Bab 12

2044 Kata
Hari di ada kan pesta pun semakin dekat. Riza pun kembali bekerja, dia mencoba melupakan dan tenang bekas kejadian kemarin yang menimpanya. Dia kembali latihan menyetir, latihan berjalan lancar seperti kemarin. Kini Riza sudah bisa menyeberang memakai mobil. Betapa bangganya Karu tahu hal itu. Setelah selesai latihan menyetir, dia langsung menemui Karu sesuai perintah dari kakaknya agar tak lagi di culik Meri. Dia membuatkan minum, merapikan meja Karu, menyapu dan membersihkan barang-barang di ruang Karu, melayani Karu dengan sangat baik. Karu semakin jatuh hati padanya. "Terimakasih Riza," sanjungnya. Riza hanya tersenyum ramah kepada Karu sembari mengangguk. "Maaf ya membuat kamu capek," ucap Karu. "Loh, nggak papa Bu ini memang tugas dan pekerjaan saya kok sama Ibu kenapa Ibu minta maaf," pungkas Riza lembut. Dia tertawa dengan Karu, Karu pun tersenyum. "Kamu udah punya pacar?"  Pertanyaan itu seolah mengejutkan Riza, dia menghentikan kemoceng bulu itu bergerak. Dia menoleh ke Karu. "Belum Bu, hehe," jawabnya nyengir. "Masa sih, bukannya anak muda baik jarang jomblo," lirih Karu menyeringai seakan tak percaya. Riza semakin tak percaya Karu menjadi kepo seperti itu dengannya saat ini. "Ih, Ibu bisa aja. Beneran kok Bu, saya bukan laki-laki keren di kampus dan sekolah," jawabnya polos sembari tersenyum. Karu membesarkan matanya sembari mengangkat keningnya. "Ahh, saya tau, Ibu mengingat masa lalu Ibu dulu waktu seumuran saya ya?" ciduknya sembari nyengir. Karu memerah karena merasa malu, pipinya menjadi seperti tomat. "Oh ya Bu, saya juga kepo dengan masa muda Ibu dulu seperti apa. Pasti Ibu jadi primadona kelas kan hihihi," puji Riza malu-malu. Karu hanya diam tersipu malu. "Aku dulu adalah cewek yang pendiam, jadi aku tak punya banyak teman. Laki-laki pun selalu menyerah mengejar ku," jawab Karu datar. "Bahkan mantanku dulu menyerah, maka dari itu, sampai sekarang aku sendiri," sambungnya menyeringai merasa konyol. Riza yang mendengar itu sangat kagum. "Ibu memang wanita yang mahal, pasti laki-laki yang mendapat kan Ibu nanti sangat beruntung," sahut Riza tersenyum manis. "Hmm kamu bisa saja," Karu tertawa, baru kali ia sangat bahagia. Riza sangat senang dia semakin dekat dengan Karu. Namun, dering telpon dari Karu memecahkn suasana. Dan saat dilihat ternyata dari Hertanti. "Dari siapa Bu?" tanya Riza polos. "Dari Ibu Hertanti, bentar ya,"  Karu mengangkat telponnya. "Iya halo ada apa ya Bu?"  Karu mendengarkan apa yang dibicarakan Hertanti, Riza hanya heran dan penasaran, dan terus melanjutkan membersihkan debu dengan kemoceng bulu itu. "Oohh iya ada kok Bu, baik akan saya suruh dia ke sana sekarang ya Bu. Terimakasih," sahut Karu sembari tersenyum, ia mematikan telponnya. Riza semakin heran dan penasaran karena Karu meliriknya. "Riza, kamu pernah membantu Ibu Hertanti ya?" tanya Karu tersenyum. Riza pun mengangkat kening nya lalu mengangguk polos. "Iya Bu, Ibu tau dari mana. Apa tadi Ibu Hertanti baru bilang sama Ibu?" jawab Riza. "Haha iya, kata Ibu Hertanti, kamu di suruh sama aku ke rumah beliau sekarang. Katanya buat persiapan pesta kita nanti," beritahu Karu senang. Riza mengangkat keningnya seakan tak percaya, dia terlihat sangat senang. "Benarkah Bu? Aku pergi sama Ibu kan ke sana?" tanya Riza senang. "Iya, sekarang bisa?" jawab Karu lembut. Riza mengangguk mantap. "Oke, baik. Tapi kamu yang bawa mobil ya, hitung-hitung memperlancar menyetir kamu. Sama aku lagi, bukan sama Om supir,"  Betapa gugup dan terkejutnya dia mendengar hal itu. Dia menjadi sangat gugup dan takut, karena yang dia bawa adalah Karu. "Ahh hehe tapi Bu saya.." "Kenapa?" Potong Karu mengangkat keningnya sembari tersenyum. "Saya, gugup kalau membawa Ibu," jawab Riza pasrah. Karu tertawa merasa konyol mendengarnya. "Kamu tidak perlu gugup sama aku, emang aku pernah gigit kamu," canda Karu.  