Aku serakah kasih dalam cinta

1174 Kata
“Sakit jiwa? Siapa? Kamu? Pantesan.” Seperti tidak memberi kesempatan keluarga Husain melihat kebaikan Chaca. Yura terus menyerang dan menggali keburukan Chaca. “Masalah mu apa sih? Ini pengalama pertama kita ketemu. Tapi sepertinya kamu memang menargetkan ku. Apa aku sudah menyinggung mu?” Chaca memang manja, tapi dia berani menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar. Menghadapi orang seperti Yura? Bukan hal yang susah bagi Chaca. Mungkin jika ada Delina, dia jauh lebih mudah menghadapi orang seperti Yura ini. Mencari benar sendiri. “Salahku di mana? Aku mengatakan kenyataan. Atau, kamu type orang yang tidak bisa di kritik?” “Hak apa kamu mengkritik aku? Apa kamu lebih sempurna dari aku?” “Jelas, lihat saja dari kejadian tadi. Semua melihat, kamu menghancurkan nama baik keluarga Husain...” “Tutup mulutmu!!” Satya sudah tidak tahan lagi mendengar istrinya sejak tadi di rendahkan. Ini pertama kali Satya melawan wanita dengan sangat emosi. Satya melihat satu-persatu wajah-wajah keluarganya. Dan berakhir pada Yura yang terlihat sangat arogan dan sombong. “Apa yang membuatmu begitu arogan, nona? Kak Zein? Aku bahkan bisa menghancurkan dia dengan sekali menjentikkan jari. Ingat, dia istriku. Kamu masih belum masuk dalam keluarga Husain. Dan Chaca, istriku.... Dia jauh lebih berharga bagiku dari pada keluarga yang baru aku temui ini. Maaf Ma, Pa Satya kurang ajar. Tapi sejak Satya bertemu dengan Chaca, tidak sekali pun dia mendapat hinaan seperti ini.” “Jelas tidak ada yang menghina, semua takut karena posisi dia.” Satya tidak habis pikir, kenapa calon kakak iparnya begitu merendahkan posisi Chaca. “Aku dengar juga, kamu kan memang anjingnya yang penurut....” Plak “Kak Zein...? Salahku apa?” Yura kaget mendapat tamparan dari seorang Zein yang dia kenal seorang penyabar itu. “Aku malu mengakui kamu sebagai tunangan ku. Boleh aku katakan sekarang? Lebih baik kita jalani kehidupan kita sendiri-sendiri saja. Aku malu meski menjadi kenalanmu. Di masa depan, anggap kita tidak saling kenal.” Zein meninggalkan semua yang ada di saung. Satya membawa Chaca pulang ke rumahnya. Chaca menangis, dia tidak pernah menerima penghinaan seperti itu di dalam hidupnya. Siapa Yura? Kenapa dia terlalu berani mengkritik dirinya? Ini semua karena ibunya yang tidak sekali pun mau mengurusi dirinya sejak kecil. Dia kurang kasih sayang, dan hanya Satya yang ada selama ini. Kehadiran Satya adalah satu-satunya orang yang selalu ada di samping Chaca. Dalam keadaan senang atau susah. Tapi keluarga Satya? Mereka adalah keluarga sempurna yang selama ini di idamkan Chaca. Dengan kejadian ini, apa Chaca akan kembali hidup berdua dengan Satya? Tidak, Chaca tidak ingin kehilangan kehangatan keluarga itu. Di dalam mobil, Chaca yang semula diam. Tiba-tiba langsung mengambil ponsel dan menghubungi satu nomor yang dia harap tersambung. Tut... Tut... “Hallo, Chaca. Kamu jangan pikirkan apa yang di katakan Yura. Kami menyayangi kamu tanpa ingin melihat....” “Maaf Ma, maafkan Chaca yang masih kekanak-kanakan. Chaca....” “Tidak, kamu tidak salah. Sayang, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Kamu berhak memiliki Satya, bahkan kami tidak keberatan akan hal itu. Mama tidak keberatan, mama hanya mau kalian bahagia. Tidak ada satu pemikiran pun yang menyalahkan kamu.” Gia menangis dan menyesal menunjukkan ekspresi sedih tadi. Sebenarnya dia tidak sedih karena Chaca meminta pulang. Tapi, dia sedih karena Hyra mengatakan akan melahirkan di luar negeri. Keluarga Egi telah memboyong semua bisnisnya ke Amerika semenjak pernikahan Hyra dan Egi. “Besok, Chaca sama Satya pulang ke sana kok Ma. Tapi tidak bisa menginap.” “Tidak apa-apa, mama sudah bahagia kalian tidak meninggalkan Mama lagi. Masalah tidur, bukan masalah buat Mama.” Kata terakhir Gia sebelum Chaca menutup panggilannya. “Kamu tidak kecewa dengan Mama?” tanya Satya bernapas lega. “Aku tidak akan berbuat bodoh, Ya’. Aku gak mau kamu mengalami apa yang aku alami. Ok, kamu memang sudah tua, tapi kamu butuh keluarga.” Tepat Chaca menyelesaikan ucapannya, mereka tiba di parkiran apartemen. “Apa kamu bilang? Tua?” Satya mengangguk-anggukkan kepala tidak percaya. “Eh, benar kan?” “Cha, kita beda tiga tahun. Dan kamu bilang aku tua? Ok, aku tunjukkan orang tua kalau lagi bersama istri kecilnya.” Satya keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Chaca. “Ya’.... Ya’.... Mau apa kamu?” tidak menjawab, Satya malah mengangkat Chaca dan menggendongnya di punggung. “Ya’, pusing. Astaga ini anak minta di apain coba, malu Ya’.” Chaca terus memberontak. Tepat di depan lift, Satya menurunkan Chaca. Dia pun berkata, “Tadi kamu bilang aku orang tua, sekarang kamu bilang aku anak. Maumu apa?” “Maunya?” Chaca balik bertanya sambil tersenyum menggoda. “Gak ada sayang, masa habis pengajian malah itu.” Kata Satya seakan tau apa yang di inginkan istrinya. “Hmm, ya sudah.... Aku cari yang mau saja.” Chaca masuk dalam lift. “Astaga, Chaca...” bukan marah, tapi Satya malah tersenyum malu-malu. Apa yang di inginkan Chaca, apa pun itu. Selalu di penuhi oleh Satya, termasuk saat ini. Keduanya menikmati minuman haram yang di bawakan Bram kemarin saat mengunjungi keduanya. Tidak banyak, hanya seperempat gelas saja. Mereka melanjutkan kesenangan dengan perbuatan lain. *** Pagi ini ada meeting, Chaca tidak bisa berlama-lama manja-manja di atas tempat tidur. Begitu pun Satya yang harus ke kantor keluarga Husain. Semenjak Satya kembali keluarganya sepenuhnya. Chaca berusaha mengelola perusahaan Prisma permata dengan caranya sendiri. Sejauh ini, perusahaan masih stabil, bisa di katakan ada perubahan. Meski tidak begitu tajam terlihat. Tapi Bram puas dengan hasil kerja putrinya. “Ya’, makan di mana?” tanya Chaca sebelum memesan tempat untuk makan siang. Chaca dan Satya memang selalu menyempatkan diri makan siang bersama. Kadang, kalau ada waktu luang. Satya memilih mengunjungi Chaca di kantor. “Di caffe biasanya saja.” Jawab Satya singkat. “Ya’, ada apa? Kamu lagi apa?” Chaca seakan mendengar suara-suara yang membuatnya curiga. Tidak mungkin Satya selingkuh, kan? Baru semalam mereka bermesraan, masa sekarang dan baru berpisah beberapa jam saja sudah selingkuh? “Lagi di toilet, sayang....” “KITA VC!” Caps lock jebol, waduh ini artinya Chaca sudah tidak dalam keadaan biasa-biasa saja. Tapi, Satya lagi di dalam kamar mandi. Perutnya sakit sekali. Dering ponsel Satya benar-benar berbunyi untuk panggilan video call. “Chaca, perutku sakit sekali.” Dengan wajah yang tidak bisa di kondisikan, Satya mengangkat panggilan video Chaca. “Hahaha, kamu sungguh berbeda saat di atasku sama di atas toilet.” Satya tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Apa yang sebenarnya ada di otak istrinya itu. Jelas berbeda ekspresi dong. Kalau di atas Chaca, jelas Satya menikmatinya. Tapi kalau di atas lubang toilet, Satya tengah tersiksa. “Sudah dong sayang, kamu tidak seharusnya lihat yang begini....” kambali Satya menunjukkan ekspresi wajah anehnya. “Hahaha kenapa tidak? Aku tidak Cuma mencintai kamu yang tampan. Tapi yang jelek begini juga, apalagi ekspresi puas seperti semalam. Aku suka itu Satya.” Kata Chaca malah menggoda Satya. “Nanti pulangnya kita mandi bareng ya, aku mau lihat kamu di bawah guyuran shower.” Goda Chaca sambil mengedipkan matanya genit. “Terserah kamu, sayang. Perutku benar-benar sakit.” Satya memutus sambungan video, Chaca masih terus tertawa puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN