“Kalian baru sampai?” Nadia menahan napas saat melihat Jatmiko yang telah berdiri di dalam ruang kerja James. Napasnya tercekat, memendek, terkejut diiringi rasa takut. Keringat dingin pun mulai bercucuran, membasahi punggung dan telapak tangan. Takut, sungguh takut. Ia takut akan adanya perdebatan yang membuat James terpuruk, kembali kekondisi awal. “Maaf Pa—.” “Kami tidak terlambat, jam kantor baru akan di mulai lima menit lagi.” James yang menjawab pertanyaan itu. “Tetap saja kau harus datang lebih cepat James, jangan bermalas-malasan. Kau pikir bermalas-malasan bisa membuatmu sukses?” seru Jatmiko telak. Nadia terperangah, sudah ia duga tapi tetap saja ia terkejut. Ia segera menguasai dirinya, tersenyum sebelum menjawab ucapan Jatmiko. “Ini salah saya Pak. Saya terlambat bangun s

