Satu bulan sudah usia pernikahan Satya dan Chaca. Namun masih belum ada tanda-tanda yang signifikan dari perut Chaca.
Pada saat ini, di rumah keluarga besar Husain di adakan pengajian untuk kandungan Hyra. Satu-satunya putri yang di miliki oleh Gia dan Abim.
“Mbak Chaca, kapan nyusul ni?” Tanya Hyra saat mengenakan kerudung yang di bantu oleh Gia dan ibu mertuanya.
“Masih persiapan skripsi, nanti dulu kata Satya.”
“Hmm, bener itu. Skripsi memang bisa buat kepala puyeng.” Kata Hyra membenarkan.
“Dek, seharusnya tidak sampai begitu. Kan, Chaca gak ngambil jurusan yang full menggunakan rumus dan bahasa latin seperti kamu. Dia saja yang males.” Satya tiba-tiba menyambar dari pintu yang baru masuk.
“Ma, kenapa Satya di tarik ke perusahaan Husain sih?” tanya Chaca terlihat sedih.
“Salah sendiri aku di pecat. Inget Cha, harga diriku ada di pekerjaan. Kalau aku Cuma minta makan sama kamu. Mana harga diriku?” jawab Satya penuh perhatian setelah mencibir.
“Maaf....”
“Hmm.” Jawab Satya singkat.
“Ya’, lihat deh perutnya Hyra. Lucu ya?” niat hati ingin memberi kode pada Satya, tapi apa yang Satya katakan?
“Lucu kalo lihat perut Hyra. Tapi kalo kamu?” Satya melihat Chaca dari bawah ke atas dan ke bawah lagi.
“Perut tipis, tangan lembek, kaki udah kaya lidi... Aduh, sungguh sial anakku nanti. Pasti masih dalam perut, dia tidak mendapat nutrisi.” Kritik Satya dengan menunjukkan satu persatu bagian yang di kritik.
“Ya’, body seperti ini tu paling di minati cewek....”
“Tapi aku enggak.” Sahut Satya secepat kilat memotong ucapan Chaca.
“Ma... Kenapa anakmu begitu sih? Semenjak nikah sama Satya, berat badan ku naik Ma. Bajuku gak muat lagi.” Chaca mengadu pada ibu mertuanya yang hanya di sambut dengan senyuman manis.
“Jangan khawatir, papa mertua kamu pemilik mall. Kamu bisa ngambil baju apa saja yang kamu mau. Tanpa membayar.” Tutur Gia sedikit mengingat pengalaman dia ingin berbelanja di tengah malam.
“Terserah, nasib ku begini banget ya...? Suamiku, manjain dengan makanan. Eh mertuaku manjain dengan baju. Bisa-bisa Satya di ambil orang.” Kata Chaca frustasi.
Ini lucu, Chaca menjaga diri untuk Satya. Tapi Satya ingin membuat istrinya lebih berisi. Dua keinginan yang tidak saling bersambut.
Anehnya, cinta mereka tidak bisa di goyahkan. Tak tergoyahkan, meski Satya tidak sekali pun mengakui perasaannya.
Acara pengajian, Satya berada di belakang Chaca. Dia tidak ingin istrinya yang minim agama itu di sisihkan oleh orang lain.
“Nak, coba baca selanjutnya.”
Sial, ibu-ibu samping Chaca menyenggol nya untuk melanjutkan bacaan. Chaca langsung pucat Pasih, ini baru pertama kali melihat orang mengaji secara bergantian.
“Maaf Bu, istri saya suka grogi kalau di depan banyak orang.” Satya menjawab ucapan ibu-ibu di samping Chaca.
“Aduh mas, kalau tidak bisa ngaji, ya bilang. Lagian kok mau nikah sama orang yang gak bisa ngaji? Gimana nanti istrimu didik anak?”
“Anak jaman sekarang Bu, biasa. Orang tuanya pasti sudah sering di lawan.”
“Kayaknya memang Cuma bisa dandan saja deh, lihat kulitnya. Aduh kaya gak pernah kena minyak.”
Kata-kata tajam, Chaca sudah sering terima dari Satya. Dia baik-baik saja. Tapi, sekarang?
Dia di hina karena tidak bisa mengaji. Bahkan di tuduh melawan orang tuanya. Jangankan melawan, merasakan kasih sayang saja Chaca tidak. Bagaimana bisa dia melawan?
“Menantu saya memang tidak pernah kena minyak goreng panas Bu. Itu karena putraku, Satya yang tidak mengizinkan istrinya masuk dapur. Percuma dia punya uang, kalau bayar koki saja tidak mampu.” Gia, menjawab dengan senyuman namun kata-katanya sedikit mencemooh orang yang mengatai menantunya.
“Aduh, Bu Gia ini baik sekali sama menantu. Lihatlah menantu yang di manja begitu. Malah buat jatuh nama baik ibu. Bikin sakit mata saja, lagian cowok kok ikut di sini. Ini tempat ibu-ibu....”
“Satya, bawa istrimu masuk. Suruh istirahat, mungkin lelah. Lihat dia keringetan,” kata Gia tidak ingin melihat menantunya mendengar kata-kata tajam itu lagi.
Satya membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Dia tidak sadar, kalau Chaca sudah berlinang air mata.
