Mengalah demi kedua wanita tercinta

1046 Kata
Rumah yang sudah sepi dari teriakan dan canda tawa. Andra datang ke kamar kakaknya. “Kenapa tadi nyerah? Ngerasa gak enak.” Senyum kecil tersungging di bibir Zein. “Aku suka Delina, tapi kalau kakak milih perjuangin dia. Bukan Cuma kamu yang patah hati, semisal kakak dapetin dia. Tapi mama dan Hyra juga patah hati.” “Dek, Yura itu pilihan Hyra dan mama. Kebahagiaan mereka dan kamu tentunya yang paling utama bagi kakak.” Zein begitu dewasa. “Aku janji bakal jaga Delina buat kamu bang.” Andra tau pengorbanan besar apa yang di lakukan kakaknya sekarang. Tanpa mereka ketahui, Gia. Wanita yang awalnya bahagia, dia seperti seorang ibu jahat tersenyum di balik pintu. Kapan dirinya bisa adil pada putra-putranya? Tanpa harus menyakiti satu sama lain. Haruskah dia menutup mata dan tidak ikut campur masalah masa depan mereka? Tapi gue terlalu sayang dengan ketiga putra dan seorang putrinya. Ini tidak mungkin terjadi. Di kamar sebelah, Chaca yang tengah membersihkan wajahnya di depan kaca. Tiba-tiba merasa bergetar seluruh tubuhnya. Bukan apa-apa, tapi Chaca masih belum terbiasa dengan Satya yang bertelanjang d**a. “Ya’, kamu mau goda aku?” tanya polos Chaca membuat satu senyuman di bibir Satya. “Apa masih perlu?” dengan gerakan cepat, Satya memakai piyamanya. “Perlu Ya’, perlu. Ini aku udah tergoda.” Jawab Chaca menunjukkan wajah lucunya. “Tugasmu banya, gak usah macem-macem. Besok sudah mulai ke kantor, inget cek semuanya. Jangan asal tanda tangan.” Pesan Satya pada istrinya sebelum masuk ke dalam selimut. “Ya’, dendam apa sih yang kamu miliki ke aku? Kamu tau enggak, tugas yang di kasih pak Thomas itu gak masuk akal. Banyak banget...” “Itu pelajaran buat kamu yang suka bolos. Dan lagi, tugas itu jelas masuk akal. Yang gak masuk Cuma otak kamu aja. Makanya kepalamu kosong.” Jawab Satya memotong ucapan Chaca. “Tega kamu Ya’. Aku istri kamu Ya’, sekarang. Bukan atasan kamu.” Rengek Chaca masih di tempat duduknya. “Tau, kan aku sudah di pecat. Lihat sekarang, aku sudah tidak punya penghasilan. Kamu gak boleh jajan mahal-mahal. Gak boleh beli tas branded atau baju branded lagi. Suamimu pengangguran sekarang.” Jawab Satya cepat. “Emang, kalau kamu punya penghasilan. Aku boleh beli baju sama tas branded?” tanya polos Chaca. “Tetep enggak.” “Sekali pelit, tetap pelit.” Chaca melengos, melanjutkan acara membersihkan make up nya. Satya punya kebiasaan membaca sebelum tidur. Sedangkan Chaca, dia sudah ngorok sejak tadi selepas mandi. Pagi-pagi buta, Chaca sudah bangun. Dia jalan-jalan di sekitar kompleks rumah mertuanya. Melihat sekeliling, dia melihat ibu-ibu atau pembantu—entahlah, sedang berbelanja. “Pembantu baru ya?” sapa seorang ibu yang sejak tadi melihat ke arah Chaca. “Ha?” Chaca bingung dengan peryataan yang di lontarkan seorang dari mereka. “Kamu pasti masih bingung. Ya sudah, sini aku ajari kamu belanja.” Bukan ibu-ibu, tapi setelah di lihat lebih dekat. Orang itu sepertinya masih sangat muda. “Wah, mbak Minuk ada saingan sekarang.” Goda seorang lagi yang terlihat tidak lebih tua dari Chaca. “Ih, aku masih paling cantik dong. Lihat ini, bodyku jauh lebih bahenol dari doi.” Kata orang yang memiliki nama Minuk. “Tapi mbak, kulitnya beneran halus.” Orang di sebelah Chaca memberitahu. “Mbak, memang pakek lulur apa?” tanya Minuk dengan ekspresi jengkel. “Lulur?” Chaca sudah lahir dengan kulit bak sutra itu bingung. Lulur apa? Dia tidak pernah memakai lulur. Jangankan pakai lulur, mandi pun jarang. “Saya tidak ingin belanja....” Chaca berhenti berbicara setelah melihat sayur pare yang bentuknya aneh. Hiiii Chaca pergi dari sana. Dia merasa aneh dan merasa merinding. Aneh, kenapa Chaca takut sama pare? Chaca masuk kembali ke dalam rumah, dia melihat Abim membaca koran di teras. “Kenapa lari-lari? Di kejar anjing?” tanya Abim heran. “Tidak, Pa. Ada pare, hiiii serem.” Chaca langsung masuk ke dalam rumah. Abim heran pun ikut masuk ke dalam rumah. Chaca memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan pare. Dulu, Chaca di titipkan ke pengasuh. Pengasuhnya itu kurang telaten, dia suka makan pare. Pare itu pait. Chaca yang masih umur dua tahun, sudah di kasih makan pare. Sayur berasa pahit dan di olah dengan rasa pedas pun membuat lambung Chaca bermasalah. Hari-hari Chaca makan makanan pahit dan pedas, sampai akhirnya dia bertemu dengan Satya yang baru berusia sepuluh tahun. Satya sebatang kara, dia di sekolahkan oleh keluarga Chaca hingga S1. Dengan syarat, tidak boleh jatuh cinta dan hanya boleh menjaga Chaca seumur hidupnya. Satya tau cerita tentang pare, maka dari itu, dia tidak pernah memasak pare untuk Chaca. Muka Chaca pucat, dia berkeringat dingin. “Kenapa?” Satya yang keluar dari dapur pun panik. Chaca sudah tidak sadarkan diri sekarang. Satya semakin panik dan khawatir. “Tadi katanya dia melihat pare.” Abim menjawab pertanyaan Satya. “Pantas dia ketakutan. Dia trauma sama pare.” “Ya sudah, singkirkan semua pare. Jangan pernah masak pare lagi, selama menantuku di rumah.” Gia mengintruksikan pada para pelayan. “Baik, nya.” Satya menggendong Chaca ke kamar yang ada di lantai dua. Delina dan Rizal yang semalam menginap pun melihat dari belakang. “Pengen deh, di gendong begitu.” Ucap Delina spontan. Lucu, dia polos sekali. “Berat, kebanyakan dosa.” Cibir Rizal. “Kakak kurang sajen. Tante, Om. Kami pamit pulang dulu ya, terima kasih sudah di izinkan nginep.” Delina memang lemes, namun dia sangat sopan terhadap orang tua. “Iya, gak nungguin Andra? Mungkin dia sudah siap-siap.” Kata Gia dengan senyum manisnya. Sepertinya Delina tau, dari mana senyum manis dari si kembar tiga. Gia, pemilik senyum manis dan wajah yang memesona. Tapi, perpaduan yang sangat sempurna dari seorang Abimana Husain juga tidak ketinggalan. Tinggi dan gagahnya lelaki yang sudah setengah abad itu. Menunjukkan, betapa tampan dia saat masih muda. Mungkin dulu papa pertua dari sahabatnya ini juga menjadi rebutan. Sama seperti Satya kala masuk ke dalam kampus mereka. Wajah Delina tiba-tiba memerah, dia malu.... Tapi mau. Ah sudahlah, anak muda memang begitu. Khususnya cewek. Dia suka mengatakan apa yang berlawanan dengan keinginan. Akhirnya, mengatakan kalau semua lelaki itu sama saja—tidak peka. “Tidak usah Tante, nanti ayah dan ibu akan mikir lain kalau pulang di antar kak Andra.” Sopan, Delina sungguh sopan. “Ya sudah, hati-hati.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN