Sial, di dalam ruang yang tak begitu besar. Andra menerima kiriman Video di group chat malah senyum-senyum sendiri. Group yang berisikan si kembar tiga dengan Satya yang baru di tambahkan, Rizal dan Thomas.
“Sial, adikku lemes amat mulutnya.” Ketik Rizal yang tak percaya adiknya juga begitu lemes di luar rumah.
“Bener adik kamu itu? Dia mahasiswa ku yang paling aku tandai.” Jawab Thomas sebagai pengirim video.
“Lah, kenape?”
“Bodoh kayak kakaknya.” Jawab Andra tak bisa lagi menahan tawanya.
“Awas cinta,” goda Rizal.
“Aku duluin boleh? Sumpah itu bibir minta di gigit.” Tulis Thomas.
“Dih, kumat.”
“Kakak ipar, adikmu sungguh polos. Boleh aku ajari?” Zein tak kalah jahil.
“Ngalah dikit Ama adek, bang.” Andra tak ingin kalah.
“Emang kamu doyan betina? Bukannya Thomas sudah cukup memuaskan kamu?”
“Pembunuhan karakter, anda ini. Aku normal bang, doyan betina juga. Masa tampan dan gagah sepertiku suka pedang juga sih? Suka jeruk bang, apalagi jeruk Bali macam Delina. Aduh, rasanya udah penuhi dinding dan langit-langit kamar.” Tulis Andra menunjukkan kalau dirinya sudah pernah ketemu dengan sang gadis.
“Sial, adikku jadi fantasi. Sini kau Andra! Ku sunat kedua kalinya.” Rizal tak kalah emosi mendengar adiknya menjadi imajinasi bagi sahabatnya.
“Jangan, dong. Masa depan adikmu ini.” Andra bela diri.
“Sial kau Andra!”
Ketika obrolan di group terdengar seru sekali. Ada dua insan yang merasa terganggu. Bunyi gawai itu ribut sekali.
“Berisik.” Hanya satu kata itu yang di tulis Satya.
“Woe, manten baru terganggu. Udah jam dua siang ini boss. Sampek lupa istri masih kuliah, kurung aja terus.” Thomas datang dengan sejuta perasaan. Geli, marah, jahil, penasaran.
Satya dengan santainya membagikan foto dirinya tanpa baju dan ada Chaca yang tidur di pelukannya.
“Adik laknat! Kakakmu ini masih jomblo, kalo pengen gimana? Mau minjemin istrimu?” tulis Zein.
“Boleh,”
Thomas, Rizal dan Andra hanya bisa terperangah dengan jawaban anak yang baru di tambahkan itu.
“Yakin?” tulis Zein lagi.
“Yakin, tapi sunat lagi.”
“SADIS.”
Melihat balasan yang di tulis Satya, ketiga orang yang tadinya hanya menyimak. Akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha, kalau denger dari Delina. Chaca itu bucin banget sama Satya.” Rizal gak tahan lagi ingin julid.
“Ya sudah, Delina aja sudah. Ikhlas aku, turun dikit gak apalah. Tapi bener, Chaca tu cantik beneeerr.” Zein kembali ingin mendapatkan adik dari sahabatnya.
“Gak akan aku restui!! Hyra aja kamu kasih ke Egi.” Ketik Rizal yang masih tidak terima kekasih hatinya jatuh ke tangan salah satu temannya juga.
“Hahaha, kelas Hyra bukan cowok dungu kaya kamu. Kalau misalnya Jerome ikut perjuangin Hyra, kelar sudah Egi. Dia itu pecinta sains.”jawab Zein.
“Sudah sama bodat juga, masih gak puas kamu? Sini kasih aku, berat bersaing sama si kembar dapetin Delina.” Thomas menyerah kalau sudah berhadapan dengan si kembar.
“Delina, bukannya sudah di jodohkan? Kemarin dia bilang kalau nyari buat pembatalan perjodohan.” Kali ini Satya mengingatkan.
“Oh iya, siapa Zal? Tega kali kau, masa adiknya di kasih ke orang lupa kawin sih?” Thomas menimpali.
“Zal, kalau Sampek gak jatuh ke pelukan ku. Inget, kerja sama kita berakhir!” pungkas Andra.
“Sial, Zein gimana?” tanya rizal pada saudara tertua dari si kembar tiga.
“Aku setuju, kalau dia tidak jatuh ke pelukan ku. Kerja sama bisnis batal!”
Rizal membeku di kursi kebesarannya. Bagaimana bisa kedua saudara ini mengancamnya dengan pekerjaan?
Benar-benar adik pembawa sial. Punya adik cantik dan lemes, benar-benar tidak menguntungkan baginya.
“Burhan tanyain, bukan aku yang ngambil keputusan.” Rizal akhirnya menyerahkan masalah ini pada ayahnya.
“Hahahaha, mati kutu. Bang, kasih aku kerja di perusahaanmu. Aku di pecat Chaca semalam.” Tulis Satya.
“Bawa Delina buatku, aku kasih kursi kebesaran di perusahaan.” Final, semua kena.
