Kemarin Hitler, sekarang Leonardo

1111 Kata
“Apa sulitnya, bagi seorang suami masuk ke dalam apartemen istrinya.” Jawab Satya santai meletakkan sarapan di meja dekat tempat tidur. “Ya’, semalam kamu yang ngajak pisah. Terus, apa ini? Kamu mau mempermainkan aku?” Chaca tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh orang yang selama ini ada di dekatnya. “Cha, lihat jari manismu. Kita sudah menikah, tidak baik pisah tempat tinggal begini.” Satya dia sejenak, sebelum melanjutkan. “Aku salah, aku minta maaf.” Satya menundukkan kepala di depan Chaca. Ini kali pertama Satya meminta maaf pada Chaca sepanjang sejarah. “Apa kamu pikir aku bisa percaya dengan ini? Ya’ aku sadar, kita tidak saling mencintai....” “Saling, kok.” Ucap Satya cepat memotong pembicaraan Chaca. Chaca diam, dia mengamati mata Satya. Mencari sinar kebohongan yang sialnya tidak dia temukan. Apa ini artinya Satya serius? Selain lingkaran hitam di mata, Chaca hanya menemukan sorot mata lelah di wajah Satya yang menawan. “Kamu tidak tidur?” tanya Chaca. Satya tidak menjawab, dia menatap Chaca dengan tatapan sendu. Perlahan, air matanya meleleh di hadapan wanita yang sudah melumpuhkan hatinya. Satya menerjang Chaca yang masih duduk di atas tempat tidur. “Cha, jangan tinggalin aku. Aku bisa sakit jiwa kalau begini. Maafkan aku.” Ucap Satya sedih. “Apa kamu cinta sama aku?” Satya mengangguk cepat. “Cinta Cha, cinta. Tapi aku gak bisa ngomong ini di depan orang.” Suara Satya serak, apa dia juga menangis semalaman? “Kenapa?” tanya Chaca diam-diam menyukai tangisan lelaki itu. “Gak tau. Cha, jangan minta pisah lagi, aku gak sanggup.” Ucap Satya melepas pelukan dan menatap wajah ayu milik Chaca. “Iy...” Satya mencium Chaca begitu cepat dan menahan di bibirnya. Ciuman mereka bukan seperti orang yang lagi kasmaran pada umumnya. Saling mengecap dan menikmati rasa, menumbuhkan gejolak jiwa. Tapi, mereka hanya menempelkan bibir satu sama lain. Anehnya mereka sudah merasa bahagia. “Maaf.” Ucap Satya lagi. Chaca mengangguk melepas pelukan hangat di pagi hari. Satya mengambil sarapan yang ada di meja. “Sudah dingin.” Senyum itu tetap terlihat manis, meski air mata terus keluar dari netra indah itu. “Gak apa, asal di suapi kamu. Yang dingin pun jadi panas.” Godaan-godaan Chaca semakin membuat tubuh Satya panas. Biasanya hanya menyerang pipi dan telinga, tapi saat ini? Seluruh tubuh. Satya lelaki normal, tapi apa dia berani? Iya, dia berani. Jangan di kira Satya tidak tau ciuman seperti apa itu. Karena dia tau hal apa yang terjadi setelah ciuman itu ia lakukan. Akan terjadi seperti sekarang. Ingin memiliki seutuhnya Chaca, dari luar dan dalam hanya untuknya. Chaca sudah siap akan hal ini, mengingat dia terus menggoda Satya dan beberapa lelaki di luar sana. Lama, sangat lama. Satya enggan membiarkan Chaca beristirahat meski hanya sejenak. Ini hukuman bagi Chaca yang sudah membangunkan singa tidur. Di puncak, Satya kembali tersenyum melihat Chaca ada di dalam pelukannya. “Jangan pernah minta pisah. Kamu milikku, hanya aku yang boleh miliki kamu.” Chaca hanya mengangguk dalam dekapan tubuh besar Satya. “Aku posesif, sayang. Aku enggak mau satu orang pun mendekati kamu. Atau sebaliknya, aku cemburu.” “Iya Satya, iya. Aku ngantuk mau tidur.” Ucap manja Chaca. “Ya sudah tidur, aku juga ngantuk.” Satya mencium kening Chaca dan merapatkan pelukannya. Inikah yang di namakan surga dunia? Rasanya Chaca tidak ingin membuka mata, jika ini sebuah mimpi. Hari ini adalah harinya Chaca dan Satya bermalas-malasan. Tapi gawai milik Chaca tak henti-hentinya berdering. Dengan terpaksa, Satya yang menerima panggilan itu. “Chaca! Hebat kamu ya, sekarang jamnya pak Thomas. Ok, dia mungkin saudaramu. Tapi orang itu kan gak mau kompromi. Aduh, nilai kamu pasti di kurangi deh....” Delina nyerocos tanpa tau siapa yang mengangkat panggilan dari dirinya. “Biar saya yang ngurus nanti.” Satu kalimat sebelum menutup panggilan, cukup membuat Delina membeku. “Orang ini kenapa lagi? Nelen cabe kriting lima belas kilo kayaknya.” Delina ngedumel sambil memegangi ponsel miliknya. “Yang pakai kemeja pink, di sini bukan kelas drama. Jadi tolong dengarkan penjelasan saya di depan.” Thomas memang sangat tajam saat bertutur kata dengan mahasiswa nya. “Maaf, pak.” Kata Delina menundukkan kepala. Ingin sekali Thomas tertawa terbahak-bahak, tapi dia tidak mau menghancurkan reputasi yang dia bangun sejak awal. Thomas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ada yang aneh, dia tidak mendapati istri dari orang yang baru bergabung dengan keluarga Husain. Chaca. “Ke mana temanmu?” tanya Thomas. “Nah, itu dia pak. Tadi saya telepon tu si Chaca, tapi yang angkat suaminya. Katanya, biar aku yang urus.” Jawab Delina polos, Thomas hanya tersenyum simpul. “Lagi ena-ena kamu ganggu, jelas suaminya marah itu. Hahahaha....” sahut salah satu temannya. “Hust, ini sudah siang. Kalau mau begitu kan malem bisa, gak harus siang begini.” Delina tau apa yang di maksud, tapi kepolosannya itu natural. Beda tipis sama bodoh. “Yee... Namanya juga pengantin baru. Maunya ya kapan saja dan di mana saja, lagian kamu itu ganggu aja.” Lanjut lagi. “Iya juga ya, kalo aku jadi Chaca juga mau aku kurung aja si Satya itu...” ucapan Delina semakin tak karuan saja. Thomas hanya menikmati percakapan itu dengan senyum simpul. Betapa polos gadis ini. Jika di lihat dari samping begini, hidung mancung dan bibir tipisnya, sungguh menggoda. Jiwa player Thomas meronta-ronta. Kalau tidak memandang Rizal, kakaknya Delina. Ingin sekali Thomas menggigit bibir tipis yang banyak bicara ini. Diam-diam Thomas tersenyum sambil merekam percakapan Delina dan teman-temannya. Dia mengirimkan video itu pada Andra, sahabatnya. Sial, Delina begitu cantik. Selama ini kecantikannya terhalang oleh sinar mempesona milik Chaca. Kenapa gadis ini sudah di jodohkan dengan pria lupa menikah? Ah sudahlah. “Sudah, sudah. Saya akhiri kelas kita kali ini, masalah Chaca. Kalau misalnya dia datang menemui saya, pasti akan ada hadiah untuk dia.” Kata Thomas masih dengan senyum manisnya. “Eh, pak Thomas tampan sekali kalau senyum.” “Bener, aura Hitler nya ilang. Auranya berganti jadi Leonardo Dicaprio jaman masih muda.” “Emang sekarang sudah tua?” “Iya, tapi tuanya tak semenarik Sharukh Khan.” “Dasar otak tumbar Miri jahe. Minggir, aku mau deketin bapak tampan pencuri hati.” “Hilih, sekarang aja bilang bapak tampan pencuri hati. Kemarin, bilangnya iblis kampus. Awas di mainin sama tu orang. Kemarin, aku denger dari sahabatnya. Pak Thomas itu playboy.” Kata Delina sebelum meninggalkan teman-temannya. “Yang bener?” tanya satu temannya yang tidak percaya. “Ehem, kalau gak percaya tanya aja sama Chaca. Ada dia juga kok pas ngomong.” Sungguh, tidak bisa di percaya. Orang sedingin Thomas Hilman adalah seorang playboy. Tidak bisa di tebak memang, seorang pemain handal mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN