Penjara

1095 Kata
"Dengan mempertimbangkan hasil sidang, kami memutuskan bahwa saudara Ratik bersalah atas perkara pelecehan s*****l. Dengan ini, kami menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara," ucap hakim memberitahu sebelum ia mengetuk palu. Tok Tok Tok Ketika palu berbunyi, seketika Ratik menunduk sedih dan seakan hidupnya telah hilang. Begitupun Ibu Ningsih yang kini menangis sedih, karena dirinya pun yakin bahwa anaknya yang ia besarkan tidak mungkin melakukan hal sehina ini. Ratik kemudian berdiri dengan dihampiri kedua petugas dan diborgol kedua tangannya untuk meninggalkan ruang sidang. Ketika ia berjalan, ia menoleh kepada sang ibu sembari menundukkan kepala memberi hormat untuk terkahir kalinya. "Ibuk, maafkan aku. Tapi, aku yakin bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaik kepadaku," ucapnya mencoba tegar dengan mata yang berlinang. "Ibuk, tolong jaga diri baik-baik!" Bu Ningsih mengangguk, mencoba memberi senyum ketegaran pada sang anak, "Iya nak, ibuk yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik." Setelahnya Ratik menoleh kearah Junaeha yang kebetulan sedang menatap dirinya dari kejauhan. Namun ketika Ratik menoleh, Junaeha segera memalingkan muka dan menunduk malu karena ia pun merasa bersalah. "Cepat! Ayo cepat jalan!" perintah kedua petugas kepada Ratik agar segera meninggalkan ruang persidangan. Ratik pun segera melangkah masuk kedalam mobil petugas lapas dan dibawa ke sel tahanan. Disana pun Ratik disambut oleh para penghuni lapas yang memiliki wajah garang dan ganas, karena kasus pelecehan s*****l dianggap sebagai kasus paling hina dan pasti mendapat bully dari para penghuni lapas lainnya. Disinilah Ratik tahu bahwa dunia diluar sana tidak setenang yang ia bayangkan dahulu. Setiap hari Ratik mendapat k*******n, cacian dan bahkan dijadikan b***k oleh penghuni lapas lainnya. Namun, Ratik tetap tak menyerah untuk bertahan meski ia hampir mati dipukuli didalam sana. "Huss! Huss!" bisik para penghuni, memberikan kode para penghuni lapas lainnya. Mereka terheran-heran karena seorang yang dianggap hina tidak menampakkan sedikitpun hal negatif yang terpancar didalam dirinya. Bahkan, Ratik tak pernah meninggalkan waktu sholad serta berpuasa yang menjadi kewajibannya. Tahun demi tahun, Ratik dapat berkomunikasi dengan baik walau masih saja ada beberapa penghuni yang senang menjahili. "Hei pemuda, aku lihat-lihat kamu cukup hebat juga ya rupanya," pujinya sembari memiringkan senyumannya yang sinis. "Aku lihat kamu sebetulnya bisa melawan balik dan menghajar para pengganggumu karena kamu memiliki postur tubuh tinggi dan otot yang kuat. Tapi kenapa kamu hanya memilih menepis dan tidak memukul balik?" Ratik tersenyum karena bertahun lamanya, baru kali ini ada seseorang yang mau mengajaknya berbicara "Saya sudah lama sekali tinggal didalam sel tahanan ini, dan saya juga berfikir jika saya melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepada saya, maka itu tidak ada bedanya. Bahkan, saya yakin bahwa masih ada orang baik didalam sini." Sontak seketika lelaki paruh baya itu tertawa terbahak-bahak seraya mengejek "Orang baik? Ha ha ha, penjara ini tempatnya untuk orang jahat seperti kita." Mendengar itu seketika Ratik menunduk sedih, membuat lelaki itu jadi memutar otak untuk berfikir kembali, "Apa kamu benar-benar tidak pernah melecehkan seorang wanita?" sambunya bertanya-tanya. Ratik hanya mengangguk penuh senyum miris, "Tetapi pengakuan saya tidak akan merubah apapun," sahutnya sembari menghela nafas dan mengedarkan penglihatannya. "Seperti yang Anda lihat sekarang, saya tetap didalam sel tahanan ini." Lelaki paruh baya itu lantas menepuk bahu kokoh milik Ratik untuk menguatkannya, membuat Ratik tersenyum haru nan miris dengan mata berkaca-kaca. "Saya rindu ibuk, saya mengkhawatirkan beliau karena hidup seorang diri," ucapnya kembali, kali ini menunduk dan cepat menyeka air matanya yang akan menetes tak henti. "Aku percaya padamu, pemuda," ucap lelaki paru baya itu tanpa diduga, untuk menguatkan Ratik yang tak lagi berdaya. Setelah percakapan singkat itu, Ratik bisa hidup tenang didalam penjara walau hidup dengan kerinduan yang mendera. Banyak yang ia pelajari didalam penjara, dan masih banyak orang baik didalam sana. Beberapa orang mencuri, merampok bahkan mengalami tuduhan palsu seperti dirinya. 5 tahun penjara, membuat Ratik mengalami banyak pengalaman yang berharga. **** "Terimakasih pak," ucap Ratik menunduk memberi hormat kepada sipir penjara, ketika gerbang tinggi membentang terbuka lebar untuknya. Ya benar, kini sudah 5 tahun berlalu dan Ratik pun bebas hari ini. Begitu membahagiakan baginya. Ratik menatap langit biru nan luas sembari membentangkan kedua tangannya sembari menutup mata dan bernafas lega. "Akhirnya aku bisa bertemu dengan ibuk," ucapnya dengan senyumannya yang bahagia. Hari ini ia seakan telah menemukan hidupnya kembali, banyak hal yang ia rencanakan didalam penjara untuk menata hidupnya menjadi lebih baik lagi, tentu bersama ibunya tercinta. Ratikpun segera menaiki bus untuk pulang ke kampung halamannya dan ia juga ingin memperotes terhadap ibunya karena selama ia dipenjara, ibunya tak pernah lagi menjenguknya walau itu hanya satu kali saja. "Apa ibu tidak rindu terhadapku?" tanyanya pada dirisendiri sembari memanyunkan bibirnya dan tersenyum kembali. Ratik tahu bahwa ibunya kini sudah tak muda lagi, pun juga butuh biaya dari kampung ke kota untuk sekedar menjenguknya dipenjara. Bagi Ratik itu bukanlah masalah besar, karena ia percaya doa sang ibu selalu untuknya setiap saat. Kini Ratik sudah sampai dikampung halamannya, ia turun dari bus sambil membawa tas gendong yang berisi pakaiannya. Ia berjalan mengitari pedesaan yang pembangunannya begitu pesat selama 5 tahun terakhir, banyak hal yang berubah termasuk fasilitas umum yang memadai. "Heh lihat! Bukannya itu si Ratik, ya?" tanya salah satu pemuda kampung. "Iya, itu Ratik," sahut teman disebelahnya, "Wah, dia sudah bebas rupanya." "Yuk kita lapor pak RT!" ajaknya, yang kemudian dianggukkan oleh teman lainnya. **** "Assalamualaikum," ucap Ratik memberi salam sembari mengetuk pintu depan rumahnya yang begitu tampak sepi, dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Berulang kali Ratik mengucap salam dan mengetuk pintu namun tak ada satupun jawaban membuat dirinya mengerut kening dan mencoba mengintip melalui luar jendela. "Ibuk kemana, ya?" tanyanya bingung, pasalnya didalam rumahnya tampak begitu sepi. Lalu tiba-tiba seseorang datang memanggilnya dari belakang. "Bang Ratik." panggil seseorang yang tak asing, membuat Ratik membalikkan badan lalu menoleh. "Agus," ucapnya begitu senang. Seketika Agus menghampiri lalu memeluk teman masa kecilnya itu. Mereka berdua saling memeluk penuh kerinduan karena telah 5 tahun berpisah. "Abang gimana kabarnya? Maaf Agus tidak bisa menjenguk Abang," ucapnya menunduk sedih. Ratik hanya tersenyum, lalu menepuk bahunya. "Ah tidak masalah, lagian Abang baik-baik saja seperti yang kamu lihat sekarang ini." "Syukurlah! Aku tahu Abang bisa melewati ini semua." Ratik mengangguk penuh bahagia tanpa beban sedikitpun yang tergambar diwajahnya, "Oh ya, kamu tahu ibuk kemana? Aku dari tadi ngetuk pintu tapi tidak ada yang menyahut." Pertanyaan itu sontak membuat Agus memeluk Abang nya kembali lalu menangis, "Bu Nungsih---," ucapnya terbata. Ratik segera memegang kedua pundak Agus agar melepas pelukannya lalu sedikit mengguncangnya, "Kenapa dengan ibuk?" "Kenapa dengan ibukku, Gus?" tanyanya kembali penuh penekanan ketika belum mendapat jawaban, tapi malah sebuah tangisan. "Ibuk Abang sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu." terangnya, membuat Ratik seketika lunglai dan raut wajahnya yang semula bahagia kini pias seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN