bc

Gairah Nakal Kakek Presedir

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
forbidden
family
HE
age gap
arranged marriage
drama
serious
city
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

“Menikahi kakek presdir kaya raya? Dasar wanita matre tak tahu malu.” Itulah cap yang menempel pada Ayla sejak hari ia mengucap janji pernikahan dengan Ardhanatama Wirajendra. Tak ada yang tahu. Pernikahan itu bukan ambisi, bukan pula cinta, Melainkan satu-satunya jalan untuk mendekati keluarga yang menyimpan kunci masa kelam hidupnya. Semua berjalan terencana… Sampai Arven pulang dari luar negeri.Pria pertama yang membuat Ayla merasakan cinta. Kini berdiri di hadapannya, dengan tatapan penuh amarah, muak, dan pengkhianatan. Baginya, Ayla tak lebih dari wanita perusak keluarga yang menjual dirinya demi harta sang kakek. Namun kebencian itu retak ketika Arven menyadari satu hal, Ayla tidak mengejar kekayaan. Ayla mengejar kebenaran. Dan rahasia keluarga mereka jauh lebih mengerikan daripada sekadar skandal pernikahan. Saat dendam, cinta, dan kebohongan saling bertabrakan… Siapa yang akan Ayla selamatkan, dan siapa yang terpaksa ia hancurkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1.1
"Maaf, Bu Ayla. Nama Anda termasuk dalam daftar karyawan yang terdampak restrukturisasi perusahaan." Ayla sempat mengira dirinya salah dengar. Di atas meja, secangkir kopi yang baru dibelinya lima belas menit lalu masih mengepulkan uap tipis. Ia bahkan belum sempat meminumnya. Saat dipanggil ke ruang HRD, ia mengira ada urusan proyek atau laporan yang harus segera diselesaikan. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Karena itu, ketika perempuan di depannya mengucapkan kalimat tersebut dengan wajah profesional dan nada hati-hati, otaknya menolak memproses maknanya. "Maaf... apa?" Perempuan itu menggeser sebuah map cokelat ke tengah meja. "Kondisi perusahaan sedang tidak baik. Kami terpaksa melakukan pengurangan karyawan di beberapa divisi." Ayla menatap map tersebut. Namanya tercetak di bagian depan. Ayla Prameswari. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. "Maksudnya saya diberhentikan?" "Perusahaan akan memberikan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku." "Itu bukan jawaban dari pertanyaan saya." Suasana mendadak sunyi. Perempuan HRD itu tampak menelan ludah sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Ya." Satu kata. Sesederhana itu. Lima tahun hidupnya berakhir dalam satu kata. Ayla menyandarkan tubuh ke kursi. Ia berusaha tertawa, tetapi suaranya terdengar kering bahkan di telinganya sendiri. "Saya baru saja menyelesaikan proyek untuk klien terbesar bulan lalu." Perempuan itu tidak menjawab. "Saya nggak pernah dapat surat peringatan." Tetap diam. "Saya juga selalu mencapai target." Masih diam. Untuk pertama kalinya, Ayla benar-benar memahami bahwa tidak ada yang ia katakan akan mengubah apa pun. Keputusan sudah dibuat. Namanya sudah masuk daftar. Dan sekarang perusahaan hanya sedang menjalankan prosedur. "Kalau saya tanya kenapa saya yang dipilih, apa saya akan dapat jawaban yang jujur?" Perempuan itu terlihat semakin tidak nyaman. "Saya mengerti ini berat, Bu Ayla." Ayla tersenyum tipis. "Ternyata nggak juga." Perempuan itu mengernyit. Ayla bangkit berdiri sambil mengambil map tersebut. "Kalau memang berat, harusnya keputusan ini nggak semudah itu dibuat." Satu jam kemudian ia berdiri di depan meja kerjanya sendiri dengan sebuah kardus kosong di tangan. Baru sekarang semuanya mulai terasa nyata. Monitor komputer masih menyala. Kalender meja masih menunjukkan jadwal minggu ini. Beberapa catatan kecil yang ditempelnya di sisi layar masih berada di tempat yang sama. Bahkan tanaman kecil yang sudah dua tahun menemaninya bekerja masih berdiri miring di dekat jendela. Semua tampak biasa. Terlalu biasa. Seolah besok pagi ia masih akan kembali duduk di kursi itu. Padahal tidak. "Ay." Suara Rani membuatnya menoleh. Perempuan itu berjalan cepat menghampirinya. Wajahnya terlihat kesal. "Sumpah aku pengen ngamuk." Ayla