“Cha, aku perhatiin, semakin kesini. Kok kamu semakin males, sih?” Delina yang sudah duduk di dalam kelas yang sebentar lagi akan di mulai pelajaran.
“Bukan males, Lin. Tapi kerjaan ku banyak di kantor.” Jawab Chaca lemes.
“Pantesan pakek baju model begini. Kamu ngantor belakangan? Hahahaha makanya jangan sok.... Bingung sendiri kan kamu sekarang?” Delina tau kenapa temannya ini rajin ke kantor.
Apalagi alasannya? Selain Satya sudah bukan lagi asisten pribadinya.
“Ketawa? Ok, aku doain Andra jarang pulang kalau entar jadi suamimu.” Cibir Chaca memutar mata jengah.
“Gak usah omong kosong. Jodohku sudah di tentukan, aku ingin mati rasanya....”
“Stt, ngomong apa kamu? Gak boleh begitu.” Chaca memeluk Delina karena merasa sedih. Dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Jangan di peluk kaya kamu peluk Satya dong. Aku gak bisa napas ni,” Delina berontak karena Chaca memeluknya begitu erat.
“Maaf... Maaf, sengaja hehehe.” Memang dasar Chaca.
“Kalau sengaja, setidaknya kasih adik iparmu. Jangan kasih aku neraka begini.” Sungut Delina yang masih berusaha mendapatkan Andra sebagai pertukaran jodohnya.
“Modus Mulu sih otakmu? Udah sono ah, bentar lagi si playboy sok dingin itu datang.”
Tak lama memang, Thomas datang mengajar mata pelajaran di kelas Chaca dan Delina. Kehadiran Chaca yang memang jarang itu sudah menjadi perbincangan di kalangan para dosen.
Memang sering mangkir, tapi secara terbuka. Chaca meminta tugas sebagai pengganti kehadirannya. Para dosen pun membantu Chaca, terdengar juga dia ingin lulus kurang tahun.
Tepatnya, dia ingin segera menyelesaikan skripsi di tahun ini. Itu semua di lakukan Chaca, karena ingin memiliki anak dari sauaminya.
Satya memberikan syarat tamat kuliah dengan nilai yang sangat membanggakan. Hanya untuk seorang anak sebagai pelengkap keluarga kecilnya.
“Cha, aku perhatiin. Rambutmu makin pendek aja sih? Dari pertama se pinggang, mau nikah udah sepunggung. Dan sekarang kenapa jadi se bahu sih?” tanya Delina menyadari sesuatu.
“Rambut ku rontok Lin, mau gak mau ya harus aku potong. Tapi, Satya pasti ngomel entar di rumah. Alasan apa ya Lin entar?” Chaca baru menyadari dan panik sekarang.
“Pas potong kenapa gak mikir ini? Aku rasa mbak salonnya salah potong deh.” Gumam Delina jengah dengan memakan sendok demi sendok soto segar nan panas di depannya.
“Salah potong apa?” Chaca penasaran.
“Potong otakmu.”
“Lin, abis dong otakku kalo di potong. Kan kamu tau sendiri, otakku setengah aja yang berfungsi.”
Setelah mendengar pengakuan sahabatnya, Delina dengan lantang menertawakan tingkah Chaca.
Hahahahaha
Di kantor perusahaan besar, Satya tengah duduk dengan segudang dokumen. Tapi menurutnya ini sangat sedikit. Jika di bandingkan dengan pekerjaan double yang dia ambil dari sebagian pekerjaan Chaca.
“Selamat siang, pak. Kopinya.” Sekretaris cantik dan cekatan memberikan segelas kopi hitam untuk Satya.
“Terima kasih. Priska, bisa tolong cek jadwal saya ketemu dengan orang perusahaan GAHARA.” Kata Satya masih fokus pada dokumennya.
“Baik pak.”
Priaka memang cantik, tapi bagi Satya dia tetap hanya seorang sekretaris. Wanita cantik, baginya hanya Chaca, tidak ada yang lain.
Cekatan, terampil dan penuh kemandirian. Itulah Priska, gadis yang di besarkan oleh seorang ayah. Berbanding terbalik dengan Chaca pastinya.
Tidak lama Priska keluar dari ruangannya, kini dia kembali dengan sebuah agenda di tangannya. Satya membaca setelah Priska memberikannya.
“Kamu bisa keluar.” Satya masih sangat acuh.
Priska keluar dari ruangan Satya dengan raut wajah yang tidak enak di lihat.
“Kenapa? Aku perhatiin, tiap kali keluar dari situ pasti muram? Kenapa kah gerangan?” tanya rekan kerja Priska.
“Pak Satya itu punya kekurangan apa sih? Aku sudah maksimal nih, dalam penampilan juga pekerjaan. Tapi, di lirik pun enggak. Heran, sepertinya tu... Pekerjaan jauh lebih cantik dari pada aku yang sudah dandan abis-abisan begini.” Sungut Priska tidak suka.
“Hahahaha, mantan bos pak Satya yang dulu aja di tolak terus sama dia.” Celetuk salah satu karyawan lainnya.
“Emang bos Prisma Permata juga nafsu sama bawahannya?” tanya Priska terkejut.
“Aku denger sih dari temen ku yang bekerja sama dengan perusahaan itu. Katanya, bosnya itu posesif sekali ke pak Satya.”
“Wajar, pak Satya ganteng. Jadi gak malu-maluin kalo di bawa ngemall.” Kini Priska berpendapat.
“Masih mau lanjut? Saingan mu gak kaleng-kaleng Lo. Pewaris tunggal Prisma Permata.”
“Yakin lah, aku juga denger kalau dia gadis manja. Lagian, selama janur kuning belum melengkung. Pak Satya masih kekasih umum.” Priska tidak mau kalah.
“Selamat berjuang.”
Di luar ruangan memang sangat berisik, tapi tidak terdengar hingga dalam. Karena Satya selalu fokus pada apa yang ia kerjakan. Hingga saat ponselnya berdering.
Itu dari Chaca, dan jam sudah menunjukkan di angka lima lebih sekian menit. “Iya aku sudah di mobil.” Bohong Satya yang lupa waktu lagi.
Dia segera merapikan berkas yang berserakan di atas meja. Menutup laptop sebelum menyimpannya di lemari.
“Kalian belum pulang? Sekarang sudah jam lima lebih.” Kata Satya saat melihat karyawannya masih lengkap di kursinya.
“Ah, bapak jam kami. Kalau bapak gak keluar, kami pasti gak inget waktu juga.” Jawab salah satu karyawan yang memang suka lupa waktu.
Tidak bos, tidak karyawan. Semua pada gila kerja semua.
“Ya sudah, sekarang kalian pulang. Kalau masih ada yang belum selesai, kerjakan besok lagi. Baik, saya duluan ya.” Pamit Satya yang menduduki manager umum dengan membawai lima orang karyawan di bawah naungannya. Dan seorang sekretaris yang membantunya.
“Pak Satya, tunggu. Mobil saya mogok, boleh saya numpang sampai persimpangan depan?” Priska mengejar Satya sedikit berlari.
Priska memang terbuka dalam mengejar Satya. Tapi si Satya adalah manusia cuek dan tidak peka akan hal seperti itu pun hanya bisa acuh pada Priska.
Satya tidak terlihat ingin menjawab, dia hanya diam dan terus berjalan. Seolah-olah memberi kesempatan pada sekretarisnya.
Priska dan Satya masuk di dalam lift yang sama dengan beberapa karyawan. Mungkin Satya cuek, tapi bagi karyawan yang merupakan teman kerja Priska.
Mereka menganggap Priska sangat beruntung selain berani. Keberanian inilah yang seharusnya di contoh dalam mengejar orang yang di cintai.
“Andra, kamu kosong? Tolong antar sekretaris kakak. Mobilnya mogok.” Kata Satya di dalam lift saat bertemu saudara kembarnya.
“Bareng Thomas, mau kamu Pris?” Andra kembali bertanya pada sekretaris kakaknya.
“Kalau bapak sendirian, kenapa saya harus bareng sama pak Andra dan temannya.” Kata Priska lebih berani.
“...” Satya bukan tidak bisa menolak, tapi dia males sekali beralasan.
Tidak ada jawaban, Priska masih berpikir dia berhasil. Keluar dari lift, Priska mengikuti Satya di belakang.
Orang yang di ikuti terlihat santai, mungkin itu yang membuat Priska berpikir seperti itu.
“Priska, sini.” Teriak Andra di seberang yang membukakan pintu depan untuknya.
Sebelum Priska menjawab, ponsel Satya kembali berdering. “Iya tunggu sebentar.”
Satya kembali mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana.
“Kamu ikut Andra, aku mau jemput orang penting.” Satya langsung masuk dalam mobil dan meninggalkan Priska.
Mau tidak mau, Priska masuk ke dalam mobil Andra yang di kursi belakang sudah ada si dosen playboy.
“Terima kasih pak, sebelumnya.” Kata Priska canggung.
“KGak usah sungkan.” Awalnya Andra masih dengan senyumnya. Sebelum sebuah suara kembali keluar dari mulutnya.
“Kamu kalau Cuma mau menggoda abangku saja. Lebih baik besok kamu langsung ngambil gajimu di HRD.”