Karu memasuki ruangan Bu Sika dengan sangat geram, ia mendorong pintu itu kasar sampai Sika kaget. "Eh?" Sika terkekeh. "Selamat siang Mba Sika," sapanya cengengesan. "E, Bu. Tadi Pak Tirta titip ini. Minta untuk Ibu periksa berkasnya dan kalau memang sudah sesuai isinya bisa di tanda tangani Bu," ucap Sika seraya memapangkan sebuah kertas penting. **** "Psst," Mounara terus mengganggu Riza, ia memang ingin mencari perhatian Riza. Riza hanya meliriknya lalu menghiraukannya dan kembali mengetik. "Sst," bisiknya sekali lagi seraya menahan senyum tetapi Riza masih menghiraukannya. Ia mengerutkan alis lalu menulis sesuatu si selembar kertas entah apa sembari melirik-lirik Riza. "Misi Bu, ini ada fasilita vetumnya dari Ibu Hertanti," ucap seorang karyawan pria yang masuk secara sopan

