Bab 3
“Sebenarnya aku bisa berangkat ke kantor sendiri,” ucap Rose.
“Kenapa? Bukankah biasanya memang saya yang mengantar nona?”
“Hem … aku hanya tidak mau mengganggu waktumu dengan pacarmu itu.”
“Oh, itu tidak masalah. Ini pekerjaanku, aku tidak mungkin meninggalkannya hanya demi menemui kekasihku.”
“Oh ya?” Rose spontan membelalakkan mata dengan senyum miring. Seraya berkata lagi, Rose membuang muka. “Aku tidak percaya hal itu.”
Mobil berhenti sebelum Pras menemukan jawaban untuk membalas kalimat Rose. Wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda itu, sekarang sudah membuka pintu dan mencangklong tasnya. Niatnya Pras yang hendak turun lebih dulu untuk membukakan, tapi sepertinya mood Rose sedang tidak baik.
Belum sempat Pras menutup pintu usai menyusul ke luar, seorang pria berlari menghampiri Rose. Pria itu dengan cepat memeluk Rose dari belakang dan sempat membuat Rose menjerit kecil. Pras yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan pria itu terlihat menatap sinis.
“Kenapa kamu datang sekarang? kupikir kamu akan datang siang nanti,” kata Rose.
Masih sambil memeluk dari belakang, Leo mengecup rambut Rose. “Aku sudah merindukan kamu. Jadi aku datang sekarang.”
Rose terlihat malu-malu sekarang. dia dengan cepat melepaskan diri, lalu berbalik untuk memukul lengan Leo.
“Tapi aku ada pekerjaan pagi ini.”
“Aku bisa menunggumu sampai selesai.”
“Apa tuan tidak punya pekerjaan?”
“A-apa?” Leo spontan menoleh ke arah Pras. “Apa maksud kamu?”
Pras angkat bahu dan kedua alisnya. “Pagi sekali kamu datang, apa kamu pengangguran?”
Rose memiringkan kepala dengan wajah berkerut. Tatapan itu lurus ke arah Pras seolah bertanya kenapa harus mempertanyakan hal tersebut.
“Hati-hati kalau bicara,” sungut Leo. Dia sudah hampir maju, tapi tangannya lebih dulu ditarik oleh Rose.
Rose menggeleng lalu menarik Leo masuk ke dalam. Melihat dua orang itu berjalan masuk ke dalam gedung, membuat Pras menggerakkan bibir seperti seseorang yang sedang membantah ketika diajak bicara. bibir itu bergerak dengan cepat sampai kepalanya ikut miring ke kanan dan ke kiri.
“Tuan. Tuan Pras kenapa?” tegur seseorang.
“Oh, tidak, tidak. aku hanya--. Aku permisi.” Dengan cepat Pras berjalan menyusul masuk. Dia cukup malu sekarang karena kepergok seperti orang bodoh di depan gedung kantor.
“Sepertinya kamu harus ganti pengawal. Dia sangat tidak becus!” seloroh Leo. Pria itu duduk di sofa ketika sampai di dalam ruangan Rose.
Sementara Rose, dia melepas mantelnya dan juga tasnya di atas meja. “Mana mungkin aku menggantinya. Dia sudah sangat lama bersama keluargaku.”
“Tapi pria tua itu sangat menyebalkan! Aku tidak menyukainya. Dia juga selalu membuntutimu.”
Rose tersenyum lalu duduk di samping Leo. “Memang. Ya, karena itu memang tugasnya, kan?”
“Apa kamu tidak bosan diikuti terus. Kamu sudah cukup dewasa untuk melakukan apa pun sendiri.”
“Entahlah. Ayahku yang menyuruh dia untuk mengawasiku. Ayahku tidak ada waktu untukku, jadi dia minta orang untuk menemaniku.”
“Tapi sekarang kamu ada aku, kan? Kamu tidak membutuhkannya lagi.”
Belum sempat menjawab, pintu terbuka. Tanpa mengetuk lebih dulu, Pras masuk ke dalam. Dia membawa beberapa berkas lalu menyodorkannya dengan cepat pada Rose.
“Ini laporan bulan lalu, sebaiknya nona lihat dulu.”
Rose langsung mendengkus kesal. Dia bahkan menerima berkas itu dengan kasar. “Kamu kan bisa memberikan ini nanti. Aku sedang ada tamu sekarang.”
“Tamu Nona yang datang tidak tepat waktu. Saya hanya menjalankan tugas. Masih beruntung saya tidak mengusirnya.”
“Kamu!” Leo melotot dan mengacungkan jari. Di samping, Rose langsung berkedip, meminta Leo untuk tetap tenang.
