Ciama melepaskan helm yang sejak 25 menit lalu ia pakai. Gadis itu menganga takjub melihat taman komplek yang sudah seperti pasar malam. Banyak sekali jajanan pinggir jalan yang bisa ia lihat. Belum lagi ada beberapa orang yang sengaja menggelar karpet di dekat danau. Ciama benar-benar tidak menyangka taman komplek yang konon selalu dibilang seram karena terlalu banyak pepohonan itu sekarang seperti taman bermain yang mewah. Kalau seperti ini keadaannya, Ciama jadi merasa berada di Korea. “Suka?” Tanya Rifky yang sudah turun dari motornya. Ciama segera mengangguk semangat. Gadis itu juga berjingkrak bahagia melihat beberapa anak kecil yang membeli permen kapas di dekat danau. “Ky…” rengek Ciama seraya menunjuk penjual permen kapas di ujung sana. Rifky terkekeh sesaat sebelum mengangguk

