Apartemen Satya terlihat sangat sepi, bahkan saat Andra masuk ke dalam pun tidak ada siapa pun. Semakin masuk ke dalam, Andra menemukan dua buah piring terisi bubur masih hangat. Mungkin masih harus saja di tinggalkan pemiliknya. “Kak, Kak Satya....” Panggil Andra namun tak ada jawaban. Pada saat ini, pikiran keduanya sudah tidak karu-karuan. Pikirannya sudah menerawang kemana-mana. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada kakak iparnya yang katanya ngidamnya keras sekali. “Pak, mungkin pak Satya ke rumah sakit. Coba telpon saja.” Kata Lely sedikit khawatir. “Pak? Ini di luar jam kerja, panggil aku mas.” Andra sangat keberatan dengan cara Lely menyebut dirinya. Lely tau dia salah, jadi dia memilih diam dari pada kembali mengulang kesalahan. Itulah Lely, dia sama sekali tidak mau beri

