“Mantan calon suamimu sangat gigih.” Nadia menoleh pada James yang tiba-tiba memberikan tablet PC padanya. Saat ini mereka berdua sedang berada di lift, kembali memasuki kantor melalui basement tanpa ke lobi terlebih dulu. Ini ide James, ternyata lelaki itu memang benar, Jamal menunggunya lagi di sana. “Lihatlah, dia kembali lagi dan menunggumu di lobi.” Lanjut James lagi. “Aku juga mendengar dari pihak keamanan dia hampir masuk lagi ke lantai apartemen kita, tapi tentu saja... gagal.” Nadia menghembuskan napas panjang. Sejujurnya ia mulai risih, entahlah... perasaan kagum dan cintanya pun rasanya mendadak hilang. Lama-lama ia merasa lelaki itu justru semakin obsesif padanya, bukan cinta seperti dulu. Terlebih dengan kondisi mereka sekarang yang tak bisa diperbaiki lagi. “Aku tidak me

