Karu pun terus memikir kan hal tadi, Karu sebenarnya selalu memikirkan semua yang terjadi, namun dia hebat dalam hal memendam, sembari masuk mobil dia menghela nafasnya lagi, mengingat semua Riza lakukan tadi, mulai berkata gagap sampai Riza menggenggam tangannya tiba-tiba, dia pun menyalakan mobilnya, rasanya juga sekarang bercampur aduk, jantungnya berdegup kencang, dia juga tak tau kenapa ia begini. Namun ia mencoba melupakan hal tadi yang menurutnya tak penting itu. Dia terus mengerutkan keningnya masih emosi kepada Riza, ia pun pergi.
.
Sejak kejadian itu, Karu merasa ada yang berubah pada dirinya, sesaimpainya di rumah, dia selalu memikirkan pemuda tampan konyol itu, dia pun juga merasa konyol mengapa ia seperti telah mempunyai rasa kepada berondong, baru kali dia merasakan rasa suka kepada orang yang lebih muda darinya, dia malu pada diri sendiri dan masih tak percaya dengan semuanya, dia mengingatkan semua yang pernah dia lalui bersama Riza. Mulai mereka pertama bertemu, Riza di masukkan ke perusahaannya, berbagi hobi yang sama bahwa suka menonton film horror dan komik horror, hingga Riza pernah menghiburnya saat dia sedang kelelahan karena pekerjaan, dia terus mencoba melupakan perasaan itu namun malah terus bertambah-bertambah dan malah makin bertambah, Karu yang awalnya bingung kini dia juga sadar, bahwa dia sekarang suka kepada Riza, dia menertawakan dirinya sendiri. Namun, dia masih menolak sadar.
***
Hari ini Riza kuliah, dia bersama sahabatnya Rian dan Saidi, sedang santai di tangga kampus. Mereka sedang asyik ngemil-ngemil dan minum. Dilihat mereka anak-anak lain sedang menggeromboli sebuah poster di dinding majalah kampus yang berisikan bila yang mempunyai keahlian dance/menari bisa ikut dengan seorang koreografer terkenal di Jakarta bernama "Mounara Zea", mereka juga memuja-muji koreografer tersebut terutama anak laki-laki . Namun, ketiga pemuda itu merasa tak tertarik mengikuti ekstrakurikuler itu, tapi Saidi temannya yang tak bisa melihat wanita cantik seperti terpesona kepada koreografer itu. Riza dan Rian memaklumi Saidi yang memang mata keranjang, Saidi pun ingat dan membicarakan tentang Karu kepada Riza bahwa Karu juga tante yang sangat cantik melebihi gadis-gadis dikampus ini, Rian ternyata juga tau akan hal itu, Riza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa rese.
"Hah, kalian tidak tau aja, tante Karu itu susah banget buat dideketin, orangnya cuek banget tau nggak, tapi bagus sih kalem nggak mudah didapetin, makanya sampai sekarang dia juga belum nikah" ujar Riza menjelaskan
"Waduhhh seru tu bray bikin penasaran kaum lelaki! Jadi pengen deketin hehehe." Saidi cengengesan.
"Helehh sok banget lu, Riza aja dipelototin apalagi elu ahahhaah." Rian tertawa mengolok.
"Sudah-sudah, kita cari tempat lagi dah, malas gue disini rame amat," ucap Riza sembari beranjak dari tempat itu.
Mereka pun beranjak dari tempat tersebut dan mencari tempat lain untuk nongkrong sembari menunggu jam masuk. Saat ditengah jalan, mereka melihat seorang cewek yang dibully oleh sebuah geng cewek juga, kelihatannya mereka geng yang biasa centil dan sok di kampus itu, Riza terlihat geram juga, Rian dan Saidi pun menyuruh Riza untuk menyelamatkan gadis itu dari geng itu sembari menertawakan Riza agar jadi pahlawan siapa tau bisa berjodoh, Riza semakin jengkel, namun saat ia ingin menolong...
"Kalian jangan sok memperlakukan orang seperti itu, apa ingin ku laporkan ke dosen pembimbing?" ucapnya santai. Riza pun melihat asal suara, Saidi dan Rian melotot, seakan terkejut dan kaget melihat sesuatu yang tak biasa. Anak-anak geng itu pun mengakhiri kelakuannya, anak gadis yang dibully itu pun berterimakasih dan sangat senang kepadanya, Riza menengok orang itu.
Terlihat dia bersama temannya yang juga bergaya keren ber 2 disamping kanan kirinya, dia sangat fashionable, pakaiannya mengalahkan anak-anak kuliahan di sana, warna kulitnya sama dengan Karu, sangat cantik bertubuh langsing tinggi badannya hampir sama Karu namun berwajah judes, matanya besar, alis lumayan tebal, hidung mancung, pipinya lumayan tirus, bibirnya agak seksi, punya 3 tindik di telinga kiri, dengan rambut yang lurus panjang, sangat keren. Semua anak-anak muda mengidolakannya dan mengikuti trend pakaiannya. Laki-laki dari yang muda sampai dewasa banyak yang tergila-gila padanya. Ternyata dia memang orang gang tersohor dimana-mana. Ya, dia lah yang bernama Mounara Zea seorang koreografer di kampus itu. Bisa dilihat sepertinya Mounara orang yang bertolak belakang dari Karu.
Riza menengok dan tercengang melihatnya, semua siswa disana terpesona melihat dirinya. Dari situ lah pertemuan Riza dan Mounara bertemu. Mounara pun melihat Riza sekarang, Riza kaget saat Mounara melihatnya juga, dia pun langsung membuang pandangannya agar tak malu. Mounara mengangkat kedua keningnya dan juga mengalihkan pandangannya. Dia masih fokus ke anak-anak geng itu, mereka pun takut ditatap Mounara tajam lalu pergi. Mounara menyeringai. Dia bersama teman-temannya pun beranjak dari tempat itu, dia lewat tepat disamping Riza. Begitu harum wangi parfum tubuh Mounara. Riza menatap kebawah seakan malu dan tak percaya diri. Teman-temannya mabok kepayang salah tingkah sendiri saat Mounara lewat, teman-teman Mounara nyengir melihat kelakuan pemuda-pemudi itu.
Mounara pun memasuki ruangan dance dan mulai latihan bersama anak-anak. Setelah kurang lebih 3 jam mereka pun keluar.
"Huhh, capek juga ya" keluh Mounara sembari mengelap peluhnya dan membetulkan ikat rambut.
"Iya, bagaimana kalau kita beli minum? Siapa tau ada yang enak di kantin kampus ini" ucap Surbhi temannya
"Betull ayok-ayok sambil liat-liat berondong, asik tu jiahhh" jawab Nesa teman satunya Mounara yang bertubuh lumayan bongsor.
"Hih, genit amat sih nih tante-tante" jawab Mounara sembari berjalan menuju kantin
"Elehh malah duluan dia, ayukk Surbhi! ntar keburu duluan diembat Moun lagi" lari menyusul Mounara.
...
Setelah membeli minuman, mereka duduk santai dulu di taman kampus,
Terlihat di tempat agak kedepan Riza juga di situ, dia sedang mengetik laptopnya mengerjakan skripsi bersama Saidi dan Rian. Riza sudah kelelahan dia agak mengundur dirinya lebih ke belakang lalu bersandar di sebuah tanaman kaca piring taman yang sangat lebat dan kokoh itu, ia sangat nyaman bersandar disana karena empuk.
"Aduh ini ni gak enak coba kalian minum" kesah Mounara sembari menyodorkan minuman alpukat itu ke Surbhi sama Nesa.
"Ya kalo nggak enak ngapain kamu beli Mounaraa" jawab Nesa kesal
"Ya aku nggak tau lah rasanya tadi gimana makanya aku beli!" Jawab Mounara ngegas
"Maaf ya Moun, kami nggak mau juga dah lebih baik kamu buang aja sono tu didepan" kata Surbhi pusing
Mounara pun dengan terpaksa membuang minuman yang masih penuh itu dia melemparnya dengan kesal ke arah tanaman kaca piring tempat Riza bersandar tadi ternyata
Teplak!
Minuman itu mengenai tekuk Riza hingga tumpah mengguyur menjalar ke kepala sampai bajunya.
"AARH!!!" Riza spontan berteriak dan sangat kaget
"Lu kenapa bro! Ada binatang yang nyengat kah?" ucap Saidi panik
"Heh!! Ngapain kamu buang sembarangan!" ucap Surbhi kaget
"Lha kan tadi kamu yang nyuruh buang kedepan" jawab Mounara
"Aduhh Mounara maksud aku tu buang di bak sampah depan sana, bukannya buang sembarangan begitu, ntar kalo ada orang gimana?" Surbhi panik sembari menepuk jidatnya.
"Mana ada, ah, kamu jauh banget pikiran. Ngapain takut orang kita di sini bukan mahasiswinya, kok, nggak papa semena-mena. Ayo!" Mounara ngeyel. Dia berdiri mengajak mereka pergi dari tempat itu. sebelum sebuah suara menginterupsi langkhnya.
"HEH!! SIAPA YANG LEMPAR MINUMAN INI DISINI?!!" teriak Riza marah sembari berdiri, Surbhi dan Nesa kaget, mereka ternganga sampai menutup mulut mereka, Mounara bingung apa yang sedang mereka lihat sampai kaget seperti itu.
Mounara pun membalikkan badannya kembali. Dia membelalakkan matanya saat melihat Riza kotor dari kepala sampai bajunya.
"HEY KALIAN!, KALIAN YA YANG BUANG MINUMAN INI TADI HAH!" teriak Riza lantang ke arah Mounara.
Mounara juga panik karena dia memang tak sengaja melakukan hal itu, dia mondar-mandir dan bilang bagaimana ke Surbhi dan Nesa. Namun, saat Riza mendekat dan semakin jelas di depannya. Dia malah ingin tertawa.
Saidi dan Rian juga panik dan menyusul menghampiri sahabat mereka itu, dan betapa terkejutnya mereka bahwa yang melempar minumannya itu adalah koreografer kampus mereka.
Mereka pun yang niatnya tadi ingin memarahi orang itu tak jadi, mereka juga malah ikutan menertawakan Riza. Sungguh sial memang hari ini nasib pemuda satu ini.
"AAHAHHAHA!" Mounara tertawa terbahak-bahak melihat Riza. Riza semakin kesal dibuatnya. Surbhi pun merasa takut kalau anak muda itu mengamuk dia meminta maaf
"Eee maafin teman kami ya, dia tadi juga nggak tau bahwa ada kamu disitu, nggak sengaja beneran" ujar Surbhi merasa berat hati, Riza merasa iba kepada Surbhi namun ia sangat kesal melihat Mounara tertawa.
"Tante! Lain kali lihat-lihat dong, bukannya tante udah lulus kuliah lama kan?!, Masa nggak tau sama bak sampah!" geram Riza marah kepada Mounara. Mounara pun menghentikan tawanya.
"Bukannya tadi sudah dibilang nggak sengaja? Kenapa ngeyel?" balas Mounara menantang.
Mereka malah saling adu mulut, Riza terlihat semakin geram dan marah, Mounara juga terlihat kesal. Teman-temannya pun saling menarik mereka satu sama lain agar tak semakin memperpanjang urusan.
"Bukannya ngeyel memang tante yang salah!" jawab Riza dengan nada tinggi, Saidi pun menarik Riza agar mengalah saja karena mereka cewek.
"Oohh ya sudah, gua minta maaf, mau apa lagi lo!" jawab Mounara marah.
Riza melotot namun teman-temannya menengahi mereka.
"Sudahh ahh Moun ayo kita pergi" ucap Nesa membujuk karena di tatap Surbhi.
"Okee siapa sih nama lo gua ganti dah baju lo pas balik ni" jawab Mounara kesal. Riza pun melotot, ia masih marah namun saat mendengar Mounara mau tanggung jawab amarah dia sudah padam.
"Riza Ananda, nggak perlu tan, cukup maaf tante pun tak apa-apa" jawab Riza. Teman-teman Mounara pun tercengang.
Mounara mengernyitkan keningnya.
"Nggak papa kok dia banyak aja duitnya" jawab Nesa nyengir. Mounara pun melotot ke arahnya.
"Tidak apa-apa, terimakasih. Permisi" jawab Riza sembari menatap tajam ke arah Mounara lalu pergi, Saidi dan Rian pun bengong lalu tersenyum kepada mereka dan menyusul Riza.