Riza terdiam kaku, dia tak pernah menyangka dia akan bersebelahan duduk di mobil bersama Karu. Dia tak menyangka sekarang mereka sudah sangat dekat seperti ini.  Sekarang Karu menatapnya sembari tersenyum lembut, Riza seakan masih tak percaya dengan semua ini. Dia mengedipkan matanya menatap senyuman Karu yang manis itu. "Ayo," ajak Karu sembari menarik tangannya. Dia semakin ternganga dibuatnya. Karu terus menggandeng tangannya dan menggenggam Riza, Riza semakin gugup dibuatnya. Dia menjadi salah tingkah sendiri. Dia terus menatap Karu mengapa Karu menjadi seperti ini, semua karyawan di sana pun menatap mereka seakan juga heran dan ada yang berbeda dengan perhatian Karu kepada Riza, mereka senyam-senyum malu sendiri melihat mereka, Karu tak perduli dengan itu, ia masih menggenggam tangan Riza, Riza semakin malu di buatnya sampai mereka sampai depan pintu mobil Karu. Karu membukakan pintu mobilnya dengan tulus untuk Riza, sungguh romantis sekali memang Karu ini ternyata. Riza menatapnya terdiam kaku seakan tak percaya. "Masuk aja," perintah Karu ramah, barulah ia melepaskan genggamannya sembari masuk ke pintu sebelahnya. Riza ternganga melihatnya dan melihat tangannya yang baru saja di lepas Karu, dia salah tingkah sendiri. "Ah ba, baik Bu. Terimakasih," jawab Riza gagap. Riza dengan baik pelan-pelan mengemudikannya. Bahkan dia sudah bisa mengeluarkan dari parkiran dengan sangat baik. Karu sangat bangga melihatnya. Mereka berangkat menuju rumah Hertanti.                              *** Di tengah-tengah kota metropolitan besar, satu perusahaan yang sangat besar dan mewah menjadi pusat perhatian. Seperti nya perusahaan itu lebih luas dari Hertanti.  "Bagaimana kalian ini, kalau terus menunda-nunda seperti ini kami tak akan lagi bergabung dengan kalian!"  Salah seorang pria marah di ruangan rapat kantor perusahaan mewah itu. Dia seakan sangat kecewa dan marah kepada manajemen perusahaan itu karena tak bisa memberikan hasil yang maksimal. "Ma, maaf pak. Ini karena CEO dari perusahaan masih belum bisa memastikan dan membuat keputusan tentang cara bagaimana membuat kenaikan tentang saham pemasaran kita ini," jawab manajemen pria itu sangat merasa bersalah. "Kalau seperti ini terus, bisa-bisa distributor tak mempercayai kita lagi, perusahaan tak ter urus, dan saham kita menurun drastis," ketus salah seorang pria berjas lagi merasa kesal juga. Mereka semua terlihat marah kepada manajer itu. Pria itu membetulkan kacamatanya bingung harus berbuat apa. Mereka akhirnya bubar merasa kecewa, betapa sedihnya hati manajer itu. Dia juga langsung keluar. . "HUHH!! Anak tidak bertanggung jawab!! Kenapa dia tidak masuk kantor hari ini DIMANA DIA CEPAT CARI!!"  ternyata perusahaan itu adalah perusahaan milik Meri dan kakaknya.  Meri sangat marah dengan orang yang dimaksud Rio tadi entah siapa. "Baik Nyonya, akan saya cari dia sekarang," "Ada apa ini ribut-ribut?" Pertanyaan dari seseorang wanita paruh baya berkacamata putih itu seakan membuat Meri semakin panas dan kesal. "Hmm, kamu tau ada apa?" tanya Meri balik sembari tersenyum kesal. Wanita tua menatap ke bawah tanda ia baru menyadari bahwa Meri akan meledak marah padanya. "Anak perempuan kesayanganmu itu selalu saja membuat onar perusahaan! Kamu terlalu memanjakannya kan?! Kamu tau dia sudah hampir tiga minggu tidak mengecek kondisi perusahaan dan perusahaan kita sekarang sedang dalam keadaan saham menurun! IA TAK PERNAH BISA MEMBERIKAN SOLUSI INI BAGAIMANA NANTI KALAU KAMU JADIKAN DIA SEBAGAI CEO SEUTUHNYA DI SINI TANPA KAMU HAH!" ucap Meri meledak kepada kakak keduanya itu. "Percuma kalau bahan baku selalu tersedia tetapi bikin para client bosan nggak ada strategi marketingnya," sambung Meri kesal. "Maaf Meri, ya sudah kalian tenang saja. Bilang ke semuanya. Saya akan menyelesaikan semua masalah ini. Maafkan putri saya."  "Tuh kan, selalu aja di manja, padahal udah tua!" pungkas Meri marah ia melotot kepada kakaknya namun kakaknya itu menghiraukannya. Pak Rio hanya manajer mengangguk tak bisa menolak pemimpin paling tinggi mereka itu. Mereka keluar meninggalkan Meri agar Meri tak semakin geram. Meri mendengus kesal sembari melempar tangannya ke lengan kursi. "Mounara memang keras kepala!" ucapnya kesal. Ternyata yang mereka maksud tadi adalah Mounara. Ya, wanita koreografer kampus Riza itu. Meri adalah adik dari Mamah Mounara. Namun, Mounara sangat membenci Meri karena baginya Meri adalah orang yang egois, punya banyak laki-laki yang membuat nama perusahaan peninggalan ayahnya itu buruk karena Mounara sangat menyayangi almarhum ayahnya walau selagi masih hidup ayahnya tak banyak memiliki waktu luang untuknya karena sering keluar negri mengurus perusahaan juga menyakiti hati pamannya yang sangat menyayangi nya sejak kecil, juga memang Meri sudah sangat tua yang masih tak sadar diri benar-benar memalukan. Maka dari itu ia tak lagi ingin mengurus perusahaan selagi Meri menjadi direktur di sana.  Mamah Mounara hanya bisa terpaksa membiarkan putrinya seperti itu. Karena di sisi lain bagaimana pun juga Meri adalah adik nya satu-satunya karena Meri juga orang yang menjaga dan bekerja baik ke perusahaan suaminya itu meski Meri memiliki sifat yang memang tidak baik. "Memang Nona Mounara kemana Bu?" tanya Pak Rio "Entahlah, dia tidak pernah cerita juga dengan saya karena saya sering membela Meri," jawab Ibu Mukti datar. Ia mempercepat langkahnya, Rio pun tahu sebenarnya Ibu Mukti delima antara anak kesayangan nya dan adiknya. Dia memahami pemimpin nya itu dan juga menyusulnya.                             *** "YEEAAYY!! GUE MENAANGG!! YUHUU!!!" teriak kencang sangat senang bukan main seorang wanita sangat modis dan cantik di sebuah mall tempat wahana game yang mewah dan sangat ramai itu. Ia adalah Mounara, ternyata ia sedang asyik bermain dan shopping bersama teman-temannya di sini. Maka dari itu ia tak ada di rumah dan kantor sekarang.  Ia terlihat sedang memegang tembak-tembakan yang menjadi remot untuk permainan nya juga memakai earphone game itu menutup telinganya.  Mounara memang wanita yang mempunyai sifat kekanak-kanakan dan manja karena ia memang dari anak pengusaha kaya raya sejak dulu. Ayahnya adalah CEO perusahaan pulp dan kertas juga pangan yang juga ada di luar negeri sebelum pabrik besar milik Hertanti dan juga sudah mempunyai banyak memliki saham dan aset hotel mewah, cafe juga butik dan toko lainnya. Maka tak heran Hertanti ingin melakukan kerjasama dengan mereka untuk memasarkan barang mereka.  Surbhi, Nesa yang melihatnya hanya menepuk jidatnya. "Waduhh kalah deh kita Nes, sial!" rengek Surbhi. "YEAAHAHAHAA!!! WHOO! Kalian nub!" teriaknya meledek Surbhi dan Nesa. Nesa hanya melotot dan lemas tak berdaya.                              *** Karu dan Riza akhirnya sudah sampai di rumah Hertanti. Riza tercengang sangat terkagum-kagum melihat rumah Hertanti yang begitu besar dan mewah.  Karu hanya tersenyum melihatnya. Mereka sudah di jamu dengan sangat baik. ART Hertanti sangat ramah dan kaget saat melihat Karu membawa Riza. "Ehh baru ngeliat atuh saya, ganteng ya hihihi," ucapnya memuji malu kepada Karu.  Ia memang menyukai Karu karena Karu adalah orang yang baik dan pendiam, dan ia mengira Riza adalah pacar Karu. Karu tertawa mendengar bude Inem bilang Riza ganteng. Riza hanya tersipu malu dan berterima kasih kepada bude Inem. "Ahaha iya, anak ini pernah membantu saya bude, jadi sekarang dia akan kita ajak ke pesta malam minggu nanti," jawab Hertanti tertawa. Riza semakin malu di buatnya. Terlihat dari ruang sesudah ruang tamu, anak Hertanti bernama Candra tahu akan kedatangan Riza, dia terlihat agak kesal dengan Riza. Karena baginya Riza seperti bocah ingusan yang sederhana mencari muka dengan Ibunya. Candra adalah lelaki yang berumur lebih tua dari Riza, dia berumur 30 tahun juga tampan dan kaya raya dan dia lah yang akan meneruskan jabatan Ibu nya nanti di perusahaan mereka. "Baik Riza apakah kamu senang bertamu ke rumah saya? Semoga kamu tak jera ya nak selamat datang," kata Hertanti ramah. Karu semakin senang melihat nya, ia bangga kepada Riza karena membuat Hertanti suka dan bisa akrab dengannya. "Ah senang banget Bu, malah saya merasa tak pantas menginjakkan kaki di sini," lirih Riza malu. "Lho kenapa, kita semua sama nak. Kamu tidak boleh ngomong begitu lagi ya, Karu ajarkan nanti dia agar tak malu-malu lagi dengan kita," pungkas Hertanti. Riza tersenyum mendengar perkataannya, dia sangat kagum kepada Hertanti meski kaya raya tetapi tetap rendah hati dan tidak sombong. Candra merasa sangat bosan, dia mencoba menelpon seseorang entah siapa.                               *** Tiba-tiba dering telpon Mounara berbunyi saat ia hendak menembak lagi. Surbhi dan Nesa pun merebut tembakannya. "Ya udah lo angkat aja dulu deh telponnya haha," ucap Nesa merebut. "Eh! Kampret keduluan dia gua!" Gerutu Surbhi kesal. Mereka pun berebut tembakan itu. Mounara hanya mendatarkan matanya tanda sebal dengan kedua temannya itu, ia pun mengangkat telpon itu. "Iya halo Dra, ada apa?"  Ternyata telpon itu dari anak Hertanti Candra tadi. Ya, ternyata Candra sudah sejak lama menaruh perasaan kepada Mounara karena kedua orang tuanya memang sama-sama pengusaha sejak dulu dan berteman. Maka dari itu mereka pun ikut akrab dan malah ingin di jodohkan. Namun, Mounara tak memiliki rasa pada nya. Karena sejak dulu kenal, Mounara pun hanya menganggapnya hanya sebagai sahabat dan saudara kandungnya saja. Surbhi dan Nesa pun menghentikan gulatnya saat mendengar Candra yang menelpon. "Kamu lagi di mana Moun?" tanya Candra. "Umm, lagi di mall nih sama Surbhi dan Nesa. Kenapa?" jawab Mounara sembari menatap Surbhi dan Nesa. "Aku susul ya, aku bosen nih di rumah nggak ada temen. Aku temenin kamu shopping juga ya," ucap Candra. Sepertinya dia rindu kepada pujaan hatinya itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN