Bak petir di siang bolong menyambar kepala Chaca. Mendengar Tante yang selama ini tidak begitu mau menjenguknya. Meminta perusahaan seperti meminta kue kacang yang tidak di sukai Chaca. “Apa Tante? Kasih perusahaan pada Om?” Chaca tersenyum getir. “Gundukan tanah, jika di gali dengan tangan kosong. Aku masih bisa menemukan Papa ku. Tante waras apa gila sih? Aku rasa Tante kurang obat deh. Mau perusahaan Papa di luar dan di dalam negeri? Mimpi jangan di siang bolong Tante.” Chaca menghina Tante Sarah, istri dari adik kandung Papa nya. Dwipa. “Om Dwipa mau perusahaan Papa?” tanya Chaca langsung ke orang yang tengah asik ngobrol dengan sanak saudara yang lain. “Maksud kamu apa Cha?” tanya Omnya kaget. Chaca tau, Omnya adalah orang bijaksana. Berbanding terbalik dengan tantenya yang serak