Ini semua gara-gara Delina di cewek tengil itu.
“Hmm, yang setara sama kalian kalau aku bisa bawa Delina.” Tawar Satya.
“Sial, adikku itu. Belah aja jadi dua itu anak wadon. Satya, kau penghuni baru. Belum sungkem juga udah nawarin adikku ke dua begundal ini.” Tulis Rizal tidak terima.
“Maaf Bray, mungkin pesonaku tidak bisa di tolak oleh adikmu. Tiap aku ke kampus jemput Chaca, adikmu suka godain aku. Jadi adikmu pasti lebih nurut ke aku dari pada ke kamu.” Ejek Satya.
“Auk deh, serah kalian. Tapi inget, Cuma satu yang bakal jadi adik iparku.” Pungkas Satya.
“Pasti aku,” kali ini Thomas maju tanpa tandang aling-aling.
“Bodat aja cari. Si Rizal gak ngatasi kayaknya.” Andra tak bisa di ajak kompromi.
Perdebatan yang memperebutkan seorang Delina pun berakhir. Tidak mendapat jawaban, siapa yang mendapatkan gadis lemes itu. Tapi percakapan berakhir dengan damai.
Jam sudah menunjukkan di angka lima, Satya menyiapkan makanan ringan untuk Chaca yang masih di kamar mandi.
Sehari sudah keduanya tidak keluar apartemen sama sekali. Kali ini Satya mau menunjukkan diri mencintai Chaca. Setelah kemarin Chaca yang melakukan hal yang sama.
Di manja dengan makanan, siapa yang tak suka? Tapi, ini Chaca. Dia punya prinsip untuk tubuhnya yang berbanding terbalik dengan prinsip Satya.
“Cha, sudah siap? Aku buatin cemilan sehat ni.” Satya masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring semangka dan sepiring lagi cemilan yang bisa membuat tubuh membengkak.
“Satya.... Aku masih mau cantik, seksi dan mempesona.” Rengek Chaca melihat suaminya seharian ini terus memberinya makan dan makan.
“Siapa bilang habis makan tahu isi ini kamu bisa gak mempesona, cantik dan seksi? Sini biar aku pukul mulutnya.” Satya tetaplah Satya, dia tidak bisa di tolak.
Sudahlah, Chaca makan sepotong tahu dan menghabiskan semangka di piring. Satya tau, istrinya memang keras kepala.
Tapi, dengan mau memakan sepotong, Satya sudah senang. Artinya Chaca menghargai dirinya.
“Sayang, nanti ajak Delina makan makan ke rumah besar yuk.” Satya mulai melancarkan serangan, demi mendapatkan posisi di perusahaan.
Sebenarnya tidak begitu pun, kalau Satya mau membuka mulut di depan Abim, pasti akan mendapatkannya.
Tujuannya lain, dia ingin mengakrabkan diri dengan kedua saudara kembarnya.
“Hm, ok. Aku juga sudah ngajak dia. Ya’, kamu tau gak? Delina itu bilang, dia suka sama Andra. Tapi dia sudah di jodohkan.”
“Dia kan belum ketemu kak Zein, kali aja dia juga suka sama kak Zein.” Celetuk Satya.
“Kak Zein ada Yura. Udah tunangan, itu kata Hyra.”
“Hmmm.”
Di rumah keluarga Burhan, Rizal pulang dengan rasa gondok.
“Delina mana Yah?” tanya Rizal sedikit meninggikan suaranya.
“Di dapur, kenapa?” jawab Burhan santai membaca koran sambil di temani teh hangat.
“Nyesel punya adik lemes kaya Delina tu.”
“Heh! Kenapa pulang-pulang nyalahin adikmu?” Sofia, ibu dari Rizal dan Delina dari arah dapur.
“Bu, Delina itu tebar pesona di kampus. Kerja sama dengan perusahaan Husain, bisa-bisa di batalin gara-gara Delina.”
“Loh, kok bisa? Bukannya kamu sama si kembar temenan dari SD? Kenapa bisa gara-gara Delina jadi berantakan?” Burhan kaget mendengar pengakuan putranya.
“Itu dia, salah satu dosen Delina itu temen Rizal juga. Itu si Thomas. Dia ngirim video si Delina lagi ngoceh di kelas, eh si Zein sama Andra malah rebutan. Kalo Delina gak jadi dengan salah satu dari mereka, alamat batal kerja sama ini.” Cerita Rizal menggebu.
“Bagus dong.” Senyum Burhan mengembang.
“Bagus apanya? Ayah lupa, itu Delina udah ayah jodohin to? Sudah, pokoknya gagalin perjodohan itu. Kita bisa gulung tikar kalo Sampek si dua kampret itu narik kerja samanya.” Rizal semakin di buat pusing dengan ayah dan ibunya yang masih sempat-sempatnya tersenyum.
“Tidak bisa! Delina harus tetap di jodohkan...”
“Sama lelaki tua yang lupa menikah? Aku gak ikhlas punya ipar lebih tua dariku Yah.”