Yik bergerak gelisah, menanti Jake yang tak kunjung kembali. Ia khawatir dengan pemuda itu. Hutan ini bukan lah jenis hutan yang aman di masuki bahkan ketika keadaan negeri ini belum di selimuti kegelapan. Ada banyak binatang buas serta makhluk-makhluk pemarah yang kerap kali mencari masalah dengan makhluk lainnya. Sebetulnya bukan masalah besar, tetapi jika orang itu Jake, maka bisa saja menjadi masalah besar.
Jake tidak tahu menahu apa pun tentang dunia ini. Pemuda itu kemungkinan besar akan mendapat masalah jika di biarkan berkeliaran sendiri terlalu lama—tidak, bahkan bila itu sebentar pun tidak menutup kemungkinan pemuda itu di serang masalah. “Tidak bisa begini,” cetus Yik. Yok sedang berbaring dengan lipatan tangan sebagai bantalan, serta kaki yang menyilang menyahut malas. “Apanya yang tidak bisa begini Yik?”
“Kita harus menyusul, Pangeran. Dia bisa saja dalam masalah sekarang.”
Yok merubah posisi menjadi miring, menatap Yik. “Sudah lah Yik, biarkan. Lagi pula dia sendiri yang kabur begitu. Dia pasti akan kembali, itu pun kalau dia masih hidup.”
Yik melempari Yok dengan kerikil, tepat mengenai dahi saudaranya itu. “Jangan bicara macam-macam.” tukas Yik, ia paling tidak suka kalau ada orang yang berbicara mengenai keburukan. Karena ia mempunyai keyakinan kalau kata-kata adalah senjata paling ampuh, tiada yang bisa menebak kalau hanya dari kata-kata bisa saja memunculkan bencana besar. “Aku tidak peduli kalian mau ikut atau tidak, tapi aku akan tetap menyusul Pangeran.”
Sebelum melangkah pergi, Yik berujar, “Aku pasti akan melaporkan pada Yang Mulia, tentang tindakan tidak bertanggung jawab kalian ini pada Pangeran nantinya. Biar tahu rasa kalian di jadikan santapan Malgaroth kerajaan.” Malgaroth yang Yik maksud adalah sejenis serigala buas dengan ukuran tubuh sepanjang sepuluh meter dengan taring sebesar gading gajah, yang sudah dijinakan oleh kerajaan. Binatang itu bukan jenis bintang yang cocok di jadikan peliharaan sesungguhnya. Namun Raja Euor—Raja Negeri I Land—tidak memedulikannya, katanya ia senang melihat air liur Malgaroth yang menetes ketika hewan itu sedang terancam atau bertarung. Betul-betul alasan yang aneh.
Mendengar ancaman Yik itu, Yaj lantas bangkit menyusul kurcaci wanita itu seraya terkekeh kecil. Dia tidak takut kok, dengan ancaman kacangan seperti itu, lagi pula Raja Euor mana mungkin bertindak demikian cuma gara-gara ia melepas anaknya sebentar di hutan, setelah selama sembilan belas tahun ini ia sudah menjadi baby sitter anak itu. Yok yang meski terlihat malas-malasan pun pada akhirnya turut bangkit mengekori saudarinya.
Selama beberapa menit berjalan mencari Jake, ketiganya dikejutkan dengan suara gedebuk yang datang tidak jauh dari mereka. Tanpa perlu menunggu, Yik segera berlari menuju sumber suara. Ia yakin itu pasti Jake, yang barangkali dalam kesulitan, yang sesungguhnya Yik harap firasatnya itu tidak benar. Akan tetapi harapan tingga lah harapan begitu ia melihat Jake berhadapan dengan seekor Wildzard. Wildzard merupakan jenis kadal berukuran raksasa—sedikit lebih besar dari komodo. Hewan itu biasanya memangsa burung-burung yang bertengger di dahan pohon menggunakan lidahnya yang panjang, ia jarang menyerang makhluk lain bila dirinya tak merasa terancam.
Jadi pertanyaannya sekarang, apa yang sudah Jake perbuat sampai membuat hewan itu marah?
Yik baru hendak berlari membantu Jake, ketika gerakannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang. Sewaktu Yik menoleh, ia menemukan Yaj, yang tengah menatap lurus ke arah Jake. “Lepaskan. Aku harus menolong, Pangeran.” Yik mencoba menepis tangan Yaj yang memegangi lengannya, tetapi pria tua dalam wujud remaja itu teguh.
“Jangan,” larangnya, tanpa melepaskan pandangan dari Jake yang kelimpungan menghindari serangan-serangan kadal raksasa itu.
Yik mendelik tak suka. “Apa maksud mu dengan jangan? Kau tidak lihat Pangeran sedang di serang di sana? Kita harus menolongnya, kalau kau memang tidak mau menolongnya maka jangan cegah aku untuk melakukannya,” cecar Yik seraya berusaha melepaskan cengkraman Yaj. Namun Yaj sepertinya tak mendengarkan lantaran ia tak melonggarkan sedikit pun cengkramannya pada lengan Yik.
“Aku bilang jangan,” tegas Yaj. “Itu cuma kadal kecil. Kita lihat dulu sampai mana dia bisa menghadapi hewan itu.” Kini tatapan Yaj turun pada Yik yang masih tampak tak sependapat. “Bukannya kau ingin anak itu menolong negeri ini? Jika melewati kadal seperti itu saja dia tidak mampu, apa yang mau kau harapkan darinya?”
Yik menekuk bibirnya ke dalam, seraya melirik Jake yang tampak semakin kewalahan di sana. Pikirannya bimbang, sebelumnya ia sudah sempat mendengar dari Yaj yang selama ini mengawasi Jake. Kalau selama ini Jake tidak menunjukkan adanya kekuatan apa pun dalam dirinya, anak itu bahkan payah dalam berkelahi. Jikalau begitu, bukan kah terlalu berlebihan mengujinya langsung dengan hewan yang meski tak begitu buas, tetapi memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan pula.
Yik kembali memerhatikan Wildzar itu, kerutan di dahinya bertambah saat mendapati bola mata makhluk itu yang menghitam sepenuhnya, di tambah dengan aura hitam yang tak biasa yang menguar dari tubuh Wildzard. Bola matanya seketika mendelik kala ia menyadari sesuatu. Wildzard, makhluk itu sedang dalam pengaruh kekuatan hitam.