CHRYSTAL
“Apa?” Aku terbelalak mendengar ucapan Sen padaku.
Pria itu hanya menatapku bosan. Kemudian kembali fokus dengan laporan-laporan yang menunggunya di meja. Aku hanya bisa mendengus kesal dengan kelakukan pria yang saat ini menjadi Tuanku. Bagaimanapun sekarang aku bekerja menjadi sekretarisnya, sekaligus menumpang tinggal di rumahnya.
“Sir, anda bercanda dengan ucapan anda, kan?” tanyaku memastikan dan semoga memang dia benar-benar bercanda.
Sen mengernyitkan alis saat aku memanggilnya Sir. Dia memang tidak suka jika aku mulai memanggilnya sir. Padahal kan sekarang kami di kantor dan aku menghormatinya sebagai atasanku.
Kepalanya kembali menoleh padaku. “Tidak juga. Bukannya Aku sudah mengatakannya padamu, bahwa Sant tidak akan percaya begitu saja bahwa kamu hanya sekadar bawahanku? Kamu tinggal di rumah kami dan bekerja menjadi sekretaris pribadiku. Sudahlah berikan yang Sant mau dan masalah kita selesai. End of conversation. Keluar, lanjutkan pekerjaanmu. Remember our plan, Rysta.”
Kepalaku menggeleng tidak percaya. Ucapan Sen tadi pagi sangatlah keterlaluan. Tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa aku adalah pacarnya kepada Sant. Dia adalah pria paling gila yang aku kenal, tiba-tiba saja langsung mencampuri urusanku dan mengajakku kabur meninggalkan kekasihku. Bodohnya, kenapa aku mau begitu saja menuruti permintaannya?
Tatapanku jatuh pada ponsel milikku. Tidak ada satupun notifikasi yang masuk, karena perintah Sen yang menyuruhku untuk mengganti nomor ponsel. Walaupun nomor sudah diganti sekalipun, tapi wallpaper yang kupasang sejak dulu tidak pernah berubah. Ada fotoku dan Regan yang diambil di salah satu hotel di Bali, beberapa tahun silam. Saat itu kami masih baru saja menjalin kasih dan dia belum mengetahui tentang rahasia besarku. Wajahnya tersenyum lebar, tampak begitu tampan.
Papa benar, aku harus selalu mengabadikan setiap moment menggunakan permain cahaya yang menghasilkan warna dan akhirnya berbentuk menjadi sebuah gambar indah. Orang yang di dalam foto ini memang sudah berubah, pria ini sudah memilih wanita lain di dalam hidupnya. Dia yang dulu begitu mencintaiku dengan tulus sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah pria yang tapi tidak lagi mencintaiku. Setidaknya moment dan kenangan itu tetap beku di dalam foto ini.
I miss him.
Tiba-tiba terdengar suara dehaman pelan, membuatku sedikit gelagapan dan buru-buru menaruh ponselku ke dalam laci kantor. Aku bergegas bangkit untuk melihat siapa yang mengganggu lamunanku.
Seorang wanita cantik, rambut panjang lurus cokelat gelapnya diurai begitu indah. Aku sedikit tersentak saat menatap langsung kedua bola mata wanita ini. Heterochromia iridium, batinku saat melihat dua bola mata berbeda warna itu, sebelah kiri berwarna biru cerah dan sebelahnya berwarna cokelat gelap. Membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dengan matanya tersebut, walaupun kantung matanya terlihat jelas, tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi kecantikannya.
“Makanlah, Sant,” bisikku padanya saat tiba-tiba aku mendengar suara kelaparan yang dia teriakan. “Aku tahu kamu belum makan sejak semalam,” lanjutku.
Sant tersentak pelan mendengar penuturanku. Tanganku dengan sendirinya menarik tangan Sant untuk menuntunnya memasuki ruangan Sen. Ketika pintu terbuka, aku bisa melihat bosku itu tengah sibuk di depan laptopnya. Kedua alisnya berkerut saat sedang berfikir. Bahkan, karena terlalu asyik dengan dunianya, Sen tidak menyadari keberadaan kami.
Suara Sant yang merontah kelaparan tapi tidak cukup bernafsu karena kesedihan hebat yang dia alami, membuatku miris mendengarnya kembali. Perlahan kami berjalan mendekati Sen. Sudah beberapa hari ini aku tinggal bersamanya. Logikaku mencari tahu mengapa aku tidak juga berhasil membaca pikiran Sen? Tapi, sayangnya aku tidak kunjung menemukan jawaban. Kepalaku menoleh dan mendapati Sant menatapku dalam. Dia terlihat begitu tertarik dengan keberadaanku di sisi Sen selama beberapa hari terakhir.
Sant segera berlari kecil dan meraih Sen ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat Sen terlihat terkejut. Tapi pada akhirnya, pria itu langsung membalas pelukan adiknya serta memberikan sebuah kecupan di kening.
Seketika perasaan sedih menyelimutiku. Aku tiba-tiba saja merindukan adik kecilku yang selalu memanfaatkanku itu. Anehnya, jarak selalu berhasil membuatku menyadari bahwa aku menyayanginya. Tubuhku merosot di atas kursi kerjaku. Kepalaku mulai merenung, kenapa aku bisa terjebak dengan Sen.
Tiba-tiba suara Sant kembali terdengar. Senyumku merekah menyadari suatu hal. Buru-buru Aku menekan nomor pantri. Seorang wanita mengangkat panggilanku di ujung sana. Tanpa basa-basi aku langsung meminta pertolongannya. “Bu, bisa tolong belikan nasi rendang di salah satu restaurant padang yang berada di daerah Menteng. Ibu naik ojek saja, nanti uangnya saya ganti berserta tranportnya. Terima kasih.”
“Baik, miss.”
Aku segera menutup panggilan, lalu melangkah menuju jendela besar di hadapanku. Melihat suasana kota Jakarta yang selalu padat dengan cuaca terik siang ini. Lagi-lagi Aku kembali berpikir dengan apa yang sudah aku lakukan beberapa hari ini. Ada yang janggal saat ini, tapi aku tidak bisa menemukan salah satu alasannya. God, what’s happen?
*****
Aku membuka pintu kantor Sen dengan sekotak makanan berisikan nasi padang di tanganku. Tiba-tiba seseorang melesat ke arahku dan menubrukku begitu saja, membuatku sedikit terhuyung dan hampir saja jatuh. Untung saja orang yang menubrukku itu segera menarikku lebih erat ke dalam pelukannya.
“Welcome to our family, sister-in-law,” teriak wanita tersebut.
Untuk beberapa saat tubuhku membeku mendengar ucapannya. Sepertinya Sant sangat menyukai fakta mengenai hubunganku dengan Sen. Sant segera melepaskan pelukannya, lalu menatapku. Kedua mata beda warnanya memancarkan binar bahagia. Anehnya, senyumku tanpa sadar merekah dengan sendirinya. Beginikah rasanya ketika keluarga kekasihmu menerimamu? Ingatan tentang penolakan keluarga Regan kepadaku sangatlah menyakitkan.
Saat itu Regan mengajakku ke rumahnya. Papanya terlihat sama sekali tidak peduli dan hanya menganggap pertemuan ini tidak penting dan jelas tidak ada keuntungan apa pun untuknya. Sedangkan, Mama Regan menatapku dari atas hingga bawah. Menilaiku dan berakhir dengan memandang rendah diriku. Aku sadar, aku memang tidak pantas bersanding dengan Regan. Bukan hanya itu saja yang membuatku sedih, Regan sama sekali tidak berniat untuk merubah pendapat kedua orang tuanya demi diriku.
Lalu, ketika melihat Sant memandangku karena menganggapku benar-benar calon kakak iparnya. Hatiku menghangat. Aku diam-diam menyukai alasan yang Sen lontarkan pada Sant.
“Thank you,” bisikku.
Wanita itu berbalik menghadap Sen sembari merangkulku. Dia tersenyum menatap saudara kembarnya yang entah sejak kapan memperhatikan kami. Ekspresinya datar dan tak terbaca.
“Good job, Sen! Nggak salah kamu pilih dia. Oh my God, I’m happy.” Kepalanya menoleh kembali padaku, kemudian melepaskan rangkulannya. “Kita belum berkenalan.”
Sant mengulurkan tangannya. “Rysta.”
“Sant, Chrysant.”
“Joy, love, friendship and secret. Beautiful name with a beautiful face. That’s perfect,” ucapku tanpa sadar.
Dia terkekeh pelan. Lalu, terdengar suara dehaman yang berasal dari Sen. Kami berdua serentak menoleh padanya. Tiba-tiba saja dia tersenyum, lalu berjalan mendekati kami. “Kami berencana ke Bali untuk bertemu dengan klien besok. Aku rasa kamu harus ikut dengan kami, Sant.”
“Sen, untuk apa aku mengikuti kalian?”
Sen melirikku, meminta bantuan. Aku mengangguk samar sebagai balasan, lalu menatap Sant sembari menggenggam tangannya. “Kamu butuh jalan-jalan, Sant. Mungkin suasana Bali akan membuatmu kembali menjadi Sant yang ceria seperti biasanya.” Aku mengulurkan kotak makanan padanya. “Makanlah. Nasi padang rendang dari restaurant padang dekat rumahmu.”
Lagi-lagi Sant tersentak. Alisnya mengernyit sembari melirik uluran makananku untuk beberapa saat. Tapi pada akhirnya dia mengambil makanan itu juga. “Bagaimana kamu tahu bahwa aku sedang menginginkan ini?”
“You just too easy to read.”
“Sudahlah, makan sana! Sant, aku tidak peduli kamu suka atau tidak, kita bertiga akan pergi ke Bali.”
Sant mencibir, namun sama sekali tidak menolak perintah Sen. Wanita itu hanya menggerutu kesal di dalam hatinya karena sifat Sen yang sangat pemaksa. Segera saja dia berjalan melewati Sen dan menduduki kursi kebesaran milik saudaranya.
“Dasar saudara menyebalkan. Menduduki kursi ku!”
“Kita kan kembar, Sen. Milikmu milikku juga. Kursi ini milikmu, berarti kursi ini milikku juga.” Sant menjulurkan bibirnya, mengejek.
Aku tertawa tanpa suara memperhatikan keduanya. Apalagi saat Sen berlari mengejar adiknya dan menarik rambut Sant. Hal itu menyebabkan keduanya adu mulut khas adik-kakak. Tiba-tiba saja keinginanku untuk pulang kembali menyeruak dipikiranku. Tapi sayangnya, sekarang bukan saatnya untuk pulang, kan?
*****
“Bali!” teriakku tanpa sadar saat menemukan laut lepas yang menghampar di hadapanku.
Saat ini, aku tengah berada di salah satu pantai pribadi milik keluarga Kendrick yang terletak di Jimbaran Bali. Aku menengadah sembari merentangkan kedua tangan, merasakan hembusan angin pantai yang menerpaku.
Sekitar pukul delapan pagi, kami bertiga langsung berangkat menuju Bali dengan pesawat jet pribadi milik keluarga Kendrick. Sesampainya di sini, aku dan harus menghadiri pertemuan dengan klien yang cukup menyita waktu, hingga makan siang berakhir. Barulah sehabis itu, kami bisa langsung menuju ke villa keluarga Kendrick. Villa besar berwarna putih gading, dengan gaya vintage yang akan mengingatkan kita pada salah satu mansion di Inggris. Beberapa bagian dibuat lebih modern dengan sisi dinding yang berubah menjadi kaca besar. Apalagi privasi di sini sangat aman, karena pantai pribadi ini dijaga ketat dua-puluh-empat jam oleh petugas keamanan. Tempat ini mengingatkanku pada suatu tempat yang selalu kurindukan.
“Hi, sister.”
Kepalaku otomatis berputar mendengar seseorang memanggilku. Sant terlihat menajubkan dengan rambut yang dicepol. Kacamata hitam menutupi kedua mata indah beda warnanya. Sundress kuning selutut yang terlihat pas di badan ramping bak model miliknya. Jangan lupa sandal kuning senada yang menghias kaki putihnya. Terlihat sederhana tapi aura kecantikan jelas terpancar dari dirinya.
“Hi,” balasku sembari tersenyum kepadanya.
“I like your dress. Kamu cantik dengan gaun bunga-bunga itu, sis.”
Kepalaku merunduk dan memperhatikan penampilanku sendiri. Aku juga mengenakan sundress panjang tipis berwarna putih dengan motif bunga-bunga sakura. Lalu, menutupi rambut panjang hitamku dengan sebuah topi pantai berwarna putih. Penampilan yang aku rasa cocok ketika berjalan-jalan di pantai ketika sore hari seperti ini.
“Gaun ini memang cantik sekali.”
Sant terkekeh pelan, lalu berjalan mendahuluiku menuju bibir pantai. Aku segera mengikutinya di belakang. “Tidak juga, kamu sudah cantik Rysta. Gaun itu hanya membuatmu tampak lebih cantik. Astaga, aku benar-benar bahagia melihat Sen. Akhirnya dia memiliki kekasih secantik dan sesederhana dirimu.”
Senyum tipisku tersunging. Sant pasti akan kecewa kalau mengetahui bahwa kami bukanlah sepasang kekasih yang sebenarnya. Kami berbohong hanya untuk membuat Sant tidak mengcurigai kami. Padahal kenyataannya, aku berada di sekitar Sen karena pria itu membutuhkan kemampuanku. Sedih sekali menjadi diriku.
“Terima kasih.”.
“Sejujurnya aku kaget karena ini terlalu tiba-tiba. Kami baru di sini, lalu tiba-tiba dia membawamu ke rumah dan memintamu tinggal. Benar-benar bukan Sen yang selama ini aku kenal. Tapi, aku benar-benar bersyukur saat menemukanmu bersama Sen saat ini, kalian terlihat serasi.”
Tanpa dia sadari aku benar-benar merasa bersalah dengan drama yang kami buat. Tapi, entah kenapa aku merasa hangat dengan sikap Sant yang begitu baik dan juga sangat menerimaku ini.
“Ke mana Sen?” tanyanya sembari memperhatikan sekeliling kami.
Aku memperhatikan sekilas dan sama sekali tidak menemukan orang itu. “Sepertinya dia masih sibuk di kamarnya.”
“Dasar orang menyebalkan. Dia memaksaku ke sini untuk berlibur mengikuti kalian dan sekarang malah asyik dengan pekerjaannya.” Sant menggerutu, membuatku terkekeh karena gerutuan itu bukan hanya keluar dari mulutnya saja, melainkan pikirannya juga sama menggerutukan Sen. Menyebalkan sepertinya.
Aku terdiam sejenak saat mendengar sebuah bisikan asing di sekitarku. Kepalaku celingukan mencari orang asing selain kami di sini. Sayangnya, aku tidak menemukannya. Tiba-tiba dari arah belakangku, seseorang memeluk tubuhku erat. Tubuhku yang tidak siap dengan aksi mendadak ini, hanya bisa membeku sejenak mengetahui siapa pelakunya. Aroma parfum yang familiar. Sen.
“Sen,” rengek Sant.
Dia memandang kami sebal. Walaupun, aku tahu dia sebenarnya bahagia melihat pemandangan ini.
“Hi, little sister. Terima kasih sudah menemaninya selama aku sibuk di kamarku.”
“Tentu saja dan berhentilah berpelukan di hadapanku. Kalau tidak, aku akan melempari kalian dengan pasir-pasir ini!” cibirnya.
Aku terkekeh pelan sembari mencoba melepaskan pelukan Sen, namun tangan Sen malah semakin erat memelukku. “Jangan coba-coba melepaskan pelukanku, Sayang. Aku ingin berbicara padamu, lebih baik ikut aku sebentar saja.”
Sen melepaskan pelukannya perlahan dan sekarang tangannya beralih untuk menggenggam tanganku. Lalu, melangkah pelan menuju ke tempat yang sedikit jauh dari bibir pantai.
“Ada apa?” tanyaku saat kami berdua sudah berada di tempat yang cukup teduh di bawah pohon.
Pria itu melepaskan genggamannya. Dia menatap bibir pantai yang terlihat jelas dari sini. “Duduklah, kita akan melihat adegan romantis sebentar lagi.”
Aku hanya mengangguk patuh dan segera duduk menyandarkan diriku pada sebatang pohon kelapa. Kemudian disusul Sen yang tiba-tiba saja membaringkan dirinya di atas pasir dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya.
“Enak juga,” bisiknya.
Pria itu terus memandang bibir pantai dan menatap saudara kembarnya dengan seksama. “Sen, Ada apa?” tanyaku kembali padanya.
“Kamu tahu, Rys, ini sedikit di luar ekspetasiku. Tapi, setidaknya kita bisa saling menguntungkan untuk satu sama lain, bukan? Aku bisa membantumu dengan urusan cintamu dan kamu bisa membantuku dengan urusan bisnisku. Kamu aman bersamaku.”
Aku mengangguk menyetujuinya. Dia benar, aku bisa lari dari Regan dan berusaha untuk move on darinya. Dia juga benar, aku aman bersamanya karena aku tidak bisa membaca pria ini sekuat apa pun kemampuan yang kupunya. Tanpa sadar, tanganku beralih ke puncak kepalanya dan mengusap rambut cokelat gelap miliknya. Tiba-tiba tanganku terhenti saat sebuah tangan besar meraihnya dan membawanya ke dalam genggamannya, membuatku sedikit kaget karena perlakuannya kepadaku.
Sen menoleh dan menatap tepat di kedua mataku. Mata beda warnanya itu berhasil menyihirku. Tuhan, mata indah ini, benar-benar tampak lebih indah dari yang aku bayangkan. Mata kiri cokelat gelapnya dan mata kanan secerah biru langitnya.
“Kalian berdua Heterochromia iridium ?” tanyaku tanpa sadar.
Dia melepaskan genggamannya, lalu menatap kembali adiknya yang ternyata masih sendirian menatap hamparan laut biru di hadapannya. “Itulah kenapa semua orang mengatakan bahwa kedua mata kami tertukar. Lihat saja letak warna mata kami yang saling berlawanan. Mata biruku di kanan dan dia di kiri, sedangkan mata cokelat gelapku di kiri dia di kanan.”
“Mata kalian benar-benar cantik,” ucapku jujur.
Sen mendengus pelan padaku. “Jangan mengatakan bahwa aku cantik, itu melukai harga diriku sebagai laki-laki.”
Aku terkekeh pelan mendengarnya. “Maafkan aku.” Aku terdiam sejenak dan memperhatikan sekitaran pantai. Namun sayangnya, hanya ada Sant di sana. “Di mana Louis? Aku tidak melihatnya di mana-mana tapi aku tahu dia berada di sekitar sini.”
“Dia hanya terlalu takut menemui Sant dan membuatnya menangis kembali. Dia benar-benar payah.”
“Pria itu hanya terlalu mencintai adikmu, Sen. Lihat, aku rasa dia sebentar lagi akan menemui adikmu itu.”
Kami berdua saling menatap titik yang sama, Sant. Tidak jauh dari sana, seseorang keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekati Sant. Dari kejauhan aku bisa melihat pria itu terus berjalan mantap mendekati Sant dengan terus merapalkan doanya agar bisa kembali dengan wanitanya. Benar-benar manis sekali.
Pria itu memiliki tinggi yang hampir sama dengan Sen. Dia mengenakan kemeja tipis polos berwarna biru laut dengan celana selutut berwarna putih. Dia melepaskan kacamata hitamnya dan meraih Sant ke dalam pelukan hangatnya.
“Astaga, sweet sekali,” bisikku.
“Mereka belum berbicara apa pun.”
“Kamu benar-benar menyayangi Sant.” Aku melirik Sen yang mengernyitkan alisnya bingung.
“Tidak juga.”
“Oh, ayolah. Kalau kamu tidak menyayanginya, kamu tidak akan repot-repot terjebak di dalam permainan ini. Apalagi sampai ikut terseret ke dalam urusan rumit mereka.”
“Aku hanya kesal melihat Sant menangis.”
“Aku tahu…, karena bagimu tangisan Sant adalah rasa sakit tersendiri di hatimu, benar akan, Sen?”
Aku bisa melihat Sen tersentak dengan ucapan asalku barusan. Kami berdua terdiam cukup lama setelahnya. Masih memandangi titik yang sama, yang kali ini langit hampir sempurna berubah menjadi jingga gelap. Mereka berdua beragumen. Sant terus berusaha untuk menolak Louis, tapi dia di sisi lain dia masih begitu mencintai Louis. Sedangkan Louis terus berusaha kuat untuk tetap tinggal dan bertahan agar Sant kembali kepadanya.
Hingga akhirnya aku tersenyum saat menyadari bahwa Sant menyerah pada perasaannya. Dia begitu mencintai Louis dan ingin pria itu kembali kepadanya. Gadis itu berbicara kepada prianya dan Louis segera memeluknya setelah ucapan Sant padanya. Mereka berpelukan cukup lama. Louis lah yang pertama kali melepaskan pelukan mereka. Di dekatinya wajah Sant untuk mendaratkan ciuman dalam penuh perasaan darinya. Latar langit jingga gelap membuat siluet mereka tampak indah. Adegan mereka mengingatkanku pada sebuah film romansa bisu pada zaman dahulu.
“Menjijikan sekali,” cibir Sen.
Aku mendengus mendengar cibiran Sen. Dasar pria, memangnya dia tidak pernah melakukan hal romantis seperti itu. “Bagian mana yang menjijikan?”
“Ciuman selama itu.”
Aku tergelak. “Kamu seperti tidak pernah berciuman saja.”
“Memang.”
Seketika kepalaku merunduk pada Sen. Pria itu sudah memejamkan matanya. “Benarkah? Jangan bilang kamu juga belum pernah berpacaran?”
“Belum. Tidak penting.”
“Astaga! Malang sekali nasibmu. Kamu bisa menjadi perjaka tua nantinya,” ejekku.
Dia membuka matanya, lalu menatapku tajam. “Itu tidak akan terjadi sepertinya. Kita lihat saja nanti!”
Aku mengerjapkan mata beberapa saat. Pandanganku lagi-lagi fokus pada pasangan yang tengah berbahagia. Keduanya kini sudah menghentikan ciumannya dan memilih menatap senja dengan kedua tangan berpegangan erat. Mereka benar-benar membuatku sangat iri dan berharap bisa memiliki perasaan sekuat itu kepada kekasihku kelak.
Kepalaku anehnya kembali merunduk dan menatap wajah tegas Sen. Dia masih memejamkan matanya. Tiba-tiba sebuah perasaan janggal itu muncul kembali. Sebenarnya, ada apa? Sepertinya ada yang aneh dengan semua ini. Ini terlalu cepat. There’s something wrong.
*****