Sekarang, Rose berdiri, membuat Pras berjalan mundur. Setelah itu, Rose meletakkan berkasnya di atas meja, lalu dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Pras.
“Kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan bicara dengan dia,” ucap Rose pada Leo.
“Tapi …”
“Hanya sebentar.”
“Oke,” desah Leo.
Rose menarik tangan Pras menuju ke luar. Dia menyeret menuju ruangan lain yang tidak ada orang sama sekali. Setelah sampai di dalam ruangan tersebut, Rose berdecak bersamaan dengan tangan Pras yang ia kibaskan dengan sangat cepat.
“Apa kamu tidak bisa bersikap sopan ketika aku sedang bersama Leo?”
Pras menatap wajah Rose yang tampak marah. “Di mana aku tidak bersikap sopan?”
“Di mana? Kamu bilang di mana? Kamu selalu saja berkata menyebalkan! Kalau kamu terus begini, aku akan minta ayah untuk mengantikanmu.”
“Silahkan jika nona ingin menggantikan saya.”
Seketika Rose menarik wajahnya dan membulatkan mata. Dia tidak menyangka kalau semakin hari, sifat pengawalnya semakin menjengkelkan. Pria ini tidak merasa bersalah meski sudah membuat Rose marah.
“Kenapa kamu menyebalkan sekali!” decak Rose. “Tidak bisakah kamu tidak mengganggu waktuku dengan Leo.”
“Nona, aku tidak akan mengganggu kalau pria itu tahu waktu. Aku tidak mau kalau dia mengganggu pekerjaan Nona.”
“Dia sama sekali tidak mengganggu pekerjaanku.”
“Oh, ya? Bagaimana dengan meeting yang selalu nona lembar ke orang lain. Bagaimana dengan laporan yang selalu terlambat. Bagaimana dengan –”
“Pras! Kenapa kamu menyebalkan sekali!” suara Rose meninggu sampai dua kakinya berjinjit untuk mengimbangi tinggi Pras. “Kenapa kamu jadi begini?”
Pras mundur bersamaan dengan desahan yang ke luar dari dalam mulutnya. “Tidak begitu, Nona. Aku hanya tidak mau sampai nona terganggu karena pria itu.”
“Dia tidak menggangguku, Pras. Sama sekali tidak mengganggu.”
“Bagiamana jika Tuan Aaron tahu. Beliau akan marah.”
“Dia tidak akan tahu kalau kamu tidak cerewet. Dan lagi, untuk apa aku harus bekerja? Bukankah kekayaan ayahku tidak akan habis sampai tuju turunan?” Rose berbalik badan sambil mengangkat tangan ke udara. Dia melenggak lalu berdiri menghadap ke arah jendela kaca.
“Aku juga tidak mengerti kenapa aku harus bekerja di perusaan yang bahkan aku sendiri sama sekali tidak mengusainya. Harusnya kamu mengerti aku, Pras. Aku tidak menyukai pekerjaan ini.”
Pras menatap diam punggung itu lalu perlahan mulai maju. Ketika satu tangannya hendak terulur untuk meraih pundak, tiba-tiba dia melihat pundak itu bergetar. Sekarang mulai terdengar isak tangis yang membuat Pras seketika membelalak.
“Nona …”
“Jangan menyentuhku!” Rose langsung menyingkir ketika Pras meraih pundaknya. “Aku tidak ingin bicara denganmu. Kamu sama saja dengan ayahku. Kalian semua tidak ada yang seperti Bibi Margarete.”
“Tidak begitu, Nona. Aku hanya—”
“Hanya apa!” Rose menoleh dan menyalak. “Kamu juga selalu menekanku. Kamu menyuruhku seperti ini, seperti itu sesuai keinginan kamu! Kamu seperti ayah yang selalu mengaturku! Kalian semua menyebalkan!”
Rose mengusap kasar wajahnya lalu menunduk dan berjalan menyerobot. Namun, sebelum dia berhasil ke luar, Pras sudah lebih dulu mendekap tubuh terguncang itu dari belakang.
“Maafkan aku, Nona. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya—”
“Hanya apa? hiks, Hiks!” Rose masih menunduk dan terdiam membiarkan tangisnya ke luar semakin deras.
Pras akan merasa bersalah sekarang. dia memutar tubuh itu, lalu mendekapnya dari depan. Dia membiarkan wajah basah itu terbenam di dadanya.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin Nona lebih berhati-hati saja. Aku hanya –” Pras menghentikan kalimatnya lalu memilih mendekat tubuh Rose semakin erat. Dia mengecup ujung kepala itu dengan lembut sampai kedua matanya terpejam.
***