PART. 2 MENIKAHLAH DENGANKU

880 Kata
Arya mengambil dompet dari dalam tas yang dipegangnya. Selembar kartu pelajar dari salah satu Pondok Pesantres di temukannya. "Siti Aisah Humairah" Arya mengeja nama yang tertera di kartu pelajar perlahan. 'Ternyata benar dugaanku, dia Aisah, putri Paman Ipin dan Acil Siah' Arya menatap wajah Aisah dengan lekat. Mata gadis berhijab putih itu masih terpejam rapat. 5 tahun tidak bertemu Aisah, Arya merasa tidak banyak yang berubah darinya, selain tubuhnya yang bertambah tinggi dan besar tentunya. Tubuh gendutnya saat masih anak-anak, tampaknya terbawa hingga Aisah remaja. Meski tidak segendut dulu, tapi tubuhnya masih terlihat sangat berisi. "Ais" Arya menepuk pipi Aisah pelan. Menurut dokter tidak ada luka yang mengkhawatirkan, Aisah pingsan hanya karena kaget saja. Begitu dia sadar bisa langsung pulang. Arya menatap mata Aisah yang terpejam, bulu matanya yang tebal hitam dan lentik itu terlihat bergerak, sesaat kemudian mata Aisah terbuka. Bola mata hitam dan bening langsung menatap wajah Arya. Aisah menyipitkan matanya, dipijit kepalanya yang terasa pusing. Aisah berusaha bangkit, Arya membantunya. Mata mereka bertemu pandang, Aisah beberapa kali mengerjapkan matanya. "Masih ingat aku?" Tanya Arya sambil menunjuk dadanya sendiri. "Aa Arya?" Ucap Aisah bernada tanya. Arya menganggukan kepalanya, Aisah mengukir senyum di bibirnya. Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu. "Ulun harus lakas bulik" (saya harus cepat pulang) Aisah turun dari atas ranjang. "Ada apa?" "Mama' wan abah pasti sudah mahadang ulun (Ibu dan Bapak pasti sudah menunggu saya) " jelas terlihat kecemasan dalam nada suara Aisah. "Biar aku antar kamu pulang, motormu aku titipkan di rumah warga tadi" "Terimakasih A' " "Tunggu aku bayar biaya pengobatanmu dulu ya" "Inggih" -- Di dalam mobil Arya, Aisah tampak gelisah. "Masih sekolah?" Tanya Arya. Aisah menggelengkan kepalanya. "Ampih (berhenti)" "Kenapa?" "Abah wan mama' kada begawi lagi ( Bapak dan ibu tidak bekerja lagi)" "Kenapa, bukannya orang tuamu masih bekerja dengan orang tuaku? Astaga, kenapa aku tidak menyadari ya selama ini kalau aku tidak pernah melihat kedua orang tuamu di rumahku" Arya baru menyadari kalau semenjak ia pulang, ia tidak melihat Pak Ipin dan Bik Siah di rumahnya. "Abah wan mama diampihi mama pian A'( Bapak dan ibu dipecat ibu kamu Kak)" "Kenapa?" "Karena dianggap lalai menjaga Bang Adrian dan Kak Devita" "Maksudnya?" Arya menolehkan kepalanya penasaran. "Harusnya tidak boleh ada perasaan antara Bang Adrian dan Kak Vita, karena Kak Vita akan jadi istri Aa, tapi...ehmmm. Aa pasti sudah tahu kelanjutannya" Aisah menundukan kepalanya. Arya menarik napas dalam, ia tidak bisa memahami jalan pikiran ibunya yang selalu saja ingin memaksakan kehendaknya. Apapun caranya, ibunya selalu ingin apa yang diinginkannya kesampaian. Dan tidak segan untuk menyakiti orang yang dianggapnya akan menghalangi jalannya. "Jadi, bekerja di mana sekarang orang tuamu?" Arya kembali menolehkan kepalanya. Dilihatnya bulu mata lentik itu tampak basah, Aisah menyeka pipinya