Di dalam kamar, aku tidak langsung bersiap untuk pergi. Sebenarnya memang aku sangat ingin keluar dari rumah ini untuk sekedar mencari hawa segar untukku yang sangat terbelenggu, namun bukan seperti ini caranya. Aku mencoba untuk menenangkan suamiku yang sangat emosi itu. "Mas ...," ucapku lembut kepada suamiku yang tengah memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. "Apa Sayang?" balas Mas Miko sambil menatap mataku yang masih sembab karena menangis. "Kita makan di rumah aja ya, kan sayang makanannya nggak kemakan," ucapku yang beralasan agar suamiku tak meninggalkan rumah dalam keadaan emosi. "Maaf ya Sayang, maaf banget bukannya aku tak menghargai masakan kamu. Tapi untuk saat ini aku ingin menenangkan pikiranku dengan keluar sementara dari rumah ini, di rumah ini sangat panas," balas Mas

