Aku memberi kode pada Mas Aksya untuk kembali ke meja makan. Untuk nimbrung mendengar pembahasan tentang Demian. Namun sepertinya Mas Aksya tidak tertarik dan malah tetap menuntunku melangkah ke kamar tidur. "Mas, Demian kenapa?" Sambil jalan sengaja membuka obrolan tentang mantan berharap Mas Aksya bercerita. Namun Mas Aksya mengedikkan bahunya. Tangannya lebih erat menggenggam tanganku. Aku diam dulu karena akan jadi bumerang kalau aku tetap memaksa membahas mantan terburukku itu. Sabar, Nay, jangan terlalu terburu-buru. Jangan sampai Mas Aksya curiga. "Kasihan ya, Tante Lily. Punya anak seperti Demian." Kuharap pernyataanku ini memancing Mas Aksya untuk bicara. "Kasihan? Memang Demian kenapa?" Yes! Mas Aksya terpancing. Namun nada suaranya terdengar tidak suka. Kuharap ia ti