“Sudah Tante, biar Yura saja yang membaca. Mungkin orang tuanya terlalu sibuk, jadi tidak mengajari Chaca mengaji.”
Yura seakan menjadi oase di Padang pasir, membuat Hyra sedikit mengernyitkan dahinya. Apa benar, dia Yura sahabatnya? Tidak, Yura yang dia kenal, tidak akan pernah melakukan hal yang menyakitkan begini.
Apalagi, Chaca baru saja bangkit dari duduknya. Bisa di pastikan kalau kakak iparnya mendengar ucapan menyakitkan itu.
Hyra heran, apa yang membuat Yura berubah.
Pengajian sudah selesai, Chaca kembali turun dan ikut membersihkan tempat pengajian.
Yura duduk di samping Zein dan memandangi orang-orang membersihkan tempat pengajian. Keluarga Husain juga duduk di saung itu bersama Yura dan yang lainnya, termasuk Hyra yang tengah mengandung.
“Kak Chaca, sini duduk.” Panggil Hyra yang melihat kakak iparnya ikut membersihkan tempat pengajian.
“Iya sebentar, bawa ini ke dapur dulu.” Jawab Chaca membawa masuk ke dalam.
“Yura, kamu jam berapa pulang?” tanya Abim dingin.
“Yura pamitnya nginep, Om.” Malu-malu Yura menjawab.
Satya sudah selesai melipat karpet dan membersihkan sampah. Dia ikut duduk bersama keluarga yang lain.
Jika di bandingkan dengan Andra dan Zein yang hidup mewah sejak kecil. Satya terlihat lebih dewasa dengan kulit yang sedikit eksotis. Namun dari tingkat ketampanan, Satya tidak bisa di bandingi.
Di antara ketiganya, Satya memiliki wajah yang tampan dan manis secara bersamaan. Mungkin, jika Satya tetap berada di lingkungan keluarga Husain. Dia jadi yang paling sempurna.
“Capek? Sini sama mama.” Gia menepuk tempat kosong di sampingnya.
Satya duduk di samping Gia, namun dia melihat Chaca membawa minum di nampan untuk yang lainnya.
“Siapa yang nyuruh kamu masuk dapur? Ini berat.” Satya langsung mengambil alih nampan berisi banyak minuman dingin itu.
“Kak Chaca gak mau diam. Sini duduk, jangan banyak gerak biar cepat isi.” Kata Hyra menggoda.
“Chac, Delina kok gak ikut? Apa gak di ajak?” Andra merasa di kucilkan karena tidak berpasangan sendiri.
“Sudah di ajakin, tapi om Burhan gak ngasih izin. Terakhir nginep di sini waktu itu, itu yang pertama Delina keluar rumah malam.” Jawab Chaca mengambil makanan di depannya.
Gia malah menggoda putranya yang jomblo sendiri. Sejak saat itu memang Andra sangat posesif pada Delina. Tapi kenyataannya, gadis itu malah menghindar sebisa dia.
Delina menyukai Andra, namun dia tidak berani melawan ayahnya.
“Burhan memang perlu di beri pelajaran. Pa...”
“Ck, jangan otak-atik pekerjaan.” Abim mengingatkan.
Semua tertawa mendengar apa yang di katakan papanya. Ekspresi Andra juga terkesan sangat lucu.
“Chaca, umur kita sama bukan sih?” tanya Yura tiba-tiba. “Dulu kamu sekolah di mana SMA nya?”
“Aku sekolah di pelita harapan, salam kenal ya.” Chaca menjawab sesopan mungkin.
“Ma, Chaca pamit ya. Besok kerja,” Satya tampak kaget mendengar ucapan istrinya.
“Kita gak nginep?” tanya Satya.
“Ya’, besok kerja. Kantor dari sini tu jauh banget...”
“Bukannya kantor itu milik keluargamu sendiri? Kenapa takut telat? Atau kamu gak mau kumpul-kumpul bareng keluarga suami?” sahut Yura tanpa di minta. “Gak kasian apa sama bang Satya, dia kan baru kumpul bareng keluarganya. Atau.... Jangan-jangan....”
“Kamu mau serakah. Mengambil bang Satya untukmu sendiri?” ucapan Yura kali ini memang sudah keterlaluan. Tapi Hyra tidak berani meninggikan emosinya demi kandungannya yang memang sedikit lemah.
“Tau apa kamu tentang aku? Aku serakah juga ke suami sendiri. Ya’, apa aku salah kalau mau serakah sama kamu? Akulah yang ada untuk kamu selama ini.” Chaca sudah tidak bisa menahan lagi.
Emosinya terpancing karena Yura.
“Cha, gak usah di dengerin. Ok kita pulang sekarang. Ma, kita pulang.” Kata Satya buru-buru menyenangkan hati Chaca.
“Cinta istri, boleh bang. Tapi tolong lihat ekspresi mama. Lagian, kamu baru ketemu orang tua kandung. Masa gak mau nginep demi anak manja yang serakah ini?”
Yura benar-benar tidak bisa mengontrol ucapannya. Apa yang dulu membuat Hyra menganggap gadis ini baik dan menjadikannya sebagai sahabat?
“Sakit jiwa kamu!” Chaca merasa tidak memiliki salah pada gadis yang akan menjadi kakak iparnya ini. Tapi, entah kenapa dia seakan menargetkan dirinya.