tertawa kecil. "Jangan. Nanti malah sekalian dipecat." Rani tidak ikut tertawa. "Aku serius." "Aku juga serius." Rani menggeleng frustrasi sebelum membantu memasukkan beberapa barang ke dalam kardus. "Mereka gila." "Mungkin." "Bukan mungkin. Jelas." Ayla mengambil sebuah plakat penghargaan dari rak kecil di mejanya. Penghargaan karyawan terbaik. Dua tahun lalu ia hampir menangis saat menerima benda itu. Hari ini ia bahkan tidak yakin benda itu masih berarti apa-apa. Rani melihat ke arah plakat tersebut lalu mendecak. "Nah, itu dia. Mereka kasih penghargaan, terus sekarang nendang kamu keluar." "Hidup memang suka bercanda." "Kamu masih bisa bercanda?" "Aku takut kalau berhenti bercanda, aku malah nangis." Kalimat itu membuat Rani langsung terdiam. Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Suasana kantor yang biasanya terasa akrab mendadak asing. Orang-orang tetap bekerja seperti biasa, tetapi beberapa pasang mata diam-diam memperhatikan mereka. Ada yang terlihat simpati. Ada yang terlihat tidak enak hati. Ada juga yang buru-buru mengalihkan pandangan ketika mata mereka bertemu. Ayla tidak menyalahkan siapa pun. Situasi seperti ini memang canggung. Tidak ada yang tahu harus berkata apa kepada seseorang yang baru kehilangan pekerjaannya. "Ay." "Hm?" "Kalau butuh apa-apa, bilang ya." Ayla langsung menggeleng. "Aku masih aman." Rani menatapnya tajam. "Kamu bohong." Ayla tersenyum. Namun kali ini senyum itu gagal mencapai matanya.vSebulan pertama berlalu lebih baik daripada yang ia perkirakan. Pesangon masih cukup untuk bernapas. Tabungannya masih ada. Setiap pagi ia tetap bangun lebih awal, membuat kopi, lalu duduk di depan laptop untuk mencari lowongan pekerjaan. Rutinitas itu membuatnya merasa seolah hidupnya masih berada dalam kendali. Sampai email penolakan pertama datang. Lalu kedua. Ketiga. Kesepuluh. Dan setelah itu Ayla berhenti menghitung. Siang itu ia baru selesai menjalani wawancara daring ketika notifikasi email masuk ke ponselnya. Jantungnya langsung berdebar. Dengan cepat ia membuka pesan tersebut. Senyumnya menghilang beberapa detik kemudian. Terima kasih atas partisipasi Anda dalam proses rekrutmen. Kami memutuskan melanjutkan proses dengan kandidat lain. Ayla memandangi layar ponselnya cukup lama. Padahal wawancara tadi berjalan baik. Setidaknya menurutnya begitu. Mereka tersenyum. Mereka memuji pengalamannya. Mereka bahkan mengatakan akan segera menghubunginya kembali. Ternyata "segera" hanya berarti penolakan yang lebih cepat. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Rani. Gimana hasilnya? Ayla mengetik balasan. Belum ada kabar. Ia menatap pesan itu beberapa saat sebelum menekan kirim. Kebohongan kecil. Namun entah kenapa terasa lebih mudah daripada mengakui kenyataan. Dua bulan setelah kehilangan pekerjaan, Ayla berdiri di depan mesin ATM minimarket dekat kontrakannya. Ia memasukkan kartu. Memasukkan PIN. Lalu memilih tarik tunai. Layar menampilkan nominal yang diminta. Beberapa detik kemudian muncul tulisan yang membuat tenggorokannya tercekat. Saldo tidak mencukupi. Ayla mengernyit. Ia mencoba lagi. Hasilnya tetap sama. Dari belakang terdengar suara seseorang. "Mbak, masih lama?" "Maaf." Ayla buru-buru mengambil kartunya dan menepi. Begitu keluar dari minimarket, ia langsung membuka aplikasi mobile banking. Angka yang muncul membuat dadanya terasa sesak. Ia tahu tabungannya berkurang. Tapi tidak menyangka secepat ini. Di trotoar yang ramai, Ayla berdiri mematung sambil menatap layar ponselnya. Suara kendaraan berlalu lalang di depannya. Orang-orang berjalan terburu-buru. Tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada yang tahu bahwa hidup seseorang sedang runtuh hanya karena beberapa angka di layar. Dan untuk pertama kalinya sejak menerima surat PHK itu, Ayla mulai merasa takut. Takut yang sesungguhnya. Bukan takut karena kehilangan pekerjaan. Melainkan takut karena mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar kehabisan jalan

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook