Dalam tidurnya Hilara berada di ruangan sepi. Hening, gelap, hanya terasa mengambang di udara menenangkan. Sehingga ketika dia terbangun sulit menerjemahkan apa yang dia rasa. Hilara terbangun karean derit di jendela kamarnya. Alarm si tukang pembersih kaca. Tandanya pagi telah tiba. Tidak ada orang bekerja serajin si pembersih kaca. Hilara beranjak dari tempat tidur, menggapai gulungan handuk di buffet kamar mandi, lalu termenung lama memandang refleksi dirinya di cermin. Seragam sekolahnya menggantung di deretan baju pergi. Tepat di belakangnya. Hilara menghela napas, lupa, sedang dalam masa diberhentikan sementara. Sekolah meninggalkannya. Ada yang menjerit tapi sosoknya tak tampak. Ternyata jeritan itu berasal dari hatinya sendiri. "Lala?" Juna mengetuk pintu. "Udah bangun? Hng ...