dengan cepat. Kepalanya menggeleng pelan. "Mereka tidak bisa bekerja lagi sekarang. Ibu kena stroke sejak satu bulan lalu. Ayah mengalami kecelakaan saat berniat berjualan sayur ke pasar." Sekali lagi Aisah menghapus air mata yang jatuh di pipinya. "Sudah dibawa ke rumah sakit?" "Sudah, tapi keduanya belum memperlihatkan perkembangan" "Jadi, selama ini, dari mana kalian bisa makan?" "Ulun, bejualan sayur di pasar" "Adikmu, masih sekolah?" "Masih, Paman ading Abah yang membiayai." Mereka berdua terdiam, tiba-tiba saja terlintas sebuah rencana di dalam benak Arya. Arya melirik Aisah yang duduk di sebelahnya. "Sudah punya pacar?" "Hehh" Aisah menolehkan kepalanya ke arah Arya. Wajahnya memerah mendengar pertanyaan Arya yang tidak ia sangka-sangka. Saat Arya menatapnya, gadis itu menundukan kepalanya. "Sudah punya ya?" Arya kembali bertanya, Aisah menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba Arya menyadari satu hal, ia tidak jijik berada di dekat Aisah. 'Hmmm, mungkin karena aku sudah mengenalnya sejak dari dia kecil, jadi aku merasa tidak jijik berada di dekatnya' Arya menepikan mobilnya, Aisah menatap bingung ke arahnya. "Ada apa A'?" "Kamu ingin kedua orang tuamu mendapatkan perawatan yang terbaik, agar bisa sembuh?" Arya memutar tubuhnya, ia duduk miring dan menghadap ke arah Aisah. Aisah menatapnya kebingungan, tapi kepala gadis itu akhirnya mengangguk juga. "Menikahlah denganku" ucap Arya mantap. Mulut Aisah ternganga, matanya yang bulat membola. Ia syok mendengar apa yang baru saja diucapkan Arya. Bagaimana bisa Arya mengajaknya menikah, sedang mereka baru bertemu lagi setalah sekian lama berpisah. Bahkan mereka baru beberapa jam saja berjumpa. Dan lagi, Arya bukan anak orang sembarangan, dia dari keluarga terpandang. Sedang dirinya hanyalah anak mantan supir dan pembantu di rumah orang tua Arya. "Menikahlah denganku, maka aku akan mencukupi semua kebutuhanmu dan juga kebutuhan adik dan orang tuamu. Aku akan memberikan pengobatan terbaik pada kedua orang tuamu" ucap Arya. Aisah menggelengkan kepalanya. "Dengarkan aku Aisah, pernikahan kita bukan seperti pernikahan biasanya. Aku hanya memintamu menikah denganku, kamu tidak perlu menjalankan kewajibanmu sebagai istriku. Aku membutuhkanmu untuk menolak keinginan ibuku yang ingin menjodohkanku dengan pilihannya. Dengan aku menikahimu, aku harap ibuku bisa membatalkan perjodohan itu" ucap Arya menjelaskan. Aisah menggelengkan kepalanya. "Pernikahan bukan untuk mainan, Aa." "Baiklah, kamu tidak perlu menjawab sekarang, pikirkan saja dulu, berikan aku jawabanmu satu minggu lagi" Arya memutar kunci kontak mobilnya. Ia kembali menjalankan mobilnya menuju tempat tinggal orang tua Aisah. Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka, meski batin mereka berdua sama-sama tengah dalam pergolaka. Terutama batin Aisah, ia tidak pernah bermimpi akan mendapatkan tawaran semacam itu di dalam hidupnya. Ia tidak pernah bermimpi atau berharap melebihi apa yang diperkirakan akan bisa diraihnya. Ia cukup tahu diri siapa dirinya. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN