Chap. 9

1791 Kata
“Cia—ma?” Baik Ciama maupun Marcel keduanya langsung menolehkan kepala melihat siapa yang datang ke kamar gadis itu. Sosok lelaki dengan kaos hitam dan celana jeansnya itu terdiam di tempat melihat apa yang ada di depannya. “Eja?” “Kakak kok sama Kak Marcel?” Ciama terdiam. Begitupun dengan Marcel yang kini sedang mematikan pengering rambut di tangannya. Lelaki itu menatap adik Ciama satu-satunya yang kini tengah memandangnya dengan tatapan tidak suka. Sedangkan Ciama kini memilih menatap Reza dengan tatapan kesalnya. Apa anak itu tidak bisa datang nanti saja? Kenapa sangat merusak suasana? Seharusnya Ciama juga mengunci pintu kamarnya sejak pagi agar tidak ada yang sembarangan masuk ke dalam kamarnya lagi nanti. Bukannya tidak suka dengan kedatangan Marcel ataupun Reza ke dalam kamarnya, tapi waktu mereka datang tidak tepat dan Ciama sangat membenci hal itu. “Kakak mau ke bandara, kan? Kenapa di sini ada Kak Marcel?” “Kamu sendiri ngapain di sini? Bukannya ke rumah Abang Rian. Di sana kan nanti dijemput sama Mama sama Kakak,” tanya balik Ciama yang kesal dengan tingkah adik lelakinya satu itu. Ciama memang tidak terlalu dekat dengan Reza. Entah karena perbedaaan umur yang sangat jauh antara ia dan juga Reza, atau karena dirinya yang memang tidak begitu suka dekat dengan Reza, tapi hal itu mampu membuat keduanya selalu bersitegang ketika bertemu. Dan lagi, sifat keduanya sangat berbeda jauh. Jika Ciama lebih mirip dengan kepribadian sang papa, maka Reza lebih mirip Mama mereka yang tegas dan penuh pendirian. Ciama kadang iri karena Reza yang bsia menurunkan sifat dan watak Mama mereka di banding dengannya yang hanya menurunkan ke anehan sang papa. “Aku disuruh ke sini sama Abang. Katanya Kakak mau jemput Mama di bandara. Aku juga mau ikutlah! Emang Kakak aja yang kangen Mama?!” Sewot Reza seraya duduk di atas kasur Ciama seraya bersedekap d**a melihat Marcel dan juga Kakak perempuannya yang masih terdiam. “Udah belum? Cepetan! Eza mau main sama Mama cepet-cepet!” “Dih, ribet banget! Orang Mama sampenya juga jam 9. Itu juga belum tentu langsung bisa pulang. Emangnya di bandara abis turun dari pesawat bisa langsung lari kaya dari angkot?” Balas Ciama tak kalah sewot. Reza yang mendengarnya langsung mendengkus keras dan memalingkan wajah ke samping. Ciama sebenarnya sudah tahu kenapa anak itu bersikap seperti itu. Selain karena Mamanya akan datang, Reza juga tampak kesal karena Ciama tidak memberitahu kalau ia akan menjemput wanita itu hari ini. Sebab, Ciama enggan membuat keributan dan Reza mengetahui rencanaya. Ya, sudah pasti karena Ciama tidak mau moment temu kangen dengan Mamanya akan hancur karena rengekan bocah tidak tahu diri itu. Marcel yang sejak tadi masih berdiri di belakang Ciama itu hanya mampu tersenyum mendengar pertengkaran yang dilakukan oleh Ciama dan juga adik gadis itu. Bukannya tidak mau ikut campur, Marcel cukup tahu bagaimana Ciama jika sedang kesal. Ditambah kesalnya karena sosok Reza, yang terkadang bisa membuat Ciama mengalah dengan terpaksa. “Rambutnya udah kering. Mau diiket apa dibiarin aja?” Tanya Marcel seraya menatap pantulan wajah cantik Ciama dari kaca. “Diiket satu aja. Nanti aja. Ciama mau pakai baju dulu,” ujar Ciama dan bangkit menuju walk in closet. Gadis itu meninggalkan Reza dan juga Marcel yang masih berada di dalam kamarnya. “Kata Abang Rian, Kakak gak suka sama Kak Ciama. Kenapa Kakak masih temenin Kak Ciama? Kan kalau gak suka, gak boleh pegang apa-apa. Kenapa Kakak megang rambut Kak Cici?” Tanya Reza dengan wajah dinginnya. Marcel yang baru saja akan duduk di