Malam sudah terlalu larut, tiba-tiba ponsel Chaca berdering. Panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Awalnya, Chaca tidak ingin mengangkatnya. Tapi dia juga penasaran. “Hallo...” “...” Entah apa yang di dengar Chaca, dia segera keluar dari kamar dan mencari Satya. “Kita ke bandara sekarang.” Chaca tidak memperhatikan apa yang dia kenakan saat ini. Yang ada di pikirannya hanya tiba di bandara secepat mungkin. Satya melihat mata merah dan juga genangan air di dalam pelupuk mata Chaca langsung tersengat. Hatinya nyeri. “Ya.” Satya mengambil jubah tidur dan di gunakan untuk istrinya. Sedangkan dirinya masih tetap memakai baju tidur sutranya. Selama di dalam perjalan, Chaca tidak sama sekali berbicara. Dia terus bergumam, merapalkan doa-doa yang ia bisa. Di dalam sebuah

