Bodat

1096 Kata
Krik krik “Sejak kapan kamu kenal cabe?” Thomas Hilman adalah orang yang paling mengenal Andra dan Zein. Lelaki ketiga dari tiga saudara kembar itu memang orang yang paling males mengenal cewek rame. Biasanya mereka nyebutnya cabe. “Kamu anak Burhan kan? Adiknya Rizal.” Bukannya menjawab, Andra lebih memilih mengajukan pertanyaan pada Delina. “Iya.” Jawab Delina kaget. “Tunggu, Rizal bodat?” Andra hanya mengangguk. “Sejak kapan dia punya adik cewek?” Thomas masih tidak percaya. “Abangku namanya Rizal, tapi bukan Rizal bodat. Dan bener aku anak pak Burhan, kalian kenal?” Delina jarang peduli dengan kakak atau papanya berteman dengan siapa. Hanya saja, kenapa kedua lelaki tampan ini tau dengan keluarga Delina. “Pacar kakakmu Anggia kan?” tanya Andra. “Anggia bodat, body padat hahahahaha.” Memang dasar Thomas, dia paling tidak bisa menahan rasa julidnya. “Pak Thomas, kenapa harus dingin dan galak sih. Kalau tawa dan senyum bapak semanis ini?” emang dasar Delina. Chaca yang ada di sampingnya pun hanya bisa membelalakkan mata sambil menutup mulut. Bagaimana bisa, sahabatnya ini melancarkan gombalan ke dosennya. Mati kau Delina, mati. Pasti habis ini kau di ingat dan di lingkari oleh si kutub ini. Rasakan, aku tidak akan mau membantumu menyelesaikan tugas yang akan di beri olehnya. Batin Chaca ingin menangis. “Astaga, aku di gombalin anak didik sendiri. Hahahaha, awas Rizal ngamuk entar.” “Gak usah ganjen, inget perjodohanmu udah makin Deket ketemuanya.” Ucapan Andra mengagetkan Chaca. “Bener itu, Lin?” Delina tidak bisa membantah lagi. Dia hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan Andra. “Terus kenapa kamu minta di kenalin ke ipar-ipar ku? Kurang kerjaan emang, bisa-bisa aku di siram air comberan Ama papa mu.” Lanjutnya. “Maaf Cha, aku Cuma takut aja. Yang aku dengar orang itu kaya raya. Perbulan aja penghasilannya sekitar dua juta dolar. Gak mungkin dia lelaki muda. Pasti dia perjaka tua yang lupa menikah...” Uhuk, Andra tersedak minuman yang baru ia minum. “Kalau tidak, pasti dia duda berkali-kali. Dan istrinya di jadiin tumbal kekayaan dia.” Delina tak tau harus berbuat apa sekarang. “Kamu kalo nuduh orang gak di saring dulu ya? Astaga, semoga jodoh mu itu nanti di perjalanan keselek biji salak.” Entah kenapa Andra menjadi sangat sensitif. “Biar saja, jadinya aku janda tanpa harus menikah.” “Ini temen kamu Cha? Besok-besok retur aja ke rahim ibunya.” Satya sekali berbicara langsung mengena. “Jangan gitu, Ya’. Kamu juga sih Lin, di mana-mana. Yang namanya janda itu udah nikah, kalo belum nikah yang gak janda.” Jelas Chaca jengkel oleh temannya yang di anggap lebih pintar darinya. “Ya bukan gitu Cha, rasanya aku mau kawin lari aja sama orang yang mau.” Kata Delina sedih. “Gak ada harga dirinya sekali sih!” seru Andra. “Kak, kakak mau nikahin aku? Aku gak nolak kok, biar bulananmu Cuma puluhan juta rupiah. Aku ikhlas ikut kamu.” Kata Delina memohon pada Andra. “Dih, maksa. Pantang bagiku menikah, sebelum kak Zein sama Yuna menikah duluan. Lagian, kaya udah kebelet banget mau nikah. Kenapa, gatel? Garuk aja di kamar mandi.” Cibir Andra. “Emang kapan katanya kak Zein menikah?” tanya Chaca penasaran. “Bulan depan.” “Lin, sabar nunggu bulan depan. Baru ajak Andra menikah lagi. Kan kamu jadi kebebas dari perjodohan itu.” Saran Chaca membuat Satya dan Thomas menahan tawa. “Apaan, kagak-kagak. Enak aja.” Sewot Andra. “Aku penasaran, bagaimana bisa kamu nikah sama orang ajaib ini?” tanya Thomas pada Satya. “Terpaksa,” jawab Satya singkat. Mendengar hal itu Chaca kembali dengan perasaan tak enaknya. Selama perjalanan pulang ke apartemen, Chaca hanya diam tak berbicara. Semalam dan tadi pagi, dia sudah bisa merasa kalau Satya, suaminya. Menerima dirinya sebagai istri yang di miliki olehnya. Tapi rasa itu hancur tiba-tiba karena ucapan Satya pula. Satya senang melihat Chaca diam, setidaknya tidak mencemari pendengarannya dengan kata-kata randomnya. “Aku mau ke kantor.” Satya kaget mendengar apa yang di katakan Chaca. “Tumben? Sekarang kita masih cuti lo.” Ucap Satya bingung. “Itu kantorku, bukan kantormu. Aku bebas mau kapan saja datang.” Kata Chaca acuh. “Baiklah. Tapi aku mau libur, ingin tidur di rumah.” Kata Satya yang tidak ingin di repotkan oleh istrinya. Setelah mengantar Chaca ke kantor, Satya benar-benar pulang ke rumah. Dia kini berada di kamar lantai dua di kediaman Husain. Biar tidak menginap, asal siang dia tidur di rumah itu. Pasti orang tuanya akan bahagia. Langit menghitam, bulan purnama menampakkan diri di peraduan. Bersama sang bintang, cahayanya menerobos masuk ke dalam kamar Satya. “Sial, sudah jam setengah delapan. Chaca pasti ngomel kalau gak di jemput.” Satya menggerutu pada dirinya sendiri yang sudah tidur seperti orang mati. “Satya, makan dulu sebelum pulang. Ini ada calon kakak iparmu.” Gia menahan putranya. Putra mana yang mau menghapus senyum sang ibu? Dengan terpaksa, Satya duduk di dekat ibunya. Memakan apa saja yang di berikan oleh Gia untuknya. “Chaca mana? Gak ikut?” tanya Gia santai. “Chaca tadi minta di antar ke kantor. Satya kelamaan tidurnya, jadi lupa jemput.” Jelas Satya. “Chaca itu istri kamu?” tanya Yuna. “Iya, nanti kamu juga akan tau. Sekarang makan ini, ini baik untuk bayi dalam perutmu.” Zein memperlakukan kekasihnya itu penuh kasih sayang. “Terima kasih.” Yuna selalu sedih setiap kali di bahas masalah bayi dalam perutnya. Gia melihat raut sedih itu langsung mengambil alih perbincangan. “Jangan sedih, mama dan papa akan terus membuat kamu melupakan kejadian itu. Lagian, orang itu juga sudah di tahan polisi.” Gia menghibur Yuna. “Terima kasih ma.” Makan malam berjalan sekitar setengah jam. Satya segera melesat ke kantor dan mencari istrinya. Ruangannya sudah gelap, tapi dia tidak menerima satu pesan pun dari Chaca. Ke mana istrinya ini saat ini. “Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan....” Aneh, sejak kapan Chaca tidak mengaktifkan ponselnya? Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Satya segera bergegas pergi, dia mengabaikan setiap teriakan yang menyebut namanya. Baginya, Chaca lebih penting sekarang. “Non Chaca tadi di jemput orang pak,” jawab satpam ketika Satya menanyainya. “Siapa yang jemput? Mobil apa? Ke arah mana?” Satya panik, ini pertama kalinya Chaca pergi tanpa berpamitan padanya. Ini tidak benar. “Tidak tau siapa yang di dalam. Tapi mobilnya saya tau. Ini saya mencatat nomor polisinya, ke arah sana. Mungkin makan dulu, coba susul dulu pak.” Kata satpam menyerahkan secarik kertas pada Satya. “Terima kasih.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN