BAB 1
Pagi itu Ayla Nadhira masih percaya hidupnya buruk, tapi belum sepenuhnya hancur.
Ia berdiri di depan wastafel kantor, menatap pantulan wajahnya sendiri yang pucat di cermin buram. Rambut hitamnya diikat asal, mata sedikit sembab karena tidur yang tak pernah benar-benar nyenyak sejak beberapa minggu terakhir. Tangannya gemetar saat memutar keran. Air mengalir, dingin, terlalu dingin seperti sengaja mengingatkannya bahwa hari ini tidak akan ramah.
Telepon di saku celana bergetar lagi.
Ayla tidak langsung mengangkatnya. Ia tahu siapa. Nomor tak dikenal. Sudah tiga kali sejak pagi. Ia membiarkannya mati sendiri, lalu menyimpan ponsel itu ke dalam tas dengan napas tertahan.
“Tenang,” gumamnya lirih pada bayangan dirinya sendiri. “Satu hari lagi. Cuma satu hari.”
Ia keluar dari toilet, kembali ke ruang kerjanya yang sempit tapi rapi. Meja itu adalah satu-satunya tempat di dunia yang terasa stabil baginya. Laptop, catatan kecil, foto orang tuanya yang mulai pudar warnanya, semua tersusun dengan presisi, seolah keteraturan benda-benda itu bisa menular pada hidupnya yang berantakan.
Belum sempat ia duduk, suara atasannya memanggil.
“Ayla. Ke ruang meeting. Sekarang.”
Tidak ada embel-embel lain. Tidak ada senyum. Tidak ada “sebentar ya.”
Ada sesuatu di nada suara itu yang membuat d**a Ayla mengeras.
Ruang meeting kecil itu terasa lebih pengap dari biasanya. AC menyala, tapi udara di dalamnya seperti habis. Atasannya duduk di satu sisi meja, HRD di sisi lain. Dua wajah dengan ekspresi yang sama, netral, bersih, dan dingin.
Ayla duduk. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
“Kita akan langsung ke inti,” kata HRD itu tanpa basa-basi. “Per hari ini, perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran. Dan… posisi kamu termasuk yang terdampak.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa pengaman.
Ayla berkedip. Sekali. Dua kali.
“Maaf?” suaranya keluar lebih pelan dari yang ia kira.
“Aturan perusahaan memungkinkan pemutusan hubungan kerja tanpa pemberitahuan sebelumnya dalam kondisi tertentu,” lanjut HRD itu, suaranya datar seperti membaca laporan cuaca. “Kondisi keuangan perusahaan tidak memungkinkan pemberian pesangon.”
Kata-kata berikutnya terdengar seperti gema jauh. Efisiensi. Restrukturisasi. Keputusan manajemen. Tidak personal.
Tidak personal.
Padahal bagi Ayla, ini sangat personal.
“Saya… performa saya baik,” katanya akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap rasional. “Target saya tercapai. Tidak pernah ada surat peringatan.”
“Aturan bukan tentang performa,” jawab atasannya singkat. “Ini soal kebutuhan perusahaan.”
Kebutuhan perusahaan.
Bukan kebutuhan Ayla untuk membayar kontrakan bulan depan. Bukan kebutuhan Ayla untuk menutup cicilan rumah tua yang sudah lama ia tinggalkan. Bukan kebutuhan Ayla untuk sekadar bernapas tanpa rasa takut setiap pagi.
Pertemuan itu selesai dalam kurang dari sepuluh menit.
Sepuluh menit yang meruntuhkan lima tahun hidup.
Ayla keluar dari ruangan dengan map cokelat tipis di tangannya isinya surat pemutusan kerja yang bahkan terasa lebih ringan daripada kenyataan yang harus ia tanggung. Meja kerjanya kini bukan lagi miliknya. Barang-barangnya dikemas cepat, seolah ia bisa berubah menjadi masalah jika terlalu lama berada di sana.
Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada air mata rekan kerja. Semua orang terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Begitulah dunia bekerja, Ayla tahu itu. Ia hanya tidak menyangka hari ini gilirannya.
Begitu keluar dari gedung kantor, panas siang langsung menyergap. Kota bergerak seperti biasa—klakson, orang-orang berjalan cepat, tawa di kejauhan. Dunia tidak berhenti hanya karena hidup seseorang runtuh.
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini ia mengangkat.
“Selamat siang, dengan Ayla Nadhira?” suara di seberang terdengar sopan tapi tajam.
“Iya.”
“Kami dari pihak penagihan. Terkait tunggakan atas nama almarhum Raka Pradana dan Nadhira Pradana. Kami perlu mengingatkan bahwa jatuh tempo sudah lewat dua bulan.”
Ayla menutup matanya.
“Saya sudah bilang saya akan mengurusnya,” katanya pelan.
“Total tunggakan cukup besar, Mbak. Jika tidak ada itikad baik, kami terpaksa membawa ini ke jalur hukum.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari PHK tadi.
Utang itu bukan miliknya. Tapi darahnya sama. Namanya tercantum sebagai ahli waris. Sebuah warisan yang tidak pernah ia minta.
Telepon ditutup. Lalu satu lagi masuk. Nomor berbeda. Nada suara berbeda. Isi sama.
Dalam satu hari, Ayla kehilangan pekerjaannya dan dipaksa mewarisi beban yang bahkan orang tuanya sendiri tidak sempat lunasi sebelum mati.
Ia duduk di halte bus, menatap lalu lintas tanpa benar-benar melihat. Kepalanya berdenyut..
Tangannya dingin.
Ia gagal.
Sebagai anak, karena tidak bisa menutup utang orang tuanya.
Sebagai perempuan, karena tidak punya siapa-siapa untuk bersandar.
Sebagai manusia, karena hidupnya runtuh terlalu cepat untuk ditahan.
Sore itu, Ayla pulang dengan koper kecil yang sama seperti lima tahun lalu koper yang dulu ia bawa saat meninggalkan kota ini dengan tekad tidak akan kembali.
Kereta melaju, membawa tubuhnya menjauh dari kota besar yang tidak lagi menginginkannya. Setiap kilometer terasa seperti kemunduran. Setiap detik seperti pengakuan kekalahan.
Rumah masa kecil itu masih berdiri di ujung jalan sempit yang sama. Catnya mengelupas. Pagar berkarat. Lampu teras mati.
Ayla berdiri di depan pintu, kunci di tangannya terasa asing. Bau tanah lembap dan kenangan lama menyergap begitu pintu dibuka.
Rumah ini identik dengan kemiskinan. Dengan malam-malam tanpa listrik. Dengan suara batuk ibunya. Dengan ambulans yang datang terlambat.
Ia melangkah masuk perlahan.
Sunyi.
Terlalu sunyi. Dan di sudut ruang tamu, Ayla berhenti. Lemari kayu tua milik ibunya berdiri di sana utuh, berdebu… dan terkunci rapat.
Padahal Ayla ingat betul. Lemari itu tidak pernah dikunci.
Ayla tidak langsung mendekati lemari itu.
Ia berdiri cukup lama di ambang ruang tamu, koper masih tergolek di dekat pintu, jaket belum dilepas. Rumah itu terasa menyusut, seolah udara di dalamnya lebih berat daripada di luar. Bau kayu tua bercampur lembap dan debu menyeruak, membawa kenangan yang tidak pernah benar-benar ia kubur.
Ia menutup pintu perlahan.
Klik.
Suara kecil itu menggema terlalu keras di telinganya.
Ayla berjalan masuk, langkahnya hati-hati, seperti takut lantai akan runtuh di bawah kakinya. Lampu ruang tamu ia nyalakan—cahayanya redup, berkedip sebentar sebelum stabil. Segalanya masih di tempat lama. Sofa usang dengan kain yang mulai sobek di sudut. Jam dinding yang berhenti berdetak. Foto keluarga kecil mereka di dinding, wajah ibunya tersenyum lembut, ayahnya berdiri sedikit kaku di samping.
Ayla menelan ludah.
Ia sudah lama melatih dirinya untuk tidak larut dalam nostalgia. Kenangan tidak membayar tagihan. Kenangan tidak menghapus utang. Tapi rumah ini… selalu berhasil menjebol pertahanannya.
Ia meletakkan koper di kamar lamanya. Kamar yang nyaris tidak berubah. Ranjang besi. Lemari pakaian kecil. Meja belajar dengan goresan-goresan lama yang masih ada. Ayla duduk di tepi ranjang, pundaknya merosot begitu saja, seolah seluruh beban hari ini baru benar-benar jatuh sekarang.
Teleponnya bergetar lagi.
Nomor tidak dikenal.
Ayla menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
“Mbak Ayla,” suara pria di seberang terdengar lebih tegas dari sebelumnya. “Kami perlu kepastian. Ini sudah masuk tahap serius.”
“Serius bagaimana?” tanya Ayla lirih.
“Penyitaan aset. Rumah ini termasuk.”
Kata itu menghantam keras.
“Ini rumah orang tua saya,” katanya, suaranya bergetar tanpa bisa dicegah.
“Dan utang mereka belum lunas. Kami memberi waktu singkat untuk penyelesaian.”
Telepon terputus.
Ayla menatap layar ponselnya yang gelap. Dadanya sesak. Napasnya pendek-pendek. Untuk pertama kalinya hari itu, air mata jatuh tanpa izin. Bukan tangisan histeris hanya tetesan pelan yang terasa lebih menyakitkan karena ditahan terlalu lama.
Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan.
Ia sudah berusaha. Ia bekerja tanpa mengeluh. Hidup tanpa bergantung. Menahan diri untuk tidak meminta bantuan siapa pun. Tapi tetap saja, hidup seperti tidak pernah berniat memberinya jeda.
Malam turun perlahan.
Ayla tidak menyalakan televisi. Tidak membuka jendela. Ia hanya duduk di ruang tamu, lampu temaram menemani pikirannya yang kacau. Tatapannya kembali tertarik pada lemari tua itu.
Lemari kayu berwarna cokelat gelap. Ukirannya sederhana, sedikit aus di beberapa bagian. Lemari yang dulu selalu terbuka, pintunya sering berdecit setiap kali ibunya mengambil sesuatu dari dalamnya.
Ayla berdiri.
Langkahnya ragu, tapi kakinya bergerak sendiri, mendekati lemari itu. Ia berjongkok, menatap kunci kecil yang menggantung di pintunya. Bukan gembok sembarangan kunci lama, berat, seperti sengaja dipilih untuk tidak mudah dibuka.
“Kenapa dikunci…?” gumamnya pelan.
Ibunya bukan tipe orang yang menyembunyikan sesuatu. Setidaknya, itu yang Ayla yakini selama ini.
Tangannya terulur, menyentuh permukaan kayu lemari itu. Dingin. Kasar. Ada debu tebal yang menempel di jari-jarinya. Ayla mengusapnya perlahan, dan dalam gerakan itu, sebuah ingatan lama menyelinap masuk ibunya berdiri di depan lemari ini, tubuhnya sedikit menutupi pintu, tersenyum tipis saat Ayla bertanya apa isinya.
“Bukan apa-apa,” kata ibunya waktu itu. “Barang lama.”
Ayla dulu tidak bertanya lagi.
Sekarang, ia menyesal.
Ia mencoba menarik pintu lemari itu. Terkunci rapat. Ia menghela napas frustrasi, lalu berdiri, menatap sekeliling rumah. Pikirannya bekerja cepat, mencari kemungkinan.
Kunci.
Ibunya selalu menyimpan kunci cadangan di tempat-tempat tak terduga. Di balik kaleng biskuit. Di dalam lipatan kain. Ayla menyusuri dapur lebih dulu. Laci demi laci ia buka. Lemari piring. Rak bumbu. Tidak ada.
Ia beralih ke kamar orang tuanya.
Kamar itu membuat dadanya kembali sesak. Ranjang besar yang kini kosong. Lemari pakaian yang separuhnya kosong. Di atas meja rias, masih ada sisir tua dan botol parfum yang baunya sudah memudar.
Ayla membuka laci meja rias.
Kosong.
Laci kedua.
Masih kosong.
Laci ketiga, Ia berhenti.
Ada sesuatu di sudut laci. Kertas terlipat rapi. Ayla mengambilnya dengan tangan gemetar. Sebuah amplop tua, warnanya menguning. Di bagian depannya, tertulis nama dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Ayla.
Napasnya tertahan.
Tangannya bergetar saat membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada satu kunci kecil… dan selembar catatan.
Tulisan ibunya.
Ayla,
kalau kamu membaca ini, berarti ibu sudah tidak ada.
Dan kalau kamu menemukan kunci ini, berarti kamu sudah cukup dewasa untuk tahu kebenaran.
Ayla menutup mulutnya dengan tangan.
Kami tidak mati karena kecelakaan.
Kalimat itu membuat dunia Ayla berhenti berputar.
Matanya membelalak. Jantungnya berdegup liar. Kertas itu terasa terlalu tipis untuk menampung beban kata-kata di atasnya.
Ada hal-hal yang selama ini kami sembunyikan demi melindungimu.
Jika hidupmu sampai runtuh dan kamu terpaksa kembali ke rumah ini, buka lemari itu.
Air mata jatuh membasahi kertas.
Ayla menggenggam kunci itu erat-erat, telapak tangannya berkeringat. Seluruh tubuhnya bergetar bukan karena takut, tapi karena firasat buruk yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Ia kembali ke ruang tamu dengan langkah cepat. Jantungnya berdebar semakin keras di setiap langkah, seolah memperingatkannya untuk berhenti. Tapi Ayla tidak berhenti.
Ia berjongkok di depan lemari.
Kunci itu pas.
Terlalu pas.
Klik.
Suara kunci terbuka terdengar pelan, tapi efeknya seperti ledakan di dalam d**a Ayla. Ia menarik napas dalam-dalam, tangannya ragu di gagang pintu lemari.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia membukanya.
Dan saat pintu lemari itu terbuka, Ayla menyadari satu hal yang membuat darahnya membeku
Hidupnya tidak runtuh hari ini.
Hari ini, kebenaran baru saja mulai menghancurkannya.