bc

BerondongKu

book_age18+
1.2K
IKUTI
7.5K
BACA
others
drama
sweet
humorous
male lead
like
intro-logo
Uraian

Riza Ananda, pemuda polos dan baik hati yang bisa membuat 2 tante-tante cantik dan kaya raya bernama Karu dan Mounara jatuh cinta dan tergila-gila padanya. Segala macam cara dilakukan kedua perempuan itu untuk menarik perhatian Riza.

Lalu, siapakah yang akan dipilih Riza untuk mendampinginya? Apakah Karu yang pendiam dan kalem, ataukah Mounara yang selalu ceria?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
Jakarta dan segala kesibukannya menjadi ciri khas ibu kota. Pemuda itu baru bangun dari tidurnya bertepatan dengan matahari memancarkan sinarnya. Pemuda itu bernama Riza Ananda, berasal dari sebuah pulau terbesar di Indonesia. Ia merantau ke ibu kota bersama kakak sepupunya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta di kota ini. Riza tinggal di sebuah kost, begitu juga dengan kakak sepupunya. Mereka bersebelahan. Shella Puspita, kakak sepupu Riza menolak untuk tinggal dalam satu kamar kost yang sama. Shella lebih memilih satu kamar kost bersama dua orang sahabatnya. Sore itu Riza berjalan-berjalan ke salah satu toko buku ternama. Ia ingin mencari sebuah buku bergenre horor. Ia sangat menyukai buku dengan tema itu. Suasana toko buku lumayan ramai saat Riza memasuki toko. Riza langsung menuju rak di mana buku dengan genre yang disukainya berada. Di bagian tengah rak, Riza menemukan sebuah buku yang menarik perhatiannya. Buku itu mengisahkan tentang hantu yang disebut Palasik, yang diartikan sebagai makhluk penghisap darah dan pemakan orok wanita hamil. Di Kalimantan, daerah asal Riza, orang menyebutnya dengan sebuatan Kuyang. Sampul bukunya pun cukup mengerikan, semakin membuat Riza penasaran dengan isi cerita di dalamnya. Namun, saat ia ingin mengambilnya ada tangan yang juga menarik buku itu bersamaan dengannya. Riza terkejut, tapi ia tetap mencoba memaksa menarik buku cerita yang hanya tertinggal satu-satunya di rak itu. Namun, tangan itu juga seakan tak melepaskannya, membuat Riza kesal dan mencoba melihat siapa orang yang juga menarik buku yang sama dengannya. "Maaf, saya orang pertama yang melihat buku ini!" Kata-kata itu bukan hanya keluar dari mulut Riza, tetapi juga diucapkan oleh si pemilik tangan lain. Riza meringis, ia merasa agak lucu dengan apa yang diucapkannya. Bagaimana mungkin bisa sama persis dengan apa yang diucapkan oleh perempuan ramping di depannya. Eh? Perempuan? Sekali lagi Riza meringis, malu karena sudah berebut sesuatu dengan seorang perempuan. Dalam hati Riza memaki dirinya sendiri, ia terlalu ceroboh. Riza mencoba memberinya senyuman hanya untuk menutupi kegugupannya. Sepasang alis tebalnya berkerut, ia merasa pernah melihat perempuan ini. Namun di mana entah ia lupa. Riza mengangguk sekali, berniat meninggalkan tempat itu. Sebelum ia ingat di mana pernah melihat wajah cantik perempuan dewasa di depannya. Setahu Riza, perempuan ini bernama Karu Qiandra. Seorang model terkenal yang wajahnya sering menghiasi sampul beberapa majalah. "Ma-maaf," ucap Riza terbata. Ia sadar perempuan di depannya lebih tua, jadi sebagai seorang yang lebih muda ia harus bersikap sopan dan menghormati. Neneknya yang mengajarkan. Wajah cantik itu terlihat kesal. Mata bulatnya menatap tajam pada pemuda ingusan yang berdiri cengengesan di depannya. Karu Qiandra menaikkan sebelah alis, dagunya yang lancip terangkat angkuh. Tatapannya meremehkan.. Riza memilih untuk mengalah dan mempersilahkan dia saja yang mengambil buku itu, Riza tidak nyaman karena dia lebih tua dari nya, maka dari itu Riza menghormatinya. Dia pun dengan senang hati mengambil buku itu dan dia pun membawa pergi buku itu, tanpa ada kata sedikitpun dia meninggalkan Riza. Riza agak kesal dan membuang nafasnya gugup. Dia pun meninggalkan tempat itu tak jadi membeli buku karena kesal dan pasrah. Seminggu pun berlalu, Riza diajak kakak sepupunya untuk ikut ke suatu hotel mewah diundang temannya untuk acara tunangan temannya, Riza pun dengan senang hati ikut. Dia pun memakai pakaian keren kesana, terlihat sangat tampan sekali remaja bermata sipit ini. Saat pertengahan acara, Riza bilang ke kakaknya bahwa ia ingin ke toilet sebentar, dia pun mencari-cari toilet disana, dia bingung karena hotelnya terlalu besar bagi dirinya, dia juga agak malu tapi terpaksa ia jalan sendiri, akhirnya dia mendapatkan toilet dan ia pun masuk. Betapa leganya dia setelahnya, dia pun berjalan. Namun, dia agak malu entah kenapa pas ia keluar orang semakin banyak fikirnya, ternyata mereka baru selesai pemotretan, Riza pun malu dan mempercepat langkahnya, tak sadar ada seorang wanita yang berjalan berlawanan dengannya, wanita itu pun juga tidak melihat ada Riza didepannya karena ia berjalan kalem menunduk sembari memeriksa jam tangannya, Riza gagu nengok kiri kanan tanpa melihat kedepan dan... "WOH!!!" Dia nyaris tertabrak dengan wanita itu dan ternyata Karu. Ini pertemuan mereka kedua kalinya tanpa sengaja, Karu langsung berhenti, Riza sekarang berada dihadapannya panik karena ingin jatuh ke arah belakang, Karu hanya cuek dan datar melihat Riza ingin terjatuh tanpa ada niat membantu, setengah mati ia mencoba bangun dan mempertahankan kepala dan badannya agar tidak terjatuh kelantai, orang-orang pun sontak melihat ke arahnya karena kaget dan heran. Riza merasa sangat panik dan malu bukan main, ia pun terus mencoba bangun dan... Sekarang ia tepat berada di depan Karu, wajahnya dekat sekali dengan wanita cantik itu. Riza membelalakkan matanya dan ternganga, kini mereka bertatapan, Riza mengedipkan matanya seolah tak percaya, orang-orang heran melihat mereka dan ada juga yang kaget. Karu menatap tajam kearahnya sembari mengerutkan keningnya tanda kesal. Ia pun pergi meninggalkan Riza lagi tanpa ada perduli. Riza masih terpaku seakan terpanah tatapan Karu tadi. Waktu pun berlalu kembali, kakak sepupunya Riza menyarankan Riza untuk bekerja berseling dengan kuliah, karena 2 setengah tahun waktu tersisa menyelesaikan kuliahnya, katanya temannya ada lowongan pekerjaan yang cocok untuknya, pekerjaannya hanya melayani seorang manajer wanita dan bersih-bersih kantor disana, kakaknya pun sempat menertawakan dan bilang ke Riza siapa tau wanita itu jatuh cinta dengannya, Riza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kakak sepupunya yang memang berjiwa kocak itu, katanya suka mengadi-ngadi. Riza pun menerima tawaran kakaknya, karena dia berfikir kasihan juga kalau dia selalu tidak mempunyai pendapatan dan selalu bergantung kepada kakaknya itu. Hari itu pun kakaknya bersama temannya membawa Riza ke perusahaan itu. Riza agak insecure apakah benar diperusahaan lumayan besar ini dia akan bekerja, tapi memikirkan posisinya sepertinya wajar, hanya pelayan bukan karyawan ungkapnya dalam hati. Dia pun sudah memasuki ruang manager itu, betapa besar, nyaman dan dipenuhi dokumen-dokumen perusahaan disana, Riza gugup dan sangat takut terjadi kesalahan saat sudah bekerja, salah sedikit saja maka ia akan diberi sanksi ini, ujarnya. Dia juga takut kalau managernya itu berwajah sangar dan pemarah, namun teman kakaknya menjelaskan kepadanya bahwa orangnya ramah, sangat pendiam dan kalem, membuat Riza tenang-tenang saja, dari depan ia sudah melihat seseorang yang agak berbeda tampilannya, kelihatan seperti atasannya lebih berkelas mengarah membelakangi mereka, sepertinya di sedang sibuk membicarakan pekerjaan kepada staff-staff lain, dan saat dipanggil ternyata wanita cantik itu adalah Karu, Riza pun kaget karena dia adalah wanita yang sudah 2x ia temui tak segaja. "Kamu?!" Ucap Riza secara spontan. Kakaknya dan temannya pun mengangkat keningnya, "Kalian sudah kenal ternyata" Jawab teman kakak Riza tertawa. Karu hanya heran. "Tidak!, Kami hanya... Pernah bertemu secara tak sengaja..." Jawab Karu, perasaan Riza sekarang campur aduk, dia berfikir heran kenapa dia selalu bertemu wanita ini. Kakak dan temannya pun menertawakan dia, teman kakak Riza memperkenalkan Riza kepada Karu, bahwa dia lah yang akan melayani Karu selama dikantor dan ia pun memberi berkas lamaran Riza, Karu pun memeriksanya lalu membujuk Karu untuk menerima ia sebagai Office Boy disana karena dia juga sambil kuliah di universitas yang lumayan terkenal di sana, nilainya juga cukup bagus, karena Karu juga lumayan dekat dengannya ia pun menerima Riza, walau ia tidak menyukai anak-anak yang lebih muda darinya. "Karu Qiandra" Ucap Karu sembari menjabat tangan Riza, Riza agak gugup dan tergagu saat menjawab perkenalan dari Karu, "Riz Riza Ananda, panggil aja saya Riza bu" Jawab Riza terpatah-patah. Mereka pun tertawa mendengar Riza memanggil Ibu, Karu pun agak malu dan segera melepaskan jabat tangannya. "Sepertinya sudah cukup sampai disini perkenalan kita, besok kamu sudah bisa masuk disini" kata Karu, Riza pun sangat bersyukur dan senang, ia mengangguk mantap. "Iya bu siap laksanakan, terimakasih banyak" jawab Riza mencoba sopan, Karu pun mengangguk lalu keluar sepertinya ada urusan yang ingin ia belum selesaikan. "Sarah, Shella? Saya pamit keluar duluan ya?" kata Karu pamit sembari membawa berkas lamaran Riza tadi, mereka pun mengiakan Karu dan tersenyum. "Iya terimakasih banyak ya Nona Karu" jawab Shella. Kakaknya bersama temannya merasa heran dan lucu, Riza jengkel dengan mereka karena dari tadi seperti mengolok-olok dirinya, akhirnya mereka pun pulang. *** Riza mulai masuk kerja sekarang, dia masih agak canggung kepada Karu, namun Riza bekerja baik, apa yang diperintahkan Karu selalu ia lakukan dengan baik, awalnya mereka biasa-biasa saja, namun setelah sebulan Riza merasa ada kekaguman kepada Karu, dia menganggap Karu sebagai wanita mandiri tak bergantung kepada laki-laki. Hari-hari telah mereka lalui, dan saat suatu hari Riza hari itu tak sempat sarapan, ia pun menjadi tak konsen saat bekerja dan saat Karu suruh untuk membuatkan tamunya minum dia merasa sangat pusing, untung saja kopi yang ia buat tak terjatuh dan sempat ia taruh di meja, Karu pun ikut panik, dia pun meminta maaf kepada tamu nya untuk mengantar anak remaja itu ke tempat peristirahatan, dia pun memanggil karyawan laki-lakinya juga untuk mengangkat Riza. Saat Riza sudah mulai membaik dan bisa membuka mata kembali, terlihat Karu ada didepan matanya, ia pun kaget dan langsung minta maaf tidak enak karena merasa merepotkan, Karu pun agak marah dari raut wajahnya, "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sedang sakit?" tanya Karu marah. Riza meminta maaf dan berkata jujur bahwa dia menderita maagh dan pagi tadi ia tak sempat sarapan. "Seharusnya kamu sarapan dulu, tidak apa-apa izin bilang ke saya berangkat terlambat sedikit untuk sarapan, kalau begini kan kamu juga yang repot?!, Untung tadi tamu saya bisa memakluminya," ujar Karu marah. Riza merasa bersalah dan terdiam, dia meminta maaf lagi. "Ma, maafkan saya bu, saya hanya takut Ibu tak menerima saya masuk hari ini karena terlambat, la, lain kali saya janji tak begini lagi bu," ucap Riza takut Karu menggelengkan kepalanya, Riza pun dimaafkannya. "Ya sudah, ini untuk kamu... saya tinggal dulu, kalau kamu sudah agak mendingan, silahkan pulang saja, besok saja dilanjutkannya kalau sudah bisa" dia memberi Riza makanan dan obat. Riza terkejut. Karu pun menyuruhnya untuk memakannya agar kesehatannya membaik dan lebih fit kembali. Riza merasa sangat senang bahwa bosnya yang kalem dan sedikit jutek itu ternyata perduli kepadanya walau ia merasa tak enak dan sangat merepotkan, ia awalnya menolak dan berterimakasih karena merasa merepotkan tetapi Karu marah dan bilang tidak apa-apa itu sudah kewajibannya untuk memperlakukan karyawan disini dengan baik, dan ia pun menuruti semua yang diberi Karu. Riza sangat senang dan semakin mengagumi Karu, dia mulai ada rasa suka kepada Karu, dia tidak perduli Karu lebih tua dari nya 15 tahun, Riza sekarang 21 tahun, sedangkan Karu sudah 36 tahun namun Karu masih terlihat seperti anak remaja karena dia memang sangat cantik maka dari Riza jatuh hati. Hal yang memang gila maka dari itu Riza memilih untuk memendamnya saja, lagipula Riza sadar diri dia hanya OB sedangkan Karu seorang manajer perusahannya disana dan punya kerjaan sampingan menjadi model. Suatu hari Riza ingin memberikan sesuatu kepada Karu sebagai tanda terimakasih nya karena telah menerimanya sebagai karyawan disana, kakaknya pun menyarankan juga. Hari itu pun saat ia melihat Karu sedang ingin turun dari tangga ia pun menghampiri Karu yang sudah turun. "Ibu Karu!" sapanya tersenyum. Karu hanya mengangkat keningnya. Ia pun memberikan sebincis kado kecil dengan tali, "Ini ada kado dari saya untuk Ibu sebagai tanda terimakasih saya karena Ibu sudah menerima saya disini, padahal saya masih belum lulus kuliah," ucap Riza agak gugup. Karu kaget dan heran, ia seperti mendengar semua karyawannya ada yang menertawakannya dan membicarakannya. Dia pun agak malu dengan itu, tapi Karu berusaha cuek dan menolak hadiah dari Riza. Ditangkisnya hadiah itu dari tangan Riza sampai hadiah itu terbang lumayan tinggi lalu jatuh terhempas kelantai, tanpa ada rasa bersalah Karu pergi meninggalkan ia tanpa ada merasa sedikitpun, Riza pun sontak merasa sangat kecewa dan sedih, dia sangat kaget. Karu memang sangat cuek, arogan dengan dirinya, bukan Riza saja yang dia perlakukan seperti itu, semua laki-laki yang mengaguminya pun hanya ia diamkan. Riza pun sedih terdiam kaku sembari ingin menangis, namun saat ia tersadar jadi sorotan mata yang semua yang ada di sana, sontak dia mengambil kadonya yang jatuh kelantai itu, dia pun pergi dari sana sembari menangis kecil. Riza mencoba untuk mendekati Karu agar ia diperlakukan layaknya yang lain. Namun Karu selalu kasar kepadanya, pernah juga pas Riza ingin menolongnya waktu pulang malam bertemu diluar saat tangannya luka tergores tak sengaja pinggir lemari kantor yang tajam, Riza mencoba mengobatinya dan menggapai tangan Karu. Namun, Karu malah menghempas tangannya lalu pergi meninggalkannya. Riza pun sudah tak tahan lagi dan saat itu ia sedikit menangis dan kesal. Namun, saat Riza sudah mulai tak lagi mengharapkan ia ingin dilihat baik oleh Karu. ... Riza merenung sendiri di toilet kantor, hari ini dia tertekan bekerja. Berhari-hari ia lalui dengan tak saling menyapa dengan bosnya sendiri, dia merasa tak nyaman tak tahan, ia pun mencoba curhat ke kakaknya untuk meminta solusi, kakaknya pun memahami, dia juga tak bisa marah ke Karu, karena memang ini cuma mereka yang mau bukan Karu, jadi wajar kalau dia menolak, kakaknya pun menyuruh Riza untuk meminta maaf kepada Karu, Riza sebenarnya masih takut namun bagaimanapun Karu adalah bosnya tanpa dia Riza tidak bisa masuk disitu, Riza pun terpaksa dengan ketakutan melakukan itu, karena kalau tidak mereka akan terus seperti ini. . . . . . Keesokan harinya Riza pun memantapkan niatnya, hari ini berjalan seperti biasa, saat pulang pun tiba, dia memang tau jadwal hari ini pulangnya berbarengan dengan Karu, saat sudah sampai luar kantor. Riza pun memanggil Karu "Bu Karu!" teriaknya. Karu pun spontan menengok, dia pun juga heran tumben anak ini memanggil dia malam-malam begini, Riza pun sampai tepat dihadapannya. "Ada apa?" tanya Karu datar seperti biasa. Riza menarik napasnya panjang, "Sa, sa, saa...," ucap Riza gagap tak sanggup ingin menyampaikan itu sambil memejamkan matanya erat. Karu mengangkat kening nya satu sangat terheran-heran. "Saya minta maaf atas kelancangan saya, kelancangan saya semalam memaksa Ibu untuk menerima hadiah saya," katanya sembari menggenggam tangan Karu cepat. Dia juga tak sadar melakukan hal itu, ia juga kaget Karu semakin marah padanya karena telah menggenggam tangannya tiba-tiba, dia pun menghempaskan tangan Riza dan menatap tajam ke arahnya, dia terlihat emosi dan marah kepada Riza yang bersikap aneh seperti itu, tanpa memperdulikan Riza seperti biasa dia memalingkan dirinya sembari menghela nafas pendek lalu pergi tanpa rasa kasihan, Riza hanya sesak, dia tak sadar menitikkan air matanya. Tak menyangka jadi seperti, dia malah semakin memperburuk keadaan. Dia mengamuk sendiri disana merasa sangat malu, sedih, kesal, kecewa, marah semua bercampur aduk, dia memang bodoh dalam memperlakukan wanita, maka dari itu sampai sekarang dia masih sendiri juga hahaha. Dia terlihat sangat konyol seperti biasa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Menjadi Orang Ke Tiga

read
5.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook