Rustam menidurkan Camila di ranjang kemudian mengecup kening Camila dengan sayang. Tak lupa ia juga mengecup perut Camila lalu mengusapnya lembut. Matanya berbinar-binar seolah-olah ia sedang memandangi anak yang sebenarnya ia belum tahu seperti apa rupanya. Tangan Rustam kemudian bergerak meraih jemari Camila lalu mengecup jemari yang lentik itu. Ah, padahal ini sudah senja. Di luar sana hawa dingin mulai merasuk melalui celah-celah rumah. Tetapi, yang terasa adalah hawa panas. Panasnya berbeda. Seolah ia membawa aura menghipnotis yang tak terbantahkan lagi. Pengaruhnya yang maha daya membuat Rustam tanpa sadar mengecup di sepanjang tangan Camila dan terus bergerak ke atas hingga ia sampai kembali pada bibir dengan warna lipstik natural itu. Dilihatnya gundukan menyembul di balik paka

