Makan malam atau cari jodoh?

1225 Kata
Rumah besar yang biasanya sepi, hari ini terlihat sangat meriah. Terutama taman belakang, di mana tempat makan malam yang di ubah menjadi acara bakar-bakaran. “Mama harus sehat, lihat mereka. Begitu bahagia menikmati kebersamaan ini.” Abim duduk di samping Gia yang menikmati suasana di depannya. Rizal, seorang kakak yang biasanya cuek. Kali ini menjadi kakak yang sangat protektif pada adiknya yang tengah di perebutkan kakak beradik. “Iya, aku ingin melihat cucu dan cicitku di masa depan. Abang juga, jangan lupa siapkan posisi yang bagus untuk Satya. Dia putra kita juga.” Gia masih memikirkan betapa gagalnya dia menjadi seorang ibu. “Pasti, kita banyak berhutang pada Satya. Lihat dia, terlihat sangat mandiri dari anak kita yang lainnya.” Abim menyetujui apa yang di pikirkan Gia tanpa tersampaikan. “Gia, maaf aku terlambat. Mana anak ku? Aduh, tampan sekali dia....” Nova, dia datang dengan kehebohan seperti biasanya. “Bunda, aku yang lebih tampan.” Thomas tidak terima ibunya memuji anak lain. Sungguh kekanak-kanakan. “Kamu tampan? Cih, beruntung kamu mirip aku, coba mirip bapakmu....” “Aku kenapa? Aku tampan, kalau tidak. Mana mungkin aku menjadi Casanova di usia muda?” sahut Ricky tak terima. “Aku baru sadar, jiwa playboy Thomas itu turunan.” Celetuk Rizal dari belakang Ricky. “Jangan dekati adikku.” “Hahahaha apa Thomas begitu? Wah, hebat. Tapi jangan jatuh pada orang seperti bundamu. Bisa hilang pesonamu nanti.” Ricky menasehati. “Thomas, jangan pikirkan itu. Papa mu begitu karena dia cinta mati sama bundamu.” Gia turun tangan membela sahabatnya. “Mama memang yang terbaik.” “Tapi tetep, jangan dekati adikku.” Rizal masih tidak terima. “Ma, kemarin mama jodohin aku sama Yura, kan? Zein maunya yang itu aja.” Zein datang, dia merengek seperti anak kecil yang minta di belikan mainan. Hei, Delina bukan barang yang bisa di ambil begitu saja, setelah membayar. Terlihat, gadis itu lebih menempel pada Andra. Putranya yang satu itu memang tidak pernah pacaran. Tapi, orang pasti tau kalau Andra sangat menyukai gadis yang ada di sampingnya. “Zein, jangan hancurkan perasaan Hyra dan Yura sekaligus. Kamu yang setuju sebelumnya, kenapa begini?” Gia tak bisa berkata apa, anaknya ini aneh. “Kan sebelumnya gak tau, kalau anaknya Burhan gemesin begitu.” Rengek Zein. “Ngalah sama adik, Zein. Lagian, Andra duluan yang ketemu adikku.” “Aku yang lebih dulu, Zal. Dia mahasiswi ku.” Thomas tidak mau kalah. “Tapi kamu di luar pilihan, pilihannya cuma antara Andra sama Zein.” Kata Rizal yang tak mau kerja samanya berakhir. Percakapan itu terhenti ketika gadis yang di bicarakan datang bersama dengan sahabatnya. “Mama, ini Andra yang bakarin buat mama sama papa.” Kata Chaca memberikan piring yang berisikan ikan bakar untuk kedua mertuanya. “Makasih cantik, bunda sama papa juga ya.” Ucap Gia agar menantunya juga membawakan untuk Nova dan Ricky. “Bunda, Ayah. Biar di bakarin sama pak Thomas saja, gimana? Itu sama Satya yang lagi bakar.” Chaca sengaja ingin mengerjai dosen yang tadi memberikan tugas yang begitu banyak padanya. Chaca tidak tau saja, siapa yang meminta tugas itu. Satya, suami yang mengajaknya bolos. Dan dia pula yang memintakan tugas pada Thomas sebagai gantinya. “Apa kamu balas dendam padaku? Makanya jangan bolos. Mentang-mentang pengantin baru.” Seketika wajah Chaca memerah karena ucapan dosennya yang tak di di ayak dulu. “Satya ngasih ijin kamu bolos?” tanya Abim yang sejak tadi diam menikmati kacang panggang yang ada di atas meja. “Satya yang ngajakin om, malah pas aku telfon tadi. Dia bilang, biar aku yang urus. Suaranya kaya orang habis makan cabe, kebedesan.” Delina menyahut dengan celotehnya. Yang lain hanya tertawa dengan apa yang di sampaikan Delina. Jika maksud Delina yang di mengerti Chaca itu pedas atau jutek. Tapi pikiran orang-orang, lain. Kepedesan, ya huha huha, biasa.... Pengantin baru. “Delina... Delina. Biasa itu, mereka kan pengantin baru.” Zein tersenyum lembut, sangat berbeda perlakuan pada Yura. Gia sadar itu. “Apa hubungannya, Abang ganteng? Mereka memang pengantin baru. Tapi kan udah bareng lebih dari sepuluh tahun.” Jawab Delina polos. “Lemes, kamu itu jangan suka panggil ganteng ke setiap cowok, kenapa sih?” Rizal tidak terima adiknya memanggil salah satu sahabatnya dengan sebutan Abang ganteng. “Ya, kan emang ganteng. Beda sama kamu mas, mau dandan dua jam juga. Tetep burik.” Jleb “Kagak tau diri lu jadi adek. Kalau bisa, masuk lagi sono ke perut ibu. Nyesel punya adik cantik...” “Makasih, aduh... Tumben bener mas muji aku cantik. Emang aku cantik... mmpptt” Rizal langsung menutup mulut adiknya setelah melihat Zein menatap adiknya penuh nafsu. “Hahaha, sudah-sudah. Delina, kalau kamu di suruh milih satu dari kedua putraku. Kamu pilih mana?” tanya Gia tersenyum hangat. Delina berpikir sejenak, dia teringat akan apa yang dia dengar beberapa waktu lalu. Mau pilih adik atau kakak, tetap dia tidak bisa memiliki salah satunya. Itu semua karena Burhan. Ayahnya yang sangat tega, menjodohkan dirinya dengan seorang kakek-kakek. “Satya aja kalau boleh...” Bruk. Dengan kasar Chaca mendorong sahabatnya hingga jatuh ke sofa empuk. “Tega kamu Lin. Tau gini, gak aku kenalin sama Satya dari awal.” Chaca meninggalkan yang lainnya dan langsung mencari Satya yang lagi bakar ikan. “Becanda woe, gila apa aku mau sama bekasmu. Makanan pun aku gak Sudi makan bekas mu.” Teriak Delina menyusul Chaca. Persahabatan yang sangat unik. Mereka kadang berantem, namun tak lama, baik lagi. Ikan bakar sudah di hidangkan di atas meja, Chaca masih enggan melepaskan tangannya dari lengan Satya. Terlihat, Satya juga tidak merasa risih. Abim melihat kecuekan Satya, dia teringat akan masa mudanya. Dia akan berbuat begitu pada Gia, namun protektif pada adik iparnya yang menjadi istrinya. “Cha, lepas kenapa.. gak bakal aku mau rebut bojomu itu.” Delina masih berusaha meyakinkan sahabatnya. “Ck, ogah. Ini tu cara aku buat nunjukin kalau Satya milikku.” Jawab Chaca posesif. “Astaga adik iparku ini, di sini semua tau. Kalau Satya itu suami kamu. Lepas saja, gak ada yang mau rebut Satya.” Mata Zein terasa gatal melihat Chaca yang begitu posesif. “Wajar kak. Egi aja juga begitu, nih liat di belakang.” Hyra yang baru datang pun menunjukkan betapa Egi juga posesif pada dirinya. “Emang dasar kalian ya.” Andra juga merasa panas melihat adik dan sahabatnya bermesraan di depan mereka yang jomblo. “Dulu aja ngindar-ngindar. Eh, sekarang gak mau pisah.” Sindir Zein membuat semua tertawa. “Itu menunjukkan kalau Chaca dan Egi sangat menyayangi pasangan masing-masing. Papa juga begitu.” Abim dengan bangga mengangkat tangan yang sejak tadi bertautan di bawah meja. “Jomblo minggir, ini virus yang mematikan.” Andra angkat tangan. “Ok, yang lain ngontrak. Yang jomblo lebih baik makan di sono yuk. Kali aja jodoh.” Ajak Delina. “Sial.” “Kalian tidak tau, siapa jodoh yang di siapkan pak Burhan untuk Delina?” Abim seakan memberi sebuah teka-teki pada para jomblo. “Lelaki tua yang lupa menikah. Sudahlah, pasrah. Kak Zein, kak Andra. Udah punya pacar belum? Patahin perjodohan itu yuk.” Ajak Delina seperti mengajak main bola bekel. Sebelum menjawab, Zein melihat ke arah ibu dan adiknya. Dua wanita yang dia cintai di dunia ini. “Aku sudah punya tunangan. Andra yang belum.” “Yess, ayok temui Burhan. Besok kita nikah.” Andra semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN