Satya mencari dan terus mencari, pikirannya kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih, hasilnya dia pergi ke bar.
Entah apa yang dia pikirkan saat ini, yang dia pikir bisa menemukan istrinya di tempat laknat itu.
“Sial benar nasip ku, punya suami tapi Cuma status aja. Hahahaha...” Gelak tawa Chaca terdengar sangat nyaring di telinga Satya.
Dia tidak tau dengan siapa istrinya ke tempat ini. Tapi yang jelas, Satya sangat murka mendengar apa yang di katakan Chaca.
“Ya kamu yang setres, sudah tau di awal kalau gunung es itu gak cinta. Masih aja minta di nikahi, siapa yang salah sekarang?” kata salah seorang lagi. Dia bukan Delina, dia juga sepertinya bukan karyawan di perusahaan. Lantas, siapa dia?
“Sintia, kamu tau kan aku tidak pernah sekali pun di tolak? Tapi Satya, dia satu-satunya orang yang membuat ku penasaran. Dan kau tau, dia bilang di depan adik dan sahabatnya kalau menikahi ku sebuah keterpaksaannya? Kenapa gak nolak saja?”
“Iya, habis itu kamu mati dan gak ada di dunia ini lagi. Hahahaha picik otakmu berpikir. Sudah, nikmati minuman ini. Malam ini aku traktir kamu.” Sintia, bukankah dia musuh dari Chaca sejak SMA? Kenapa bisa sedekat ini?
“Sintia, aku pinjem pacarmu dong. Aku mau hamil, biar di buang Satya, aku masih punya tumpuan dan tujuan hidup.” Ucapan Chaca semakin tidak bisa di kendalikan.
Satya tak tahan lagi mendengarkan apa yang di katakan istrinya. Dengan amarah yang meluap di dalam diri, Satya langsung mengangkat Chaca dan membawanya pergi.
“Lepas, nanti aku gigit rabies kamu.”
Hik
Chaca terus berontak dan berusaha menggigit bahu Satya yang menggendongnya. Sakit, tapi Satya menahannya.
Amarah Yang ada di dalam diri Satya tidak bisa merasakan sakit gigitan Chaca.
Bruk
Satya membanting Chaca di atas tempat tidur. Chaca yang setengah sadar malah tertawa girang. Apa yang di bayangkan Chaca saat ini? Padahal dia tengah berhadapan dengan iblis pencabut nyawanya.
“Apa ini yang aku ajarkan padamu selama ini? Masalah yang selalu di lampiaskan ke minuman!” amarah Satya tidak bisa lagi di bendung.
“Hahahaha, siapa yang ngajari? Minum tinggal minum, apa susahnya? Hik...” Chaca membuka bajunya dan melempar ke sembarang arah.
“Chaca, jangan keterlaluan!!” Satya sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
“Aku keterlaluan? Bagaimana bisa? Hahahaha.... ganteng, mau bikin anak sama aku? Suamiku gak cinta aku, pasti habis ini dia ninggalin aku. Dia kaya raya, aku hanya rakyat jelata....” Satya langsung membawa Chaca ke kamar mandi, mengguyur wanita setengah sadar itu dengan air dingin di tengah malam gelap.
“Sarap kamu Ya’!” sepertinya Chaca sudah tau siapa yang ada di depan matanya.
“Mau kamu apa? Kenapa kamu pergi ke tempat-tempat seperti itu lagi? Apa kamu mau pisah dari aku? Aku kabulkan!” emosi, Satra sudah tak bisa lagi menahan gelombang amarah dalam diri.
“Ya, aku mau pisah! Aku mau menikah sama orang yang mencintai aku. Bukan dengan orang munafik seperti kamu. Kamu sudah tidak ada hutang apa-apa pada keluargaku. Pulang sana ke keluargamu!” Chaca basah kuyup keluar dari kamar mandi.
Hari ini dia mengenakan dress hijau muda dengan kemeja yang di lempar tadi. Chaca basah kuyup berusaha keluar dari apartemen mewah Satya. Tapi, sebelum dia bisa keluar, Satya sudah kembali menggendong dan membawanya ke kamar mandi.
Srek... Dress itu di sobek oleh Satya. Badan basah Chaca terpampang di depan Satya.
“Ganti bajumu sebelum keluar dari apartemen ku.” Ucap dingin seorang Satya yang berhati batu.
Chaca tidak tau harus berkata apa. Inikah lelaki yang dia kejar selama ini? Lelaki yang di anggapnya baik? Dia mencampakkan dirinya saat seperti ini.
