“Ayo, pulang.” Air mata Nadia kembali mengalir deras mendengar penuturan itu, kepalanya kembali tertunduk tangisnya semakin keras, punggungnya semakin bergetar hebat. Sungguh, Nadia tidak pernah berpikir akan ada sisa kebaikan dari orang itu, akan ada peduli, dan perhatian. Punggung Nadia menghangat, sebuah jas tersampir di punggung disusul sebuah lengan meremat bahu, memberinya kekuatan. “Nay....” Nadia segera mendongak saat mendengar suara bergetar itu. Barulah ia sadari, wajah pucat, mata merah dan sudut bibir yang berdarah pada paras tampan itu. “James.” Nadia berdiri, memegang wajah James, mengelusnya pelan. “Kau... kenapa?” Kedua kalinya, saat suara petir kembali terdengar ia baru menyadari. Ini hujan dan James tidak seharusnya berada di sini. Seketika Nadia panik, ia segera

