Satu
Di dalam sebuah gudang yang Cuma diterangi oleh cahaya bohlam lampu yang temaram, bahkan sesekali berkedip-kedip. Seorang pemuda berusia sembilan belas tahun, meringkuk terpojok di sudut ruangan, di antara tumpukan kursi-kursi dan meja-meja yang telah rusak. Seragam sekolah tingkat menengah akhir yang masih melekat di tubuhnya dipenuhi oleh noda-noda, bahkan ada yang menunjukan cap sepatu. Beberapa bagian tubuhnya di hiasi oleh lebam kebiruan yang nyeri bukan main. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah akibat robekan kulit. Pemuda itu meringis, memegamgi perutnya, lantas memandang tiga laki-laki lain yang sepantaran dengannya yang berdiri menjulang di hadapannya dengan senyum mengerikan.
“Ada apa, Jake? Ingin menyerah?”
Pemuda yang dipanggil Jake itu menatap mereka semakin tajam tanpa rasa takut. Tidak lagi memusingkan kalau tiga lelaki yang memiliki masalah dengannya sejak hari pertama menjadi siswa di sekolah yang sama, dapat saja membinasakannya malam ini. Jake sendiri sejujurnya sampai detik ini, tidak mengerti mengapa mengapa mereka membencinya sedemikian rupa. Sebab Jake tak pernah merasa pernah meakukan kesalahan pada mereka. Terlebih dengan Dani. Pemuda yang berdiri di tengah-tengah. Ketua di antara ketiganya
“Sebenernya apa masalah kalian sama gue?” Jake kembali menanyakan pertanyaan yang sebenarny sudah tak terhitung berapa kali ia tanyakan pada mereka selama tiga tahun kebelakang ini.
Dani menunjukan smirk, mengikis jarak dengan Jake. Berjongkok di hadapan pemuda itu. “Apa lo nggak bosen nanyain itu terus? Oke baiklah, berhubung, sebentar lagi kita mungkin nggak akan ketemu lagi, setelah kelulusan besok. Gue akan jawab pertanyaan lo itu.” Tatapan Dani meenukik menajam. “Ini semua karena orang tua lo, khususnya ayah lo.” Alis Jake mengerut tak paham. “Dulu, ayah gue bekerja di perusahaan bokap lo. Tapi dia harus mati di lokasi sebuah pembangunan karena nyelametin bokap lo di sana. Keadaan keluarga gue hancur setelah itu. Bahkan uang yang rutin bokap lo berikan setelah itu, nggak akan bisa menutupi kematian bokap gue. Dan dengan mengejutkannya ternyata gue di sini satu sekolah sama putra semata wayangnya. Lo jadi sasaran empuk gue buat melampiaskan kemarahan dan dendam gue.”
Setelah berkata demikian, Dani bangkit. “Tapi lo nggaak usah khawatir, gue nggak sekeji itu sampai harus menghabisi lo. Yah, seenggaknya negibikin lo terbaring di rumah sakit selama beberapa minggu cukup.”
Sejurus kemudian, Dani memberi tanda pada dua temannya dengan kedua jarinya untuk lanjut memukuli Jake. Sementara Jake Cuma bisa pasrah menerima setiap tinjuan, pukula, serta tendangan yang mereka layangkan secara bertubi-tubi. Sebab ia sudah tak lagi memiliki daya untuk sekadar melindungi diri. Jake harap, Dani dan teman-temannya itu memang tak akan menghabisinya di sini.
*
Rasa nyeri seketika menghampiri setiap sudut tubuh Jake sewaktu kesadaran mulai merasukinya. Perlahan-lahan kedua kelopak mata itu bergetar terbuka, dan apa yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit putih serta cahaya lampu yang menyilaukan. Jake spontan mengernyit dibikinnya. Di samping itu, pemuda tersebut, dapat mencium aroma obat-obatan khas rumah sakit mengusik penciumannya. Tanpa berpikir dua kali pun, Jake yakin pasti dirinya ada di tempat itu.
“Jake!” seruan tak asing itu, tiba-tiba terdengar. Waktu menoleh menuju sumber suara, pemuda itu menemukan satu sobat karibnya melangkah cepat dari arah pintu masuk. “Akhirnya lo sadar juga. Gue pikir lo nggak akan sadar-sadar.” Jay nama pemuda itu. Ia langsung memeluk tubuh Jake secara spontan tanpa berpikir kalau itu bisa saja menyakiti temannya. Jake pun mendesis lalu mengumpat, “Sakit, bego!” Bahkan saat mengatakan itu pun ada nyeri di sudut bibirnya yang robek.
Jay buru-buru melepaskan pelukannya. “Ups, oke maaf-maaf. Nggak sengaja. Gue Cuma seneng banget lo udah sadar. Lo tahu nggak sih, lo tuh udah bikin gue kelimpungan dari kemarin, karena tiba-tiba lo nggak dateng di acara kelulusan, terus tiba-tiba aja ada yang telpon gue kalo lo ada di rumah sakit. Dari kemarin lo nggak sadar-sadar, dan baru sadar sekarang. Lo kenapa hah? Kenapa bisa begini? Siapa yang bikin lo begini? Ooh-oh, gue tahu, ini pasti ulahnya Dani sama kucrut-kucrutnya itu kan? Lo diapain sampe bisa kayak gini?”
Jay berbicara tanpa henti dan memberi jeda. Jake nyaris pusing karenanya. “Udah?”
Jay mengangguk tanpa dosa. Jake lantas menghela napas panjang, bersiap menceritakan kejadiannya. “Kemarin gue digebukin sama mereka di gudang sekolah.”
Jay memelotot. “Wah, sialan, nggak bisa di biarin kalau kayak gini.” Jay baru hendak melangkah pergi ingin memberi pelajaran pada Dani dan teman-temannya, tetapi Jake buru-buru menahan lengan pemuda berambut cepak itu. “Tunggu dulu. Jangan gegabah dulu. Kasih gue jelasin semuanya.” Jay tampak ingin protes, tapi urung saat melihat tatapan Jake yang menunjukan bahwa ia tak ingin di bantah.
“Jadi selama ini, dia benci gue karena katanya, gara-gara nyelametin bokap gue di suatu proyek ayahnya dia meninggal. Itu sebabnya dia ngelampiasin semuanya ke gue.” Jake diam sejenak, melihat raut muka Jay yang sempat berubah murung sesaat. “Kenapa?” tanya pemuda itu. Jay menggeleng, memintanya melanjutkan cerita.
“Dia bilang, setelah hari itu, dia nggak akan ngeggangu gue lagi. Jadi gue pikir, masalah kita udah selesai. Gue juga nggak bisa menyalahkan kemarahannya itu, gimana pun juga dia kehilangan sosok ayah. Yah meskipun caranya itu nggak bener juga sih. Jadi lo nggak usah nyari masalah lagi sama dia, oke? Gue nggak mau masalah ini semakin panjang nantinya.”
Jay diam sejenak, menatap lekat manik hitam legam Jake. Lalu mengangguk. “Oke, tapi awas aja kalo dia nggak megang kata-katanya dan masih aja nyari masalah sama lo, gue nggak akan tinggal diem lagi.”
Jake mengangguk. Ia memejamkan mata. “Oiya. Orang tua gue, mereka udah tahu gue di sini? Kalau nggak salah mereka seharusnya udah balik dari perjalanan bisnis mereka. Mereka juga udah janji bakalan datang ke acara kelulusan, ya walaupun gue nggak ada di sana.”
Bukannya menjawab pertanyaan Jake, Jay malah mengatakan sesuatu yang lain. “Oh iya, ngomong-ngomong soal kelulusan.” Jay memberi jeda, pemuda itu meraih tas sekolahnya dan merogoh sesuatu di dalamnya. Lalu mengeluarkan selembar kertas. Ia menyerahkan itu pada Jake. “Selamat, lulusan terbaik SMA Nusa Bangsa.”
Jake menerima sertifikat itu, memandangi namanya yang terukir di sana. “Sayang banget lo nggak ada kemarin. Seharusnya lo bisa ngasih sedikit pidato, tapi lo malah tiduran di rumah sakit.”
Sudut bibir Jake tertarik sedikit. “Yah, mau gimana lagi.” Jake mengalihkan pandangan kepada Jay lagi. “Pertanyaan gue tadi gimana? Orang tua gue udah balik? Mereka udah tahu gue di sini?”
Jay terdiam sebentar, bola matanya bergulir menghindari tatapan Jake. “Woi, ditanyain juga,” tegur Jake, kesal melihat Jay yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Eum, udah. Mereka lagi ada urusan, makanya minta bantuan gue buat jagain lo.”
Jake mengangguk-ngangguk. Memaklumi, karena kedua orang tuanya terbiasa begitu. Mereka orang yanng terlampau sibuk.
Jay menepuk dahinya. “Astaga ‘kan. Gue sampai lupa ngasih tahu dokter kalau lo udah sadar. Tunggu sini, jangan ke mana-mana, gue manggil dokter dulu.”
Tanpa mau repot-repot meunggu balasan Jake. Jay sudah melesat menghilang di balik pintu. Meninggalkan Jake sendirian di ruangan tersebut. Jake lantas sibuk memandangi sertofikatnya. Ia tidak siap menunjukkan pencapaiannya itu kepada ayah dan ibunya, dan menagih janji mereka, agar membiarkannya kuliah di luar negeri. Tanpa Jake tahu, kalau janji itu tidak akan pernah bisa ia tagih.