Jake buru-buru meraih kesadarannya, dan menjauh dari sana sebelum ekor itu kembali bergerak menyerangnya. Ekor tersebut kembali masuk ke kegelapan, dan Jake total di bikin bergidig ngeri sewaktu melihat batang pohon serta tanah yang terkena dampak sabetan retak dan nyaris remuk. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia yang terkena sabetan itu. Barangkali tubuhnya sudah menjadi perkedel.
Jake menoleh cepat ke arah hilangnya ekor tadi sewaktu rungunya mendengar bunyi berisik. Bola matanya seketika membulat lebar saat makhluk itu memperlihatkan wujudnya. Hewan itu mirip kadal, cicak atau apa pun itu sejenisnya. Juga besar, lebih besar dari komodo dari wilayah Nusa Tenggara Timur yang pernah Jake lihat di televisi. Bola mata makhluk itu hitam pekat, sehingga terlihat seakan-akan bolong. Jake terperanjat sewaktu makhluk itu mengeluarkan lidahnya ke arah Jake. Jake spontan menghindar, tetapi lidah itu dapat bergerak lincah. Ujung lidah berlendir itu sempat mengenai kaki Jake saat ia hendak berlari, alhasil cowok itu terjerembab jatuh.
Jake meringis, jatuh dalam posisi tengkurap. “Dasar cicak jelek sialan,” umpatnya kesal.
Makhluk yang menurut Jake mirip cicak itu, menggeram marah seolah mengerti umpatan yang Jake ucapkan barusan. Ia mengibas-ngibaskan ekornya membuat beberapa ranting pohon yang ukurannya sebesar lengan orang dewasa terpental ke mana-mana. Jake spontan tiarap, melindungi kepalanya dari dahan-dahan itu, sembari tetap memerhatikan makhluk itu dari sela-sela lipatan tangannya. Kala ekor makhluk itu hendak menghantam tubuhnya, Jake berguling ke samping berupaya menghindar, sehingga ekor tersebut mengenai lahan kosong.
Jake belum sempat berpikir apa-apa ketika lidah makhluk itu menjulur dan membuat tubuhnya terhempas beberapa meter ke samping kiri. Sebuah pohon yang menjulang, menghentikan tubuh Jake. Cowok itu mendesis nyeri merasakan sakit yang tak terkira pada area punggung sebelah kanan. Ia bahkan sempat terenyak selama beberapa saat, untuk mengingat caranya bernapas.
Ia mencoba berdiri dengan tungkai kakinya yang gemetar, begitu pula dengan tubuhnya. Dulu ia sering kali menjadi bahan bulan-bulanan Dani yang ternyata memiliki dendam kesumat padanya, saat itu Jake barangkali masih bisa melawan walau pun cuma sebuah perlawanan kecil karena yang ia lawan masih satu bangsa dengannya. Akan tetapi kali ini bagaimana mungkin ia bisa melawan makhluk yang bahkan jauh lebih besar darinya. Seumur-umur Jake bahkan tidak pernah sekali pun membayangkan kalau ia akan di hajar habis-habisan oleh makhluk semacam ini.
Jake kehabisan kata-katanya. Belum cukup kuat kakinya berdiri ketika tahu-tahu cicak raksasa itu sudah bersiap-siap memukul Jake lagi. Jake mendesis gentar, sudah bersiap dijadikan tempe penyet, ketika sosok Jay—atau Yaj itu muncul di hadapannya secara tiba-tiba dan mengacungkan tangannya pada makhluk itu. Jake tidak paham apa yang orang itu lakukan, tetapi ada sebuah energi yang muncul yang sukses menggulingkan cicak raksasa itu sebanyak dua kali ke belakang.
“Jake, kau tidak apa-apa?” seruan khawatir itu muncul dari sisi lain. Yik di sana menelitinya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan sorot cemas.
Jake mendengus, entah mengapa semenjak bertemu dengan duo kurcaci di gedung kosong itu ia merasa sifatnya menjadi lebih sensian. “Kau pikir aku masih baik-baik saja, setelah tadi aku nyaris dijadikan tempe penyet sama cicak raksasa itu?”
Yik menggeleng polos, dan sebuah taea tersembur karenanya. Yaj di sana berjalan mendekati Jake. “Bukan kah aku sudah peringati tadi untuk tidak pergi terlalu lama dan terlalu jauh? Ini bukan wilayah kau ketahui, malah main pergi saja. Jangan salah kan orang lain kalau kau nyaris menjadi tempe penyet.”
Jake memalingkan muka antara kesal dan malu.
“Padahal aku sangat menikmati menontoni mu terpojokan oleh Wildzard tadi, sayang sekali Yik tidak setega itu membiarkan mu terpojok lebih lama.” Kini suara si kurcaci menyebalkan itu muncul.
Jake mengerutkan keningnya. “Apa maksud mu dengan menontoni?” Jake memandangi ketiga makhluk itu. “Jadi dari tadi kalian sudah ada di sini? Tapi malah membiarkan ku nyaris mati jadi bulan-bulanan cicak raksasa itu?”
“Kami hanya mengira kau bisa mengalahkan Wildzard itu sendirian, tetapi ternyata ekspetasi ku terlalu tinggi, ya?” Yaj memasang senyum, yang terlihat seperti senyum mengejek di mata Jake.
Jake menunding wajah Jay itu kesal. “Ya, kau pikir saja, bagaimana caranya aku bisa melawan hewan rakasasa itu sendirian, apa lagi tanpa senjata.”
Yaj mengangkat kedua tangannya ke udara. “Buktinya aku bisa tuh.” Jempolnya mengarah ke cicak raksasa tadi yang kini tergeletak telentang tidak bergerak. “Aku bahkan bisa membuatnya pingsan cuma dengan satu serangan,” sombong Yaj.
Jake menggertakan giginya geram. “Kau ‘kan memang makhluk aneh.”
“Iya. Dan makhluk aneh ini yang baru saja menyelamatkan nyawa mu,” balas Yaj tenang.
“Sudah-sudah. Hentikan perdebatan ini, lebih baik kita pergi dari sini sekarang sebelum Wildzar itu bangun.”
Jake menjauh dari ketiga orang itu. Menatap dengan tatapan skeptis. Sebetulnya ia tidak mau ikut dengan mereka, ia belum bisa memercayai ketiga makhluk itu sepenuhnya. Namun pergi sendiri juga bukan pilihan yang baik ia ambil. Salah-salah nanti ia bertemu dengan cicak raksasa lainnya.
“Kenapa menjauh begitu? Tidak mau ikut kami? Mau pergi sendiri lagi? Ya, tidak masalah sih, tapi kalau sampai bertemu dengan wildzard lagi, jangan harap kami akan menolong mu lagi.”
Jake membuang jauh-jauh gengsinya. “Aku tidak pernah bilang aku tidak mau ikut,” cetusnya agak ketus.
Yik meraih lengan Jake, seraya berkata, “Kalau begitu ayo kita pergi, biar aku bantu.” Yik berniat memapah Jake yang notabennya lebih besar dan tinggi karenanya, akan tetapi Jake menolak sambil berucap, “Tidak usah, aku bisa sendiri.”
Mereka pun beranjak pergi dari sana meninggalkan si cicak raksasa yang pingsan setelah mendapat pukulan dari Yaj.