Playboy kumat

1137 Kata
“Delina... Del, tungguin aku.” Chaca sedikit berlari ke arah sahabatnya yang sudah jalan lebih dulu. “Apaan? Semangat bener kamu hari ini, dapet jatah dari suamimu?” Goda Delina menunggu sahabatnya. “Enak aja jatah, dia aja kan aku yang gaji.” Apa yang ada di otak Chaca ternyata masih belum sampai ke percakapan orang dewasa. Deliha hanya berdecak. “Ck, bukan itu, dodol.” Kata Delina mendorong Chaca dengan telunjuk tepat di keningnya. “Jangan sentuh di sini dong, Di cium ini tadi pagi.” Kata Chaca menunjukkan ekspresi tidak suka. “Cie... Ada perubahan ni.” Delina yang mendengar sahabatnya di cium oleh suaminya pun ikut senang. “Jangan godain terus, aku malu.” Wajah merah Chaca tidak bisa di sembunyikan lagi. Kelihatannya, perlakuan kecil suaminya, sungguh sangat berarti baginya. “Kamu tau gak, semua yang kamu ajarkan padaku kemarin? Aku lakuin buat Satya tadi pagi.” Chaca bercerita dengan penuh semangat. “Berhasil?” tanya Delina ikut bersemangat. “Hmmm, enggak.” Jawab Chaca kehilangan semangat. “Waduh, kenapa?” tanya Delina. “Aku hampir membakar dapur apartemen Satya.” Jawab jujur Chaca. “Apa?” Delina berteriak. Keadaan mereka kini sudah berada di kantin. Banyak sekali pasang mata yang melihat ke arah keduanya. “Kecilin suara kamu.” Bisik Chaca melihat ke sekitar. “Maaf, terus-terus? Kok bisa kamu dapat ciuman dari orang kutub itu?” Delina semakin penasaran. “Hmm, aku mengatakan semua keinginan aku. Buatin sarapan untuk menjadi istri idaman, yang menarik perhatian seseorang dari perutnya. Tapi Satya malah ketawa, dia bilang. Standar dia tidak di sana, tapi dengan terus nurut sama dia aja sudah bisa buat Satya tertarik.” Kata Chaca mengatakan bagaimana dia mendapat ciuman pagi ini. “Ih, Satya kok romantis sekali sih?” terlihat Delina sangat iri. “Bukan Cuma itu, Satya juga bilang. Kamu bisa masak atau tidak, itu tidak ada pengaruhnya buat aku. Kamu istri aku, satu-satunya tempat ku pulang. Dan itu dia katakan tadi sebelum aku keluar mobil.” Terpancar jelas raut bahagia dari sahabatnya, dan Delina tidak bisa menahan rasa irinya lagi. “Chaca... Satya punya sodara gak sih? Aku mau satu yang kaya dia...” rengek Delina. “Ada, satu kakak cowok dan dua adik cewek cowok. Posisi suamiku itu anak kedua dari empat bersaudara.” “Boleh tu, kenalin aku sama kakaknya dong.” Ucap Delina bersemangat. “Kamu mau melangkahi aku? Mereka belum menikah sih, tapi antara punya pasangan atau tidaknya. Aku tidak tau.” Kejujuran memang selalu menyakitkan. Pepatah itu bukan hanya isapan jempol belaka, karena memang menyakitkan saat mendengar sebuah kejujuran. Tidak, Delina tidak boleh mikir soal kakak ipar sahabatnya. Menjadi anak dari orang yang cukup kaya, Delina sadar. Pernikahan dia sudah di atur oleh orang tuanya. Entah sejak kapan, mungkin sejak dia masih menjadi zegot. Mengsedih, gak sih? Sedih lah. Siapa yang tau jodohnya nanti seorang kakek tua yang lupa menikah. Setelah mencuri dengar perbincangan orang tuanya kemarin. Delina merasa semakin was was. Seorang CEO dari anak perusahaan besar di negara ini. Dengan pendapatan bersih di atas dua juta dolar perbulan. Kalau dia masih muda, itu bohong. Mana ada anak muda yang memiliki penghasilan bersih masuk kantong sendiri segitu? Atau jangan-jangan, dia sebenarnya seorang duda berkali-kali? Istrinya terdahulu menjadi tumbal untuk kekayaannya. Tidak, keluarga dari kakak ipar Chaca mungkin bisa menyelamatkan dirinya. Iya, pasti bisa. Mengingat Satya ternyata bukan sembarangan. Kalaupun mendapatkan kakak atau adiknya, tidak akan rugi. Katanya kan mereka bertiga kembar. “Kenalin aku sama kakak atau adiknya dong.” Rengek Delina yang mendapat tatapan tajam dari seseorang yang tidak di sadari kedatangannya sejak sepuluh menit yang lalu. “Kakak atau adik siapa? Jangan mikir kakak dan adikku. Mereka orang-orang penting, gak mungkin tertarik sama gadis berisik kayak kamu.” Ini adalah ucapan Satya pertama yang di dengar oleh Delina setelah sekian lama. “Aduh, Abang ganteng.... Jangan pelit dong. Kalau gitu, aku mau jadi istri kedua mu deh.” “Mulut di jaga neng. Tau gini, gak akan aku mau kenal sama kamu.” Chaca terlihat sangat jengkel. “Makanya, kenalin aku sama saudara ipar kamu.” Delina memelas. “Ya’, kenalin aja. Aku gak mau dia jadi pelakorku.” Mau tidak mau, Satya menyetujui keinginan istrinya. Dia juga gak mau istrinya berpikiran jelek terhadap dirinya. “Ya, dia juga ada di sini kayaknya. Katanya mau ketemu Thomas.” “Serius pak Thomas itu masih bersaudara dengan kamu?” Delina mengingat dosen galaknya itu mengatakan kalau dia ada hubungan dengan keluarga Husain. “Kalian kenal?” keduanya mengangguk. “Kamu ingat bunda Nova? Thomas itu anaknya.” Satya mengingatkan. “Bunda? Astaga, jadi dia beneran sodara kamu?” Chaca terkejut dengan apa yang dia dengar. “Tidak ada hubungan darah. Hanya saja, bunda Nova itu adalah satu-satunya orang yang terus berada di samping mama sejak masih muda. Kayak kalian gini, bersahabat.” Jelas Satya yang juga baru mendengar semua cerita itu pagi ini. Perbincangan mereka terhenti ketika dua orang dengan postur tubuh yang bisa di katakan sempurna datang. Wajah tampan yang tak ada bedanya dengan suami sahabatnya, membuat Delina sesak napas. “Ini istri kamu? Cukup membagongkan bagi ku.” Thomas yang terkenal dingin di kampus, tiba-tiba tersenyum manis. “Gak usah godain kakak ipar ku. Penyakit play boy mu gak ilang-ilang juga, udah sekian tahun. Jangan di tanggapi dia kak, orangnya memang resek.” Kata Andra yang duduk di dekat kakaknya. “Emang jodoh itu aneh. Dia itu mahasiswa yang sering aku ceritain tu. Males, bodoh juga berisik. Maaf bro, aku gak tau kalau dia istri kamu sebelumnya.” Kata Thomas yang sedikit tau batasan. “Dia memang bodoh, apa yang perlu di maafin?” semua tercengang dengan pengakuan Satya. “Aku istrimu Ya’, jangan di jatuhin gitu dong.” Dengus Chaca tidak suka. “Kalau tidak bodoh, apa namanya? Pagi-pagi sudah mau bakar apartemen.” Kata Satya santai. “Delina itu suruh tanggung jawab, dia yang bilang. Kalau mau jadi istri idaman, harus bisa memuaskan perutnya.” Tak mau di salahkan, Chaca malah membawa-bawa sahabatnya. “Hahahaha, gak bisa masak jangan di paksa. Lagian, buat apa suamimu kerja kalau gak bisa manjain cewek manja kayak kamu?” gelak tawa Thomas menjadi. “Aku kasih tau kamu sebagai murid ku. Mau menjadi istri idaman itu tidak harus bisa memuaskan perut. Tapi bisa memuaskan bawah perut, itu paling utama.” Uhuk Satya yang tidak makan apa-apa, tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri. Pembahasan ini sungguh di luar nalar. Chaca masih memiliki pemikiran anak kecil, gak mungkin dia bisa mendengar hal sefrontal ini. “Minum, Ya’.” Chaca memberikan minuman yang masih belum di buka. “Gak usah dengar dia kak, sekarang kalian bareng-bareng aja semua udah seneng. Anak ini memang kurang didikan, gak bener jadinya.” Andra mengambil alih pembicaraan. “Ganteng, sapa aku dong.” Malu-malu Delina angkat bicara. “Udah kenal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN