moyangnya terlunta di emper jalan. Kali ini leher Darel bergerak ke kanan dan ke kiri, membaca satu persatu ruko di pinggiran— tak ada bengkel otomotif. Panas matahari semakin menjadi, keringat mengucur dari kening juga leher. Ada senyum mengalir pelan. Senyum kenangan yang dulu pernah tergulung jarak, kini terburai seperti serbuk Dandelion diembus angin. Dahulu, di alun-alun kota, ketika musim abu-abu dan putih mekar. Ia mengelilingi senja di kota berboncengan di atas sepeda. "Kau tahu, Rel? Alasan aku ingin kuliah ke luar negeri? Ke kota yang katanya pendidikannya bagus?" Darel menggeleng, ia fokus mengendarai sepedanya. Ia tidak mau keseimbangannya hilang. Anak-anak kecil senja itu saling berlarian, pada tangan mereka terdapat jajanan kuno aromanis yang berbentuk seperti busa sabun. Tawa riang mereka diterjemahkan waktu sebagai kesucian masa kanak-kanak. "Ibu-ibu tetanggaku sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari suaminya, aku ingin mengangkat derajat wanita dengan belajar sungguh-sungguh." Suara Savina menghilang bersama datangnya dering ponsel yang meraung-raung minta diangkat. "Bro! Waktunya buka, kemana saja?" Rizam mengusir kenangan. "Motormu mogok! Jemput aku dulu di Jalan Pahwalan! Karyawan udah pada masuk belum?" "Uda baru satu." Kata Rizam serius. "Yaudah suruh dia jaga dulu, kamu ke sini!" "Satu, aku karyawanmu bukan?" Darel geram. Hubungan jarak jauh terpaksa diputus ketika sebuah motor matic parkir di depannya. Sopirnya turun, membuka kaca helm. Seorang gadis dengan rambut diikat berdiri dengan tatapan kasihan. Air liur Darel menggelegak. Ia merasa malu karena motornya mogok. "Ada tukang bengkel yang akan membantumu sebentar lagi!" kata Maila tiba-tiba. Ia berkata yakin tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya mengalahkan kegaduhan jalan raya. Meski siang nyaris berakhir dan keramaian jalanan tak berjeda, bahkan klakson terus mengoceh saat pejalan kaki melintas zebra cross, telinga Darel justru dihinggapi sepi— sepi yang aneh. "Aku tidak peduli pada dirimu! Aku hanya berperikemanusiaan karena tidak tega melihatmu mendorong motor butut itu!" imbuh Maila, sebelum Darel membuka suaranya. Maila naik kembali ke sepeda motor, menyalakan mesin, menyelinap di sela-sela kendaraan yang sedang melaju. "Gadis ketus itu... menolongku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN