Amarah Irina memuncak sampai ke ubun-ubun. Dengan kesal dia mengambil seluruh pakaiannya yang berceceran di atas lantai. Dimasukkannya kembali ke dalam goodie bag. Ditatapnya Leonidas dengan murka. “Jaga ucapanmu!” tukasnya. Leonidas tersenyum miring. “Apa? Jaga ucapanku katamu?” ujarnya dengan nada mencemooh. Dia mendekati Irina dan menghimpit tubuhnya ke tembok. “Harusnya kamu yang menjaga sikapmu, sayang,” imbuhnya dengan nada bicara lebih pelan dibanding sebelumnya. Irina mendorong tubuh Leonidas dengan kasar. Tadinya dia hendak pergi meninggalkan Leonidas sendirian, namun Leonidas sudah keburu meraih pergelangan tangan kirinya. “Apa lagi yang kamu mau?!” tanyanya sebal. Didekatinya Irina kembali. Leonidas lalu mendekatkan wajahnya ke leher Irina, mencium aroma nikotin yang samar-s