samping Reza itu spontan terdiam dan menatap anak 10 tahun di sebelahnya. Merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Marcel kembali mendekatkan diri dan menatap Reza dalam. “Kata temen Reza, kalau emang gak suka, jangan di deketin. Kasian. Kak Cici nanti nangis.” Kali ini Marcel merasa jika telinganya berfungsi dengan baik. Dan apa yang dikatakan Reza tadi ternyata benar jika anak itu yang baru saja mengatakannya. Marcel seakan mendapat tamparan yang cukup pedas setelah mendengar apa yang Reza katakan. Ia tidak berani menjawab apa yang Reza tanyakan. Ia juga tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang. Kenapa bisa ia mendekati Ciama tanpa ada sesuatu. Dan lagi, seharusnya ia datang bersama dengan Orien, kan? Seharusnya iaberkunjung ke rumah gadis itu dan berbicara dengan Ayah Orien. Tapi kenapa kaki dan juga hatinya amalh mengarah kemari? “Kakak gak akan tahu gimana nantinya Kak Cici tahu kalau Kakak punya pacar. Gak enak, Kak. Eza juga pernah suka sama cewek kelas 6, tapi dia sukanya sama anak SMP. Itu sakit banget. Apalagi Kak Cici yang udah suka sama Kakak dari—“ “Ciama siap! Kamu mending tunggu di luar aja deh, Ja. Kakak mau ngomong dulu sama Kak Marcel.” “Kan dari tdai ngobrol. Emnagnya kenapa kalau Eza denger apa yang Kakak—“ “Kamu mau keluar duu apa tetep diem di sini?” Mendengar nada dingin yang keluar dari mulut Kakaknya, Reza memilih mengalah dan keluar dari kamar Kakaknya. “Jangan buat Kak Cici nangis!” bisik Reza pda Marcel sebelum akhirnya keluar dari kamar Ciama.           ***         Rencana Ciama yang ingin pergi hanya berdua dengan Marcel gagal total. Sebab Reza mau tak mau ikut ke dalam mobil dan menjemput Mama mereka. Sebenarnya Ciama tidak masalah jika Reza ikut, tadinya. Tapi setelah bertanya langsung mengenai postingan Marcel semalam, Ciama jadi mempermasalahkan adanya sosok Reza yang tengah duduk di kursi belakang seraya memainkan ponsel milik Marcel. Yang tentu saja dipakainya untuk bermain game. Sebenarnya ia sendiri memiliki ponsel, tapi karena batas waktu pemakaian ponselnya sudah lebih dari seharusnya, ponsel pemberian ayahnya itu mati dan tidak bisa dinyalakan sebelum jam berikutnya. Akhirnya ponsel Marcel yang menjadi korban anak itu. “Nanti kalau sampe di bandara, jangan rusuh. Jangan langsung pengen ini itu. Mama pasti capek,” peringat Ciama pada Reza yang masih anteng dengan ponsel Marcel. “Kamu denger, gak?!” “Iya,” jawab Reza malas. “Tumben Tante Chandra pulang duluan? Biasanya kan pulang bareng sama Om Revan.” Ciama mencebik sesaat mendengar pertanyaan dari Marcel. “Ya jelas gara-gara tuh anak! Tiap malem nanyain Mama mana, Mama mana! Berisik. Mana di rumah orang. Kagak tahu malu!” “Kakak juga dulu gitu, ya!” “Tapi Kakak gak pernah ditinggalin gitu aja sama Mama sama Papa. Soalnya gak kaya kamu yang pengen ikut ke mana-mana!” “Kan dulu gak punya adik, makanya nurut!” “Apa hubungannya?!” Sewot Ciama karena mendengar Reza yang terus saja membalas ucapannya. Gadis itu menatap Reza dengan kesal lewat kaca di atas. Dan sang empunya malah menatap Ciama dengan dingin. Beberapa detik menatap mata sang kakak dari cermin, Reza lalu menatap Marcel yang kini masih focus menyetir di depannya. “Kak Marcel,” panggil Reza. “Iya?” “Orien siapa? Ini ada pesan dari Orien. Katanya malam ketemu sama Papanya bisa, kan? Soalnya malam Papa ada meet—“ Reza tidak melanjutkan lagi ucapannya karena Marcel yang langsung mengerem mendadak dan membuat ponsel yang digenggamnya jatuh ke bawah. Sama halnya dengan Reza, Ciama juga terkejut. Gadis itu menolehkan kepala ke arah Marcel yang kini mengetatkan rahangnya kesal. “Lain kali jangan baca pesan orang sembrangan! Kalau mau pakai, pakai aja seperlunya!” Desis Marcel seraya mengambil ponselnya yang tergeletak di bawah. Ciama yang tidak suka mendengar nada bicara Marcel pada Reza langsung membuka sabuk pengamannya dan memutar kunci mobil Marcel agar mesin mobil lelaki itu mati. Membuka pintu mobil, Ciama lalu keluar. Gadis itu memutar badan mobil guna membukakan pintu mobil Reza. “Ciama! Kamu mau ke mana?” Tanya Marcel yang melihat Ciama sudah ada di depan mobil dan berjalan menuju pintu belakangnya. Tak mau turun dari mobil, Marcel memilih membuka kaca mobil dan melihat Ciama yang sibuk membuka pintu mobil Reza. “Ci, kenapa? Kita sebentar lagi sampe di bandara—“ “Kalau emang gak mau diliat, jangan kasih hape Kakak ke Reza. Reza gak pernah dibentak sama orang lain. Makasih udah anter sampe sini,” ujar Ciama dengan nada kesal. Gadis itu menyeka air mata yang mulai turun dari pipi Reza dengan tangannya. “Nungguin Abang Rian gak papa, kan?” Tanya Ciama dengan nada lembutnya pada Reza. Sangat berbeda sekali saat berbicara dengan Marcel. Lelaki yang tengah duduk di depan itu langsung melepas sabuk pengaman dan turun melihat Ciama dan juga Reza yang akan turun dari mobil. “Ci, aku minta maaf. Aku—“ “Lebih baik temuin Kak Orien. Jangan buat aku jadi ngerasa beruntung deket sama Kakak dan ngerasa bahagia karena akhirnya Kakak milih aku. Sebenarnya siapa yang jadi prioritas Kakak sih?!” “Ci—“ “Kalau emang Kakak mau punya hubungan, jangan deketin Ciama. Hubungan Kakak bukan sama Ciama.” “Aku minta maaf. Tapi pertemuan sama orang tua Orien itu malam. Bukan sekarang. Aku udah bilang sama Orien,” ujar Marcel dengan tangan yang menahan agar gadis dengan dress biru tuanya itu tidak jadi pergi. “Aku sama dia gak ada janji jam—“ “9? Gak usah ngebohong, Kak! Kakak kira aku gak tahu kalau Kakak harusnya sekarang ke rumah Kak Orien? Harusnya Kakak sekarang ke sana, kan? Tapi Kakak milih antar aku—“ “Ciama, dengerin aku. Kami memang mau ketemu, tapi nanti malam. Iya, aku jujur tadinya mau ketemu sama dia sekarang, tapi gak jadi karena aku kebetulan ada urusan deket bandara jam setengah 11. Jadi aku sekalian antar kamu.” Ciama menghempaskan tangan Marcel yang masih mencekal tangannya dan memilih menelepon seseorang dengan asal. “Aku gak akan mau deketin orang yang udah punya status sama orang lain.” “Maksud kamu apa?” “Kakak gila, ya? Kakak udah punya hubungan sama Kak Orien! Kenapa masih deket sama aku?!” Bentak Ciama pada akhirnya. Gadis itu membuang wajah ke samping seraya menghubungi seseorang. “Halo? Jemput Ciama di belokan deket bandara sekaang, ya?” Pinta Ciama sebelum akhirnya memutuskan panggilan setelah mendapat jawaban. Gadis itu menatap mata Marcel. “Apalagi? Kakak masih mau di sini?” “ Aku gak paham sama apa yang kamu bilang. Hubungan kita adik-kakak aja, kan? Emang apa salahnya sama itu? aku jemput adik aku dan antar dia buat ketemu sama Mamanya. Di mana letak salahnya? Orien juga udah tahu kalau aku sama kamu gak ada hubungan apa-apa.” Ciama terdiam. Jadi status mereka memang hanya sampai di sana? “Ya. Seharusnya kaya gitu, kan? Jadi, Kakak pergi sekarang. Adik Kakak ini mau berangkat sendiri. Jadi, silahkan pergi dari sini.” “Aku gak bisa tinggalin kamu—“ “Kalau Kakak mau nurutin semua kemauan adik Kakak, sekarang pergi dari sini!” Marcel menelan salivanya seraya mengepalkan tangan. Lelaki itu lalu berbalik setelah menghela napas panjang. “Aku bakal diem di mobil sampe orang yang anter kamu sampe.” “Terserah!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN