Aku dapat melihat tatapan mata penuh kekecewaan di bola mata suamiku, pasti sangat sakit diusir oleh ayahnya sendiri. Aku tau ia menyimpan rasa yang teramat sakit di hatinya. Melihatnya seperti ini, aku jadi merasa bersalah, gara-gara aku suamiku dibenci oleh keluarganya. "Mas ...," ucapku yang masih terus mengajak bicara Mas Miko, berharap ia akan membalasnya. "Iya Sayang," jawab Mas Miko, namun pandangannya masih tetap lurus menatap jalan. "Mas, kalo misalnya kita memilih jalan sendiri-sendiri aja gimana?" ucapku tiba-tiba. Mendengar hal itu Mas Miko langsung menghentikan mobilnya disisi jalan. "Apa maksudmu Sayang? Apa kamu sudah bosan hidup menderita bersamaku?" tanya Mas Miko dengan mata berkaca sambil menatap bola mataku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku tak sanggup unt

