Karu tersenyum manis, ia juga membalas tatapan Riza, mereka saling pandang-pandangan sekarang. Hanyut dalam suasana, Riza memegang tangannya dan membantu ia merekatkan kompres itu ke dahinya. Ia tersenyum kepada Karu. Karu terus memandangnya dan merasakan sentuhan Riza yang lembut itu. Riza menutup matanya. Semakin membuat Karu menjadi salah tingkah. Sampai-sampai Karu membayangkan mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih dekat. Namun, ia mencoba agar tak semakin hanyut ke dalam pikiran Riza yang sangat membuatnya terpana itu. Ia pun melepaskan tangannya dan membuang pandangannya ke bawah. Ia salah tingkah. Riza pun membuka matanya dan melihat Karu. Dia juga terlihat salah tingkah.
"Terimakasih," Riza memandangnya lembut.
Membuat pipi Karu memerah, ia mengerutkan keningnya lalu membuang muka. Ia juga tersenyum malu kepada Riza.
Riza tertawa melihatnya.
"Sepertinya, memang sangat membuatku nyaman Bu, kompresnya dingin sekali di kepala saya," ucapnya merasakan dan merasa nyaman.
"Terimakasih banyak ya, Bu," ucapnya sekali lagi. Karu pun mengangguk.
"Iyaa, syukurlah kamu membaik. Aku senang melihatnya sekarang," jawabnya bahagia.
Riza tersipu malu, dia tersenyum bahagia.
Tiba-tiba dia berbangun, dan mendekati wajah Karu, betapa kagetnya Karu saat itu.
"Lihat, sudah kurang kan?" ucapnya riang menatap Karu.
Karu hanya terdiam kaku tak bersuara. Ia hanya mengedipkan matanya. Riza juga tak bergerak, membuat dirinya malu. Padahal dia masih merasakan sangat pusing namun dia mencoba dewasa dan bercanda kepada Karu.
Karu tak bisa menahan tertawanya.
Riza nyengir kepada Karu.
Tiba-tiba ada seorang mengetok pintu nya. Dan ternyata Shella.
Shella membuatkan minum dan menjamu Karu dengan 3 toples kue kering dan biskuit.
Seketika Riza pun buyar dan merasa sangat sakit, dia pun terebah dan membuat Karu respek menangkapnya. Akhirnya mereka terlihat seperti berpelukan.
Betapa terkejutnya Shella saat melihat itu. Air yang ia bawa hampir jatuh. Namun, ia berhasil menyeimbangkannya.
Karu jadi kaget sembari melihat ke arah Shella. Shella jadi salah tingkah sendiri.
Karu segera melepaskan kepala Riza dan mencoba duduk tegap kembali, ia juga takut dan panik kalau Shella berpikir macam-macam dengan ia dan Riza saat ia menolong Riza tadi.
Shella hanya ternganga sembari menatap mereka.
Riza terlihat pusing memegang kepalanya. Karu pun mencoba menjelaskan yang sebenarnya kepada Shella.
"A, maaf tadi, sa, saya cuman, mencoba menolong Riza," Ucapnya gagap.
Shella mencoba menahan tawanya. Karu tersipu malu jadi nya.
"Hehe maaf mengganggu kalian ya, maaf non terlambat ini tadi aku buatkan minum untuk non ini dimakan juga ya non," ujar Shella nyengir.
Karu pun masih malu dan hanya ternganga kepada Shella. Namun, akhirnya ia pun menghentikan lamunannya dan mengangguk kepada Shella.
"Ahh iya, terimakasih banyak. Maaf merepotkan," jawab Karu merasa malu.
Shella hanya tertawa kepadanya. Shella pun menaruh semuanya di meja persis di samping Karu menaruh parcel buah untuk Riza.
"Oh iya Shella, ini buah saya tadi bawakan buat kalian. Silahkan di makan juga ya," tawar Karu sembari tersenyum.
Shella pun mengangguk.
"Ooalahh, ya ampun iyaa terimakasih ya Non," Shella sembari berdiri.
"Baik Non nanti saya coba kok, kalau begitu permisi dulu yaa. Silahkan lanjut hihihi," sambung Shella sembari menutup mulutnya. Karu hanya mengerutkan keningnya.
Riza sebal menepuk wajahnya pelan mendengar kakak sepupunya yang menyebalkan itu.
Karu menunduk tersipu malu, ia terlihat salah tingkah sendiri.
"Kamu udah makan?" Tanya Karu,
Riza mengangguk.
"Iya Bu, udah kok. Kalau Ibu?" Tanya nya balik.
"Kamu tidak usah mikirin aku," jawab Karu.
Riza pun melotot, padahal Karu tadi sudah bersikap manis tapi sekarang malah menjawab dengan datar seperti itu, tetapi Riza mendengar ada yang berbeda sebuah perkataan yang biasa Karu bilang.
"Ia sekarang memakai aku sama aku, padahal dulu ia selalu memakai saya, walau terkadang saja," Gumam Riza dalam hatinya. Riza seperti menyadarinya, bahwa Karu sekarang sudah mau dekat dengannya dan malah ia sendiri yang mendekati Riza.
Riza menjadi nyengar-nyengir tak jelas. Karu pun memperhatikannya.
"Aku juga belikan obat demam saat lewat dari apotek tadi, aku hanya bilang cari kan obat demam paling ampuh dan bagus. Jadi, ini obatnya kamu minum ya?" saran Karu sembari membuka tasnya dan mengeluarkan sekeping obat.
"Ya ampun, perhatian banget ya Bu Karu sama aku. Aku benar-benar tak percaya setelah dia menolak hadiahku dulu, dia jadi seperti ini denganku. Bahkan dia tak segan-segan membelikanku obat, parcel dan juga kompres demam ini untukku?" Gumam Riza dalam hati nya. Dia benar-benar masih tak percaya.
"Ternyata Ibu Karu aslinya adalah orang yang sangat perhatian, padahal terlihat dari luar dia sangat-sangat lah cuek, dia hanya lah wanita dingin yang jarang bicara. Tetapi denganku sekarang? Dia berbeda? Apa aku salah menilainya?" Riza terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Hey," Karu membuyarkan lamunannya.
"Kamu minum dulu obat ini, biar kamu bisa istirahat kembali." Sambungnya sembari menggenggam sekeping obat tadi.
Riza menatapnya kelu, dia terdiam lalu langsung berbangun dengan semangat. Karu terkejut dan kaget.
"Okee, aaa..." Riza bermanja, dia membuka mulutnya dengan manja kepada Karu berharap Karu menyuapi obatnya.
Karu melotot kepadanya dan sebenarnya merasa sangat salah tingkah dan juga senang. Namun, ia mencoba jual mahal dan sok marah saat Riza bersikap manja seperti itu.
Ia menyodorkan sekeping obat itu ke tangan Riza, Riza pun yang sudah terlanjur menganga terlihat pasrah dan agak malu karena keegeran.
Dia pun akhirnya menutup mulutnya pelan, dia memegang obat itu sembari meneguk liurnya.
Karu yang melihat tingkah lakunya itu menahan tawanya, ia menatap Riza lucu.
"Ini," Karu menyerahkan segelas air putih untuk Riza.
Riza mengambilnya dan menatap Karu dengan malas.
Karu terus menahan tawanya dan membuang pandangannya agar tak tertawa melihat Riza. Ia mengepal tangan lalu ditaruh di mulutnya untuk menutupi senyumnya.
Riza mau meminum obat itu, lalu dia kembali merebahkan tubuhnya.
"Terimakasih lagi bos cantik," puji Riza sembari menatap Karu.
Pipi Karu pun memerah, ia mengernyikan keningnya menatap Riza. Riza hanya menyengir.
Karu pun tersenyum di buatnya.
"Iya, sama-sama. Aku belikan kamu obat ini biar kamu lekas sembuh."
Riza merasa sangat bahagia.
"Dan kalau kamu sembuh, maka kamu bisa kerja lagi," Sambungnya.
Riza tak jadi tersenyum mendengar hal itu. Wajahnya menjadi melotot manja.
Karu pun tertawa melihatnya.
"Hmm, ehehee.. iya Bu," jawabnya nyengir.
"Saya akan sembuh malam ini," ucap Riza sembari menatap Karu
"Apakah suami Ibu nggak papa ibu jenguk saya dan lama di sini?" tanya Riza.
Karu pun membesarkan mata nya menatap Riza.
"Aku belum punya suami," jawab Karu malu,
Riza pun membelalakkan matanya, dia tak percaya.
"Ohh, ma, maaf Bu. Saya kiraa, Ibu sudah menikah," sahutnya nyengir malu.
Karu salah tingkah di buatnya, ia merasa malu kepada Riza.
"Saya tak percaya orang secantik Ibu dan sesukses Ibu tak mempunyai suami. Atau Ibu bingung memilih siapa yang ingin Ibu jadikan suami kan karena banyak yang naksir sama Ibu, hehe maaf lancang," ucap Riza dengan polosnya, dia terus bertanya sembari tersenyum.
Karu semakin tak bisa berkata-kata di buatnya. Ia sangat malu karena menurutnya ia takut Riza mengira ia tak laku karena umurnya yang memang sudah lumayan jauh. Namun, tak di sangka Riza malah memujinya.
"Hmm kamu bisa aja," jawabnya singkat. Membuat Riza semakin penasaran dengannya.
"Ibu sudah mempunyai pacar kan, maka dari itu Ibu masih belum mempunyai suami," kata Riza sembari menatap Karu.
Karu pun menundukkan kepalanya sedikit malu, ia menatap ke bawah dan menggigit bibir nya bingung bagaimana supaya Riza percaya dengannya bahwa ia masih belum memiliki seorang dekatan.
"Tidak, aku juga tidak mempunyai pacar," Jawabnya singkat.
"A?" Riza ternganga kikuk dibuatnya, dia mengangkat kepalanya seakan tak percaya.
"Semua yang pernah mendekati ku tidak ada yang membuatku nyaman. Maka dari itu aku tak menerima nya," Jelas Karu datar.
Riza pun tak percaya akan hal itu. Karu menatap Riza semu. Ia seperti ingin Riza mempercayainya. Riza pun akhirnya percaya.
"Yaa, menjadi orang cantik itu memang susah." Riza nyengir.
"Saya yakin, Ibu memang nggak pantas di milikin oleh sembarang orang. Maka dari itu mereka tak bisa bersanding dengan Ibu," jawab Riza sembari tersenyum manis menggoda Karu.
Pipi Karu menjadi merah dibuat berondong sok genit itu.
Karu pun tersenyum kepada nya. Ia menatap dalam ke Riza. Namun, Riza seakan tak sadar akan tatapan itu.
"Sepertinya, yang kuinginkan itu kamu," gumam Karu di dalam hatinya.
Ia memang benar-benar tersadar bahwa ia sudah jatuh cinta kepada pemuda itu.
"Iya, aku ingin. Orang yang mau menemaniku dan berbeda denganku, meski aku selalu dingin padanya," ucapnya.
Riza menatapnya lebih dalam. Karu menyeringai.
"Iya, aku yakin. Ibu pasti akan mendapatkannya suatu saat nanti," Jawab Riza. Karu mengangguk menatapnya dengan harap.
"Iya," ia membalas Riza sembari tersenyum.
Karu juga heran, mengapa ia bisa jatuh hati kepada pemuda satu ini. Sampai-sampai ia menjadi seperti ini.
"Saya juga ingin wanita yang bisa memberikan saya kasih sayang Bu, yang tulus sebagai pengganti kasih sayang mamah saya," ujar Riza sembari menatap ke arah bawah.
Karu memandangnya dengan polos.
"Heh, karena sejak kecil. Saya tak pernah lagi merasakan belaian dari seorang mamah," Sambung Riza menyeringai.
Karu pun melebarkan matanya, ia terkejut saat mengetahui hal itu. Ia sangat merasa iba sekaligus kasihan.
"Maaf, mm, maksud mu. Mamah mu sudah meninggal?" tanya Karu.
Riza menyeringai.
"Hmm, enggak kok Bu. Masih ada kok. Cuman dia nggak pernah peduli sama saya," ucap Riza sesak.
Karu mengerutkan keningnya masih tak percaya.
"Ayah dan Ibu saya sudah bercerai sejak saya masih kecil," jelasnya.
"Waktu itu, umur saya masih 4 tahun Bu. Dan sejak itu lah saya hanya di rawat oleh almarhumah nenek saya dan Tante saya, Tante saya itu orangnya pemarah juga jadi ia juga tak bisa memperhatikan saya. Dia juga mempunyai anak serta suami jadi wajar saja juga ia tak sempat memperhatikan saya," jelas Riza curhat.
Karu merasa iba mendengarnya. Ia terlihat kasihan kepada Riza.
"Ahh, kenapa saya malah jadi curhat ya sama Ibu. Hehehe," pungkas Riza nyengir.
Terlihat Riza sudah mengantuk, mungkin obat dari Karu tadi sudah bekerja.
"Benarkah begitu?" Tanya Karu
"Iya Bu," jawabnya.
"Terus, di mana keluargamu tinggal?"
"Mereka ada di Kalimantan, saya memang berasal dari sana. Tetapi saya kuliah di sini dan seperti nya ingin terus bekerja di sini saja Bu, karena di sana masih lumayan sulit." Jelas Riza.
Kini mereka menjadi semakin dekat dan tahu semua tentang masing-masing.
Karu menangguk-angguk tanda memahami semua tentang Riza.
"Kalau Ibu?" Tanya Riza terus menyambung pembicaraan, meski dia sedang sakit. Dia tak mau membuat Karu menjadi bosan.
"Ayahku juga sudah lama meninggal, dia sempat melarangku menjadi model dan menginginkaku hanya fokus bekerja kantoran, jadi sekarang aku hanya tinggal bersama ibuku serta kakak perempuan ku yang sering mengunjungi kami saat hari libur," ucap Karu
Riza mendengarkan menghayati semua cerita Karu itu. Hingga dia terlihat sudah tak tahan dengan kantuknya.
Karu tersadar dengan itu. Riza mengangguk. Karu pun membetulkan kompres yang ia tempelkan tadi agar merekat sempurna di dahi Riza, ia memandangi wajah pemuda rupawan itu yang baru saja mengisahkan tentang diri nya kepadanya. Bukannya membuat Karu ilfiel atau takut justru malah semakin membuatnya jatuh hati kepada lelaki yang jauh lebih muda dari nya itu. Pantas saja Riza ini terlihat dewasa ujarnya dalam hati. Ia juga merasa bahwa Riza adalah kebalikan dari dirinya. Riza kurang mendapat kan kasih sayang dari orang tua perempuannya sedangkan ia, ia juga kurang mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya dulu. Maka dari itu ia semakin jatuh lebih dalam ke diri Riza.
Ia mengelus dahi Riza yang sudah mulai terlelap tak sadarkan diri lagi itu. Menatapnya dengan penuh perasaan.
Sangat dekat..
Karu melebarkan matanya, melihat keseluruhan wajah Riza sampai pada sebuah bibir tipis berwarna merah muda pucat membiru yang manis.
Tak menyangka Riza memeluk dirinya, ia semakin dekat dengan wajah pemuda itu. Di ciumnya bau badan pemuda yang wangi itu. Ia sangat kanget saat Riza tiba-tiba memeluknya karena sudah tak sadarkan diri.
Bibirnya dan bibir Riza hampir saja bersentuhan. Ia mencoba menahan agar tak terjatuh. Ia membelalakkan matanya lalu mencoba bangun dan beralih dari tangan Riza yang mendekapnya erat.
Ia perlahan-lahan melepaskan tangan Riza dari badannya. Dengan pelan dan lembut, ia pun berhasil lepas dari dekapan Riza. Dilihatnya sekali lagi wajah pemuda itu.
Ia tersenyum.
"Terimakasih sudah sempat-sempatnya berbagi cerita denganku," ucap Karu tersenyum.
Ia memegang tangan Riza, lalu menggenggamnya.
"Semoga cepat sembuh," sambungnya lembut sembari menatap Riza.
Ia tersenyum sejenak, dan kembali memandangi pemuda rupawan itu seakan-akan membuatnya tak bosan untuk terus memandanginya, ia terdiam lalu mulai beranjak dari tempat itu. Ia mulai merapikan pakaian dan barang-barangnya lalu berdiri bersiap keluar meninggalkan Riza pulang.
Sebelum keluar ia tersenyum sekali lagi kepada Riza lalu pergi dan keluar dari kamar itu. Ia izin kepada Shella lalu pulang.