Pernikahan dia baru berjalan kurang dari seminggu.
Chaca tersenyum getir, dia mengambil handuk yang di sodorkan oleh Satya dan segera mengganti bajunya dengan baju kering di lemari.
Setelah memakai baju, Chaca keluar tanpa ragu dari apartemen yang baru ia tinggali sehari kemarin.
Ini mungkin pernikahan tersingkat dalam sejarah keluarganya.
Chaca menyesal, kenapa tidak mendengarkan apa yang di katakan ayahnya. Kalau sudah seperti sekarang, siapa tempatnya pulang, kalau bukan orang tuanya?
Tidak, Chaca tidak bisa melakukan itu. Menikahi Satya adalah pilihannya, dan dia harus menerima resikonya.
Di dalam apartemen, Satya malah melempar semua barang yang ada di depan matanya.
“Bodoh, Satya!!! Kemana kamu mencarinya lagi kalau ilang? Kenapa mulutmu mengatakan pergilah? Padahal hatimu bilang tinggalan!!” Satya merasa menyesal sekarang.
Tapi, dia tidak bisa menghentikan Chaca. Mulutnya dan hatinya tidak singkron, semua di kuasai ego dan emosi.
“Cha, sadar gak sih kamu? Aku yang gak bisa hidup tanpa kamu! Kalau begini gimana aku menghadapi esok hari?” Satya membenci dirinya sendiri.
Bahkan dia menangis untuk Chaca untuk kesekian kalinya. Chaca adalah istrinya, dan satu-satunya wanita yang bisa mengontrol dirinya. Sekarang? Dia pergi meninggalkan dirinya, kemana dia harus mencari?
Chaca masuk ke dalam apartemen yang sebelumnya dia tempati. Dia membanting diri di atas tempat tidur.
Chaca berharap, esok akan melupakan semua kejadian yang terjadi malam ini. Tidak ada baiknya seharian ini di ingat atau di kenang.
Setidaknya, lelaki yang dia nikahi itu bukan lagi bawahannya. Karena Chaca dalam perjalanan sudah menghubungi pihak HRD untuk memecat Satya.
“Cha, bukain pintunya dong.” Satya berusaha masuk ke dalam apartemen Chaca, namun sudah ganti password.
“Cha, maaf... Bukain pintu dong.” Satya masih terus menggedor pintu apartemen.
Percuma saja, Chaca tidur dengan mendengarkan musik dugem menggunakan headset. Mau seberapa kencang Satya menggedor pintu itu. Tetap tuan rumah tidak akan mendengar, karena suara musik yang begitu tinggi menutup pendengarannya.
Keesokan harinya, Chaca merasa sakit kepala dan enggan bangun dari tempat tidurnya. Apa yang terjadi semalam ternyata susah di hilangkan dari ingatan.
Pengaruh alkohol memang sudah hilang, jadi sakit hati yang di rasakan Chaca, membuatnya mengeluarkan butir-butir bening dari matanya.
“Satya jahat banget sih? Dia gak sayang, gak cinta... Tapi kenapa mau aku ajak nikah? Huhuhu...” Chaca merasa diri paling sedih.
Jujur, Satya sangat jahat bagi Chaca saat ini. Semua apa yang sudah di lakukan dahulu, tidak nampak satu pun di benak Chaca.
Baginya, sikapnya tadi malam adalah kepribadian dia yang sebenarnya. Mulai hari ini dan seterusnya, Chaca harus bisa berdiri sendiri tanpa Satya.
Tapi, apa bisa? Huhuhuhu...
Chaca menangis dalam diam, matanya tidak mau berhenti mengeluarkan air. Sudah seperti lumpur Lapindo saja, tidak bisa berhenti.
Pada saat ini, Chaca sama sekali tidak ingin keluar dari kamar. Bahkan lapar pun tidak ia rasakan.
Berbeda dengan keadaan di luar apartemen. Satya memanggil keamanan untuk membuka pintu itu dengan kunci cadangan.
Menggunakan status sebagai suami, Satya tentu bisa melakukan apa saja dengan Chaca. Jadi, jika urusan kunci? Itu sangat mudah di hadapi.
“Jangan seperti anak kecil, mengurung diri sampai tidak makan dan minum!” seru Satya saat melihat Chaca bergumul dengan selimut tebalnya.
“Satya! Bagaimana kamu bisa masuk?” Chaca yang kaget, langsung bangun dari tidurnya.