BAB 6

2720 Kata
CHRISEON Aku menatap pantulan diriku di cermin wastafel. Shirtless. Tidak lama, sampai akhirnya tatapanku jatuh pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk kunci yang sudah menemaniku hampir sembilan-belas-tahun lamanya. Perlahan tanganku bergerak meraih liontin tersebut, kemudian menggenggamnya erat. Lagi-lagi bayangan gadis kecil itu berputar di kepalaku. Semua percakapan singkat kami waktu itu bahkan masih teringat jelas di kepalaku, perasaan tenang dan senyum hangatnya juga masih tersimpan di dalam benakku. Tuhan, ini sudah hampir sembilan belas tahun kami berpisah. Tapi kenapa aku masih tidak bisa menghilangkan bayangan dirinya. Bahkan kepindahanku ke Inggris sekalipun tidak bisa membuatku melupakannya. Tapi, tetap saja, aku tidak mengetahui keberadaannya. Ingatan singkat yang bahkan tidak sampai lima belas menit itu tidak bisa dijadikan pondasi untuk menemukannya. Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pelan dari pintu depan. Tanpa memedulikan tampilanku yang hanya terbungkus handuk putih sepinggang serta rambut masih basah selepas mandi. Buru-buru Aku menuju ke pintu kamar untuk membukanya. “Oh, my God!” sebuah pekikan keras terdengar, tepat aku membuka pintu kamar. Aku mengernyitkan alis heran saat menemukan Rysta lah pelakunya. Matanya melotot, tapi kedua pipinya bersemu merah. Aku berdeham pelan, membuat wanita cantik itu mulai sedikit santai. Astaga, kenapa tiba-tiba saja otakku mengatakan bahwa dia cantik. Fokus Sen, fokus, ingat dia tidak secantik gadis kecilku yang sejak tadi aku pikirkan. “Ada apa?” “Aku ingin berbicara sesuatu kepadamu. Tapi tolong berganti pakaian yang pantas untuk menerima tamu,” gerutunya. “Kamu berisik sekali. Salah sendiri datang setelah aku selesai mandi!” Rysta melipat kedua tangannya di depan d**a. Anehnya, dia tidak terlihat mengesalkan, melainkan menggemaskan di mataku. Lagi-lagi Aku mengumpat pelan di dalam hati saat pikiran itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku. “Aku tidak tahu bahwa kamu baru selesai mandi!” “Bukankah kamu bisa membaca pikiran seseorang?” sindiriku sembari tersenyum miring kepadanya. “Aku. Tidak. Bisa. Membaca. Pikiranmu!” Rysta menekan setiap kata yang dia lontarkan. Dia kesal, aku tahu itu, matanya seperti mengatakan semuanya padaku. Seketika aku merasa hanyut membaca setiap emosi yang terpancar dari sorot mata cokelat terang Rysta. Mata indahnya terlihat sangat pas terpasang di wajah asia yang dia miliki. Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan? Buru-buru Aku mengalihkan pandanganku dari mata Rysta dan menatap ke arah lain untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba hadir. “Terserah kamu saja. Katakan sekarang apa yang kamu inginkan. Aku harus mempersiapkan acara untuk nanti malam.” Rysta lagi-lagi menggerutu pelan kepadaku. Tiba-tiba saja dia mendorongku memasuki kamar. Reaksinya yang mendadakan itu membuat tubuhnya limbung ke arahku. Dengan sigap aku meraih pingganya, membuat dirinya berakhir di dalam pelukanku. Kami saling memandang satu sama lain dalam diam untuk beberapa saat, hingga mata cokelatnya memutuskan kontak mata kami lebih dulu. Aku berdeham pelan, sembari melepaskan pelukanku. “Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!” omelku, padahal diam-diam aku menikmatinya. “Itu tidak sengaja!” Dia mundur satu langkah menjauhiku. Kemudian dengan cueknya, dia menduduki salah satu sofa yang berada di dekat tempat tidur. Diam-diam, mataku mulai mengikuti gerak-geriknya. Dia benar-benar menajubkan menggunakan gaun berwarna peach selututnya yang terlihat sederhana. Pada akhirnya, aku memilih pasrah dengan kerja otakku. “Pakai baju, sir!” teriaknya kesal. Walaupun dia menajubkan, tapi terkadang dia cukup menyebalkan. Padahal aku ini atasannya, tapi dia berani menyuruh-nyuruhku. Namun, anehnya aku tetap menuruti perintahnya untuk berjalan menuju walk-in closet yang berada di dalam kamar mandi. Meraih pakaian apa saja yang berada di lemari terdekat. Buru-buru aku mengenakkan pakaianku. Rasanya tidak benar membuat seorang wanita menunggu pria, apalagi menunggu pria berganti pakaian. Bukankah hukum alam yang sebenarnya adalah seorang pria lah yang seharusnya menunggu wanitanya berganti pakaian. Wanitanya? Astaga, sejak kapan Rysta menyandang kepemilikan atas diriku seperti itu. Lucu sekali! Aku berjalan kembali memasuki kamar dan kini mendapati Rysta berdiri di depan rak buku kecil yang terletak di sudut ruangan. Dia sepertinya tidak menyadari kehadiranku yang sudah berada tepat di belakangnya. Bahkan, aku bisa melihat buku apa yang sedang dia baca. Jujur, aku sedikit terkejut menemukan sebuah satra Perancis milikku. Sepertinya Aku tidak sengaja membawanya dan menaruhnya di sini. Saat aku kuliah, aku sempat mempelajari Bahasa Peracis. Semua itu berkat Dad yang terus memaksaku agar terlihat seperti dirinya di masa muda. Awalnya Dad berhasil menyeretku mengikuti summer course di Paris. Tapi setelah acara itu selesai, aku malah menyukai bahasa Perancis. Bahkan, aku jadi ketagihan untuk terus belajar bahasa Perancis dan mulai menyukai membaca beberapa novel aslinya. “Kamu bisa bahasa Perancis?” bisikku tepat di telinganya. Rysta tersentak pelan. Bahkan tanpa sadar novel di tangannya terjatuh di lantai. Dia dengan sigap membalikkan dirinya menghadapku, menatapku dengan pandangan frustasi sekaligus kesal. “Ada yang salah?” tanyaku masih berbisik. “Kamu mengejutkanku!” Aku terkekeh pelan. “Ternyata kamu memang benar-benar tidak bisa membaca pikiranku ya, Rys. Aku sudah di sini menunggumu membaca satu halaman novel itu .” “Aku tahu aku tidak bisa membaca pikiramu. Tolong, jangan terus mengingatkan hal itu, rasanya menyebalkan!” Rysta merunduk di hadapanku untuk mengambil novel yang terjatuh di lantai. Buru-buru dia mengembalikannya ke tumpukkan novel-novel lainnya. “Kamu bisa bahasa Perancis?” tanyaku mengulangi lagi pertanyaanku. “Parlez-vous français?” “Oui,” bisiknya pelan. “Kamu wanita penuh kejutan, Rys.” Aku menyeringai padanya. Tanganku dengan sedirinya meraih lengan Rysta dan kutarik menuju sofa. Aku baru teringat bahwa kehadiran gadis itu ke sini jelas bukan untuk membaca novel milikku. “Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku, Rysta?” Rysta menghela napas dalam, lalu menatapku dan bersiap-siap berbicara, “Jadi begini…, apa kamu yakin akan membawaku ikut menghadiri pesta dengan rekan bisnismu nanti malam?” “Tentu saja, kenapa?” “Aku rasa…, aku tidak pantas untuk menghadiri pesta seperti itu. Sant lebih cocok mendampingimu.” Aku menggeleng tegas. Tidak mau dibantah. “Dia akan di sana berpasangan dengan Louis dan kamu yang akan mendampingiku nanti. Kamu sekertarisku, kamu bekerja di bawahku, dan Sant serta Louis tahu bahwa kamu adalah kekasihku. Jadi, tidak ada alasan untukmu mangkir menemaniku nanti malam, Miss.” “Tapi,” Rysta terdiam dan mengalihkan pandangannya dariku, lalu menatapku kembali setelah beberapa saat. “Kamu memberitahuku ini hanya sebuah acara untuk mempersatukan kembali Sant. Aku bahkan tidak tahu bahwa nantinya akan ada pesta yang harus hadiri. Sen, aku tidak membawa gaun apa pun, kecuali gaun non-formal ini.” Dia kembali tersipu. Jelas terlihat di matanya, bahwa dia malu mengatakannya. Tanpa sadar aku terkekeh pelan saat melihatnya seperti itu. “Aku kira kamu benar-benar menolaknya, ternyata hanya masalah sepele seperti ini. Kamu bisa berbicara pada Sant dan dia akan menolong masalahmu.” Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Thanks. Sebenarnya ada satu lagi.” “Apa?” “Regan, apakah dia ada di sana?” tanyanya. Ada ketakutan yang terlihat jelas di kedua matanya. “Aku tidak tahu. Tapi tenang saja, jika dia berada di sana, aku di sana untuk menyelamatkanmu. Aku akan berada di sisimu nanti malam.” Dia mengangguk dengan memamerkan senyum tipis. Anehnya aku merasa aneh dengan senyum itu, terasa familiar dan juga hangat di hatiku. Aku hanya bisa menghela napas pelan, membiarkan otakku ini. Perlahan dia beranjak dari kursinya. “Thanks for your help, Sen.” “You will pay for this, Miss.” Rysta mengangguk kembali. Segera saja dia beranjak meninggalkan kamarku. Rasanya ini cukup aneh dan juga mendebarkan. Untuk pertama kalinya aku berjanji untuk melindungi seorang wanita. Bukan hanya itu saja, dia juga membutuhkanku, menyenangkan, bukan? Tanpa bisa kucegah senyumku tersungging tepat saat pintu kamar tertutup sempurna. ***** “Aku tidak pernah menyangka bahwa akhirnya kamu memiliki seorang kekasih. Kupikir, selama ini kamu memiliki orientasi yang berbeda, bahkan aku sempat takut bahwa mungkin kamu menyukaiku.” Seketika aku melirik tajam pria yang tengah berdiri di sampingku. Mataku memelototinya. Apakah kepalanya kebentur hingga dia berfikir aneh seperti itu? Pria itu, Louis. Tubuhnya dibalut jas berwarna perak yang memang dijahit khusus untuk dirinya. Setelan perak-perak. Rambutnya ditata serapi mungkin membuatnya semakin berwibawa. Kalau kata adik kembarku, pria ini sangat amat tampan. Louis terkekeh pelan. Dia jelas menghiraukan tatapan membunuhku untuknya. Dengan santainya dia berjalan menduduki sofa di ruang tamu. Kalau saja Louis ini bukan pria yang sangat dicintai oleh adik kembarku atau pria yang sejak kecil telah menjadi sahabat kami, sudah kupastikan dia tidak akan selamat karena mengataiku. Padahal dia jelas-jelas tahu, apa alasan ketidaktertarikanku dengan para wanita di luar sana. “Menyukaimu? Are you dreaming or crazy? Kalau aku memang seorang gay, kamu adalah pria terakhir yang akan kuincar.” “Oh, man. Kalau aku tidak setampan itu, tidak mungkin Sant begitu mencintaiku,” ucapnya angkuh. Aku mendengus kesal. “Dia hanya tidak punya pilihan lain selain dirimu, bodoh! Sudahlah, mereka lama sekali, memangnya berdandan selama itu?” “Namanya juga wanita. Makeup for women are something important. They can't be a rush with that. It's like a man build a lego. Padahal jelas-jelas di mataku, Sant adalah wanita tercantik yang pernah ada bahkan tanpa riasan sekalipun.” Louis tersenyum sembari menerawang jauh. Tanpa sadar aku turut tersenyum melihat ekspresinya yang begitu tulus terhadap adikku. Setidaknya aku tidak salah memberikan kepercayaanku pada Louis untuk menjaga Sant. Mereka benar-benar saling mencintai. Sekarang, aku hanya ingin mengatainya bodoh karena Sant pernah melepaskan Louis begitu saja. “Maaf membuat kalian lama menunggu. Aku benar-benar bahagia, akhirnya aku memiliki teman yang bisa kuajak untuk berdandan bersama dengan selera yang sangat bagus.” Suara ocehan Sant terdengar jelas. Kami berdua serentak menoleh menuju sumber suara. Di ujung tangga, terlihat Sant mengenakan strapless long dress berwana perak dengan belahan kaki gaun yang cukup tinggi hingga menampakkan kaki jenjang miliknya. Tapi, itu sama sekali biasa saja menurutku. Bertahun-tahun hidup dengannya, aku sudah melihat lebih dari sekedar itu. Apalagi, dia adik kandungku. Namun, mataku seketika melebar saat tatapanku jatuh kepada wanita lain yang menyusul di belakang Sant. Rysta memesona. White long dress berlengan panjang yang dia kenakan terlihat sempurna di badanya. Walaupun sebenarnya gaun itu berpotongan sederhana dan juga konvensional, tapi dia malah tampak begitu anggun. Rambut panjang hitamnya dicepol kecil dan dihiasi oleh bandana berbentuk mahkota kecil. Dia terlihat seperti tuan putri. Cantik. Sempurna. Senyumku mengembang tanpa sadar, bahkan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Rysta. Dia membuatku terpesona dengan kesederhanaannya dan kejutan-kejutan yang tidak terduga darinya. “Cantik bukan? Kamu memilih wanita yang sangat cantik, cerdas dan tentu saja pandai berdandan. Astaga, kami benar-benar cocok.” Aku menoleh dan mendapati adikku sudah berdiri di sampingku. Dia juga sama kagumnya dengan penampilan Rysta malam ini. Rysta tersenyum kepada Sant sembari terus menuruni anak tangga. Aku jadi sedikit iri ketika dia hanya melemparkan senyumanya pada adikku, bukan padaku. Tepat pada anak tangga terakhir, kakiku berjalan dengan sendirinya mendekatinya dan mengulurkan tanganku. “Maukah kamu menjadi teman kencanku malam ini, Rys?” tanyaku pelan. Dia mengangguk sembari meraih tanganku. Aku segera menggenggamnya erat sembari berjalan mendekati sepasang kekasih di dekat kami yang tengah dimabuk asmara. Sant terus melemparkan tatapannya pada kami. Senyum lebarnya mengembang di wajahnya. “Aku benar-benar bahagia melihatmu seperti ini, Sen. Kalian berdua serasi dan aku berharap kalian benar-benar berakhir bahagia nantinya.” Aku hanya tersenyum tipis saat menyadari sebuah kenyataan, bahwa semuanya hanya pura-pura belaka. Semua hal, tentang kami. Tapi sebuah fakta baru saja menyentakku, aku baru saja mengakui bahwa aku telah jatuh ke dalam pesona gadis sederhana dan sebawel Rysta. ***** Pesta berjalan dengan meriah di FAL BALI. Rekan-rekan pembisnis yang diundang adalah mereka yang pernah menjalin kerja sama atau pernah hampir menjalin kerja sama. Rysta masih setia berjalan di sampingku, tanpa canggung. Bahkan aku terus memperkenalkannya sebagai kekasihku, bukan bawahanku. Awalnya dia protes, tapi karena lagi-lagi aku mengingatkan tentang Sant, akhirnya dia diam. Tiba-tiba aku merasakan seseorang menarikku kuat-kuat menuju ke sudut ruangan. Mataku melirik Rysta yang tampak kesusahan menarikku. Matanya menunjukkan sorot ketakutan dan aku bisa menebak apa yang dia pikirkan saat ini. “Apa yang kamu lakukan, Rysta?” “Regan di sini.” Aku menghela napas dalam. “Lalu?” “Oh, no, dia mengetahui keberadaan kita.” Dia terlihat semakin tidak nyaman. Bahkan, saking paniknya, dia langsung melepaskan genggaman tanganku dan berjalan meninggalkanku. Beberapa saat aku kebingungan dengan tingkahnya, hingga akhirnya kakiku berjalan cepat untuk mengejarnya. “Rys!” desisku sembari menarik kembali tangannya agar dia tidak pergi begitu saja. Apalagi di tengah keramaian seperti ini, akan sangat kesulitan menemukannya. Bagaimana kalau dia sampai bertemu dengan Regan sendirian dan aku tidak ada di sana untuk menolongnya. Ya Tuhan, kenapa aku terus memikirkan hal seperti ini. “Apa yang kamu lakukan?” “Dia melihat kita, Sen. Aku takut dia berpikir macam-macam.” Kepalaku menggeleng mendengar ucapannya. Tanganku dengan kasar menarik Rysta dan membuat badannya menghadapku sepenuhnya. Kepalanya merunduk, dia berusaha menyembunyikan diri. Padahal sejak tadi, saat dia bersamaku, kepalanya terangkat penuh percaya diri. “Hei.” Aku meraih dagunya dan mengangkat kembali wajahnya. Membuat kedua mata kami saling bertatapan. Kedua mata cokelat terangnya, menyorotkan ketakutan dan juga kekhawatiran. Salah satu tanganku yang bebas meraih tangannya untuk kugenggam. “Look into my eyes,” bisikku. “Ya.” “Dia sudah tidak mencintaimu.” “Aku tahu,” suaranya serak. “Angkat dagumu tinggi-tinggi, Rys. Tunjukan padanya, bahwa kamu wanita hebat tanpanya.” “Aku … tidak bisa.” Dia terlihat ragu. “Kamu bisa, harus bisa. Aku akan membantumu, percayalah. Kamu pasti bisa.” Kedua matanya perlahan terpejam dan setetes air mata turun. Tanganku segera meraih kedua pipinya untuk kuhapus. Kemudian, kudorong pelan tubuhnya ke dalam pelukanku. Dia terluka, mencintai pria begitu dalam tapi ternyata hanya dimanfaatkan. “Anggap saja aku memang benar-benar kekasihmu. Aku akan membantumu membuatnya menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita sehebat dirimu, Rys.” Dia mengangguk di dalam pelukanku. “Dia mendekat kemari.” “Aku tahu. Jadilah wanita bahagia, Rysta. Hapus air matamu. Show time!” Aku melepaskan pelukan kami dan segera meraih pinggang Rysta. Akan aku tunjukkan pada dunia bahwa Rysta memanglah milikku. Dari sudut mataku, aku bisa menemukan Regan berjalan mendekati kami dengan seorang wanita yang tidak asing bagiku, tapi aku sama sekali tidak mengingatnya. “Dia bersama Jessica,” bisik Rysta tepat di telingaku. Segera aku menuntunya berjalan mendekati mereka, seolah tidak ada masalah yang terjadi di antara kami. Regan bersama Jessica ternyata juga mendekati kami. Regan terlihat percaya diri dengan balutan tuxedonya, sedangkan Jessica terlihat arogan dalam balutan long dress merah menyalanya. “Regan Xander,” ucapku saat kami berempat saling berdiri berhadapan. Aku menyungingkan senyum tipis padanya. “Chriseon Kendrick,” balasnya sembari mengulurkan tangan kepadaku. Aku membalas jabat tangan singkat kami. Tatapan Regan jatuh pada Rysta, kemudian kembali menatapku. Dia berdeham pelan. “Aku tidak percaya bahwa kalian … sepasang kekasih.” Suaranya jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Sayangnya, Aku memilih untuk menyunggingkan senyum sopan padanya. Aku lebih ingin menunjukkan bagaimana caranya menjaga wanitaku dengan benar. Tanganku mulai semakin rapat menarik Rysta ke dalam dekapanku. Awalnya dia sedikit menolak, membuatku harus merundukkan kepala untuk berbisik padanya. “Aku di sini,” bisikku lalu mencium pipinya seklias. “Setidaknya –“ Aku menghentikan ucapanku, lalu menjatuhkan pandanganku kepada wanita di samping Regan. “Kami tidak berselingkuh. Kami berkencan saat anda sudah mencampakan Rysta.” Kedua mata Regan seketika melebar mendengar ucapanku. Regan terlihat seperti seseorang yang baru saja kepergok tengah berselingkuh oleh kekasihnya, tapi kenyataannya memang seperti itu. “Kamu mengetahuinya, Ry?” suara Regan merendah. “Anda bilang anda pintar. Anda tahu segalanya tentang Rysta, bukan? Kenapa Anda masih bertanya apakah Rysta tahu atau tidak, bukankah Anda sendiri yang memanfaatkan dia dan rahasia kecilnya?” balasku dan terlihat jelas bahwa aku benar-benar marah padanya. Tubuh Rysta menegang saat mendengar ucapanku. Tapi ketika tanganku mengusap punggung telanjangnya, dia kembali tenang. Kulitnya halus, aku menyukainya. Ya Tuhan, aku mulai melantur seperti ini. Rysta tiba-tiba memutar tubuhnya menghadapku. Kedua tangannya meraih wajahku dan mengelus pelan pipiku. Mata kami saling beradu. “Setidaknya pria di hadapanku ini mencintaiku dengan tulus dan tidak memanfaatkanku.” Dia menghadap Regan kembali sembari tersenyum penuh percaya diri. “Setidaknya Re, aku bahagia dengan keberadaan Sen di sampingku. Terima kasih sudah mencampakkanku dan membuat Sen menarikku keluar dari ruanganmu waktu itu.” Regan seperti kehabisan kata-kata. Tanpa menunggu lebih lama, Rysta segera berbalik. Tangannya meraih tanganku, kemudian menarikku menjauh. Aku terus mengikutinya berjalan menjauhi keramaian. Keramaian yang sibuk hingga tidak menyadari obrolan tegang antara kami bertiga. Aku kembali menatap wajah Rysta yang berada di depanku. Aku tahu wanita ini benar-benar berusaha sekuat tenaganya untuk terlihat baik-baik saja dan terlihat begitu menyukaiku. Tapi, mata cokelat terang yang kutatap tadi berkata sebaliknya. Wanita ini menderita. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN