Bab 2
Pras ke luar meninggalkan kamar Rose setelah mendapat panggilan telpon. Dia berjalan cepat menuju balkon lantai dua sebelum menjawab panggilan yang sudah terlewat satu kali.
“Ya, halo.”
Wanita di balik panggilan tersebut mengerutkan kening dan menarik ponselnya menjauh sebentar dari telinganya.
“Hanya Halo?” tanyanya heran.
Pras menekan bibirnya lalu mendesis pelan. “Maaf, aku hanya sedang sedikit sibuk sekarang.”
“Hei, kamu sudah berjanji untuk menemuiku hari ini.” Wanita itu menyalak.
“Ya, aku tahu. Siang nanti aku akan menemuimu. Tunggu aku selesai kembali dari kantor.”
“Cih! Kembali dari kantor, atau mengurus bocah ingusan itu?”
“Jaga bicara kamu!” salak Pras dengan cepat, membuat si penelpon membulatkan kedua matanya.
“Kamu membentakku lagi demi bocah itu?”
Pras memejamkan mata dan menarik napas beberapa saat. “Bukan begitu, aku hanya tidak mau kamu berkata kasar. Biar bagaimana pun juga, dia itu majikanku.”
“Oke, oke, aku tunggu kamu di rumah nanti siang.”
“Oke.”
Pras menghela napas ketika panggilan sudah terputus. Pras langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lalu berbalik badan untuk kembali ke kamar Rose.
“Di mana dia?” Rose terlihat celingukan sambil menggosok rambut menggunakan handuk.
Di kamar ini, Rose hanya memakai jubah handuk yang tadi diambilkan oleh Pras. Dia berjalan sambil mengamati ruangan mencari keberadaan Pras.
“Pras, di mana kamu?”
Rose menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Tidak lama setelah Rose hendak menoleh ke arah lain, Pras muncul dari balik pintu tersebut. Tatapan Rose seketika terlihat malas.
“Dari mana?” tanyanya.
“Baru saja mengangkat telpon,” jawab Pras sambil menunjuk ke belakang.
Umur mereka terpaut sekitar dua belas tahun. Bagi Sebagian orang, mungkin salah satu dari mereka akan memanggil yang lebih tua dengan sebutan paman atau kakak. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Rose. Dia sudah terbiasa memanggil Pras hanya dengan sebutan nama saja. Tidak ada yang melarang tentang hal itu, dan memang terlihat pantas saja.
“Ambilkan bajuku,” pinta Rose.
Setelah mendapat telepon, Pras lupa kalau dia niatnya hendak menata pakaian untuk Rose. Dia bahkan belum selesai menata ranjang.
Sementara Pras sudah berjalan menuju lemari, Rose memilih berdiri di dekat jendela yang terbuka. Dia berdiri di sana, menikmati udara pagi yang masih bersih.
“Apa tadi kekasihmu?” tanya Rose.
“Hm.”
Pras masih sibuk mencari pakaian untuk Rose. Sementara Rose sendiri, dia masih dengan handuknya yang berada di atas kepala.
“Mau pakai yang mana?” Pras berbalik badan sambil menenteng dua pakaian yang tergantung pada hanger.
Rose meletakkan handuk di samping, lalu jarinya terangkat mengetuk-ngetuk dagu. Dia mulai mengamati dan memilih.
“Menurutmu bagus yang mana?”
“Semuanya terlihat bagus.”
“Huh! Kamu hanya sedang mempercepat waktu, kan?”
“Tidak juga.” Pras angkat bahu. “Kalau mau aku yang memilih, mungkin Nona bisa memakai baju yang ini.” Pras mengangkat satu pakaian terusan yang berada di tangan kiri.
“Oke, aku pakai yang itu. Bawa ke sini.”
Pras kembali menggantung pakaian yang lain, lalu berjalan menghampiri Rose sambil menenteng pakaian berwarna biru muda itu.
“Aku akan menunggu di luar,” ucap Pras setelah mengulurkan pakaian tersebut.
“Hm.”
Rose berdiri dan Pelepas jubah handuknya ketika sudah tidak ada orang lain di dalam kamarnya. Dia melenggak ke arah cermin lalu menggamit ponselnya yang berada di meja rias.
“Sebenarnya aku malam pergi ke kantor. Bekerja di kantor bukan keahlianku. Huh! Untuk apa juga aku menuruti kemauan mereka?”
Rose kembali lagi ke ranjang untuk mengambil pakaiannya yang terlupakan. Dia tidak peduli jika tiba-tiba pintu kamar terbuka sementara dirinya masih hanya memakai pakaian dalam saja.
Sambil menenteng pakaiannya, Rose membuka ponselnya. Mungkin ada beberapa pesan yang masuk, dari sahabatnya atau mungkin dari sang kekasih. Ini akan membutuhkan waktu lebih lama sampai Rose ke luar untuk berangkat ke kantor. Sekarang, dia menarik kursi dengan papan bundar lalu mendudukinya. Dia memangku pakaiannya, sementara dua tangan sedang menyangga ponselnya.
‘Aku akan menemuimu siang nanti.’
Satu pesan masuk dari seseorang yang sudah menjalin hubungan dengan Rose sekitar tiga bulan ini. senyum di bibir Rose seketika mengembang. Dia akan senang jika Leo menemuinya di kantor nanti. Dia akan memiliki alasan untuk pergi dan meninggalkan pekerjaan.
“Aku akan berada di kantor sampai siang saja. Harusnya mereka tahu kalau gedung besar itu bukanlah tempat yang cocok untukku.”
Rose tersenyum miring lalu beranjak setelah memasukkan ponsel ke dalam tas. Dia buru-buru mengenakan pakaiannya sebelum pria tua di luar sana akan kembali ke sini untuk menjemput.
“Di mana nona Rose?” tanya Zain sambil menepuk pundak Pras yang hendak membuka pintu mobil.
Pras refleks menoleh. “Masih di atas.”
Sekarang terdengar desahan dari bibir Zain. Dia menyibak rambut lalu bersandar pada badan mobil.
“Kadang aku kasihan dengan nona. Dia menjadi semakin menggila hanya karena berharap mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.”
Pras berdehem lantas ikut bersandar. “Apa menurutmu memang begitu?”
“Tentu saja. Kita tahu, sejak kecil Nona Rose sudah dirawat oleh bibi Margarete. Dia cukup nurut waktu itu. Tapi … setelah Bibi Margarete pergi, dia justru tumbuh menjadi anak yang bandel.”
Pras mengangguk dan mengusap-usap dagunya. “Benar juga. Dia semakin merepotkan sekarang. semua pelayan bahkan kewalahan mengurusnya.”
Tiba-tiba Zain berdiri menghadap Pras. “Apa tidak sebaiknya kamu coba bicara dengan Tuan Aaron dan Nyonya Rosita.”
“Bicara tentang apa? kamu tahu sendiri mereka sudah sekali diajak bicara. aku bahkan bertemu dengan mereka lebih lama hanya ketika sedang ikut meeting. Itu pun bersama banyak orang.”
“Huh, benar juga.” Zain kembali bersandar setelah membuang napas. “Aku hanya khawatir kalau Nona Rose semakin terjerumus.”
“Apa maksud kamu?” tanya Pras serius.
“Tunggu dulu, jadi kamu belum tahu?” tatapan Zain lebih serius sekarang.
“Tahu apa?”
Zain seketika berdecak. “Waktu itu, Nona Rose pulang dalam keadaan mabuk. Dia di antar teman-temannya.”
“Bukankah hal itu lumrah di kota ini?”
“Oh, ayolah Pras, kamu lebih tahu tentang nona mud akita itu. Kamu tahu kalau dia masih belum bisa memilih mana yang baik dan buruk. Kamu tidak mau kan nona kesayanganmu itu salah pergaulan dan dimanfaatkan orang?”
Zain tersenyum tipis usai mengucapkan kalimat tersebut. Setelahnya, dia melipat kedua bibir membentuk garis lurus, menahan tawa yang mungkin akan terlepas.
“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya pras dengan satu ujung bibir terangkat.
“Ah, tidak, tidak. aku hanya memberi tahumu, supaya menjaga nona muda lebih ketat lagi. kamu tidak mau kalau dia sampai terluka kan?”
“Terserah kamu saja.” Pras mengibas tangan, lalu mendorong pundak Zain supaya segera menyingkir dari depan pintu mobil.
Dari kejauhan, Rose terlihat berjalan mendekat.
***